Pixel Code jatimnow.com

Delegasi Indonesia Dorong Perlindungan Pekerja di BRICS Trade Union Forum

Editor : Dadang Kurnia   Reporter : Ali Masduki
William Yani Wea dan Ditha Julieta, delegasi KSPSI AGN, menghadiri penutupan BRICS Trade Union Forum ke-15 di Hyderabad, India. (Foto: KSPSI AGN for jatimnow.com)
William Yani Wea dan Ditha Julieta, delegasi KSPSI AGN, menghadiri penutupan BRICS Trade Union Forum ke-15 di Hyderabad, India. (Foto: KSPSI AGN for jatimnow.com)

jatimnow.com - Delegasi Indonesia dari Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) AGN mengambil peran aktif dalam BRICS Trade Union Forum (TUF) ke-15 di Hyderabad, India. Forum yang berlangsung selama tiga hari dan berakhir pada 16 Juli 2026 itu menghasilkan tujuh poin deklarasi strategis sebagai arah perlindungan pekerja di tengah percepatan transformasi teknologi dan ekonomi global.

Mengusung tema "Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability", forum mempertemukan perwakilan serikat pekerja dari negara-negara BRICS untuk menyusun rekomendasi kebijakan ketenagakerjaan yang lebih adaptif terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI), ekonomi digital, hingga transisi menuju ekonomi hijau.

Delegasi KSPSI AGN, William Yani Wea, terlibat dalam pembahasan berbagai isu strategis, mulai dari dampak otomatisasi hingga perlindungan hak pekerja di era AI.

"Keterlibatan KSPSI AGN dalam perumusan kebijakan menjadi bagian dari upaya memastikan inovasi teknologi berjalan seiring dengan inovasi hukum dan sosial," ujar William Yani Wea dalam keterangannya, Jumat (17/7/2026).

Pria yang akrab disapa Willy itu menilai forum tersebut menjadi momentum penting untuk mendorong perubahan dunia kerja yang lebih inklusif.

Menurutnya, serikat pekerja harus mendapat ruang kelembagaan dalam mekanisme tata kelola BRICS agar aspirasi pekerja ikut menentukan arah kebijakan.

"Dialog sosial yang bermakna dan kerja sama tripartit yang efektif sangat penting agar pertumbuhan ekonomi benar-benar meningkatkan kesejahteraan pekerja," katanya.

Baca juga:
Indonesia Pimpin Sidang Pleno BRICS Trade Union Forum 2026 di India

Delegasi Indonesia lainnya, Ditha Julieta, menegaskan pekerja harus dilibatkan sejak awal dalam penyusunan kebijakan pengembangan kompetensi.

Menurutnya, kebijakan yang disusun bersama pekerja akan lebih efektif dibandingkan kebijakan yang lahir tanpa mendengar aspirasi mereka.

"Komitmen seluruh delegasi Indonesia dalam forum ini semakin memperkuat posisi tawar Indonesia untuk memperjuangkan hak-hak pekerja di tingkat internasional," ujar Ditha.

Pada penutupan forum, delegasi Indonesia kembali menegaskan pentingnya solidaritas antarserikat pekerja negara-negara BRICS untuk menghadapi tantangan global seperti otomatisasi, digitalisasi, dan krisis iklim.

Baca juga:
KSPSI AGN Bawa Kabar Gembira, Ojol Kini Punya Payung Hukum Global

"KSPSI AGN berkomitmen terus membawa aspirasi pekerja Indonesia ke forum internasional demi terciptanya keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan ekonomi," tutur Ditha.

Tujuh Deklarasi Strategis BRICS Trade Union Forum

Forum menghasilkan tujuh kesepakatan utama yang menjadi rekomendasi bagi negara-negara BRICS, meliputi:

  • Implementasi standar pekerjaan layak bagi pekerja platform digital sesuai Konvensi ILO 2026.
  • Pengembangan kecerdasan buatan yang tetap menempatkan manusia sebagai pengambil keputusan utama.
  • Penerapan pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning) untuk meningkatkan kompetensi pekerja.
  • Penguatan kesetaraan gender dan perlindungan perempuan di dunia kerja.
  • Perluasan jaminan sosial bagi pekerja formal, informal, migran, dan sektor nonstandar.
  • Penerapan Just Transition agar transisi menuju ekonomi hijau tidak mengorbankan pekerja.
  • Pembentukan mekanisme dialog sosial permanen antara BRICS dan serikat pekerja dalam proses pengambilan kebijakan ekonomi serta sosial.