Pixel Code jatimnow.com

Kisah Iin Sutiyani di PFL 2026: Lepas Tekanan Rentenir

Editor : Tim Jatimnow   Reporter : Ali Masduki
Salah satu nasabah PNM Mekaar, Iin Sutiyani. (Foto: PNM Mekaar for jatimnow.com)
Salah satu nasabah PNM Mekaar, Iin Sutiyani. (Foto: PNM Mekaar for jatimnow.com)

jatimnow.com - PNM Mekaar membawa 20 nasabah ultra mikro asal Yogyakarta masuk ke panggung Grand Final Pro Futsal League 2026 di tengah ribuan penonton yang memadati arena pertandingan.

Kehadiran mereka bukan sekadar aktivitas usaha, tetapi ruang baru bagi pelaku ekonomi kecil untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Di balik keramaian final liga futsal nasional tersebut, cerita tentang perjuangan ekonomi akar rumput ikut mengemuka.

Banyak pelaku usaha ultra mikro yang sebelumnya bergantung pada pinjaman harian dengan tekanan bunga tinggi, kini mendapat akses pembiayaan lebih terstruktur melalui pembinaan PNM Mekaar.

Kondisi tersebut kerap membuat pelaku usaha terjebak dalam siklus utang yang sulit diputus.

Pendapatan harian habis untuk membayar cicilan, sementara kebutuhan keluarga terus berjalan.

Baca juga:
PNM Dukung UMKM Mekaar Ikuti Bazaar di Pro Futsal League 2025 Seri Malang

Melalui program pemberdayaan, PNM menghadirkan ruang usaha di event nasional seperti PFL 2026 sebagai sarana memperluas pengalaman dagang sekaligus membuka akses pasar baru.

Salah satu nasabah, Iin Sutiyani, membagikan pengalaman panjangnya sebelum bergabung dengan program tersebut.

“Dulu, setiap hari rasanya seperti dikejar waktu. Bukan hanya memikirkan dagangan harus laku, tetapi juga tagihan pinjaman harian yang terus datang. Dengan kondisi suami yang sakit dan usaha kecil sebagai tumpuan keluarga, tekanan itu membuat langkah saya terasa berat. Setelah bergabung dengan PNM Mekaar, saya perlahan bisa mendapatkan akses modal yang lebih aman dan menata usaha dengan lebih tenang. Sekarang, bisa berjualan di Grand Final PFL 2026 menjadi kebanggaan tersendiri,” kata Iin.

Baca juga:
Tingkatkan Kualitas UMKM, PNM Sosialisasikan Pembuatan NIB Nasabah di Pamekasan

Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero), Kindaris, menyebut pemberdayaan tidak berhenti pada pemberian modal, melainkan membuka akses kesempatan yang lebih luas bagi perempuan pelaku usaha ultra mikro.

“Bagi perempuan ultra mikro, modal bukan sekadar uang. Modal adalah kesempatan untuk bernapas lebih lega, berdiri lebih kuat, dan melanjutkan perjuangan dengan harapan baru. Ketika mereka diberi ruang untuk tumbuh, yang bergerak bukan hanya usahanya, tetapi juga keluarga dan lingkungan sekitarnya,” ujar Kindaris.

Kehadiran 20 nasabah di arena Final PFL 2026 menjadi bagian dari upaya mempertemukan usaha kecil dengan pasar yang lebih besar, sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi akar rumput agar tidak kembali terjerat pembiayaan tidak sehat.