Pixel Code jatimnow.com

Cegah Sampah ke Kali Tebu, Warga Kapasmadya Baru Didorong Mandiri

Editor : Ali Masduki   Reporter : Ali Masduki
Warga Kapasmadya Baru mendapat edukasi untuk memilah dan mengolah sampah organik sejak dari sumber. (Foto: Ecoton for jatimnow.com)
Warga Kapasmadya Baru mendapat edukasi untuk memilah dan mengolah sampah organik sejak dari sumber. (Foto: Ecoton for jatimnow.com)

jatimnow.com - Pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga terus didorong di Kota Surabaya. Melalui Program Kampung MOZAIK, Kader Surabaya Hebat (KSH) RW 08 Kelurahan Kapasmadya Baru mendapat edukasi untuk memilah dan mengolah sampah organik sejak dari sumber.

Kegiatan yang digelar di Balai RW 08 bersama ECOTON itu menyasar KSH di RT 01, RT 02, dan RT 03. Para kader dibekali pengetahuan sekaligus praktik pengelolaan sampah agar sampah rumah tangga tidak seluruhnya berakhir di tempat pemrosesan akhir.

Materi utama yang diberikan mencakup pemilahan sampah sejak dari rumah serta pengolahan sampah organik. Peserta juga diperkenalkan dengan ORBIN (Organic Bin), wadah yang digunakan untuk mengumpulkan sampah organik rumah tangga sebelum diolah lebih lanjut.

Selain ORBIN, ECOTON membagikan poster edukasi pemilahan sampah untuk ditempatkan di rumah. Media itu diharapkan membantu keluarga membangun kebiasaan memilah sampah secara konsisten.

Waste Prevention Manager ECOTON Tonis Afrianto mengatakan perubahan perilaku perlu dimulai dari lingkungan keluarga.

“Pemilahan sampah harus dimulai dari rumah. Melalui pendampingan KSH, penggunaan ORBIN, dan media edukasi keluarga, masyarakat diharapkan dapat membangun kebiasaan mengelola sampah secara mandiri dan konsisten,” ujar Tonis.

Peran KSH menjadi penting karena para kader tidak hanya menjadi peserta edukasi, tetapi juga diharapkan meneruskan pengetahuan kepada warga di lingkungannya.

Mereka didorong mendampingi keluarga untuk memisahkan sampah organik, material yang masih dapat didaur ulang, serta sampah residu yang tidak bisa dimanfaatkan kembali.

Baca juga:
Belajar Mikroplastik di Kali Tebu, Gibran Pertama Kali Pakai Mikroskop

Kader KSH RW 08 Suliani menilai keterlibatan warga menjadi kunci agar persoalan sampah tidak berhenti pada pengangkutan.

“Menurut saya, warga memang perlu diajak mandiri kelola sampah agar tidak terjadi tumpukan sampah. Sampah organik dikompos, yang bisa didaur ulang dijual, sedangkan residu ditaruh di tong sampah. Dengan begitu, kepedulian warga meningkat,” kata Suliani.

Dalam kegiatan itu, peserta juga mengikuti simulasi memasukkan sampah organik ke Sumur Komposter dengan menggunakan ORBIN. Praktik tersebut menjadi bagian dari upaya membiasakan warga menangani sampah organik sejak dari rumah.

Pengelolaan sampah di tingkat sumber diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang harus diangkut menuju tempat pemrosesan akhir (TPA) Benowo, Surabaya.

Baca juga:
Air Kali Surabaya Menghitam dan Berbusa, Mahasiswa Desak KLH Bertindak

Gerakan tersebut sekaligus diarahkan untuk mencegah warga membuang sampah sembarangan, termasuk ke Kali Tebu.

Dengan pengelolaan yang dilakukan bersama dari tingkat rumah tangga, RW 08 diharapkan dapat berkembang menjadi kawasan yang lebih mandiri dalam menangani sampah.

Program Kampung MOZAIK pada akhirnya tidak hanya berbicara soal memilah sampah, tetapi juga mendorong perubahan kebiasaan warga. Upaya itu diharapkan memperkuat kepedulian lingkungan sekaligus menjaga Kali Tebu tetap lestari.