Pixel Code jatimnow.com

Konferda GMNI Jatim Ricuh dan Erupsi Gunung Anak Krakatau

Editor : Bramanta  
Suasana Konferda GMNI Jatim yang sempat ricuh. (Foto: tangkapan layar)
Suasana Konferda GMNI Jatim yang sempat ricuh. (Foto: tangkapan layar)

jatimnow.com - Dua berita terkait Konferda GMNI Jawa Timur yang ricuh menjadi pilihan pembaca pada Minggu (6/9/2026). Ketua DPC GMNI Jember Abdul Aziz Al Fazri disebut mengalami luka pada bagian wajah setelah diduga dipukul menggunakan batu di tengah berlangsungnya persidangan. Muncul juga isu politik uang dan dugaan intervensi dalam pelaksanaan Konferda tersebut. Selain itu erupsinya Gunung Anak Krakatau juga menjadi pilihan pembaca.

Redaksi merangkum berita pilihan pembaca sebagai berikut.

Konferda GMNI Jatim Ricuh, Ketua GMNI Jember Luka di Wajah

Konferensi Daerah (Konferda) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Timur di Nganjuk diwarnai kericuhan dan dugaan kekerasan terhadap peserta, Minggu (6/9/2026). Ketua DPC GMNI Jember Abdul Aziz Al Fazri disebut mengalami luka pada bagian wajah setelah diduga dipukul menggunakan batu di tengah berlangsungnya persidangan.

Baca juga:
Konferda GMNI Jawa Timur Serta Kerjasama Unusa dan ITS

Anak Krakatau Meletus, Erupsi Terkuat Sepanjang Tahun Ganggu Penerbangan

Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi dengan erupsi besar yang terjadi pada Jumat (4/9/2026) malam. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat letusan berlangsung mulai pukul 23.07 WIB hingga Sabtu pagi, 5 September 2026, dengan durasi mencapai enam jam. Dalam laporan resmi, erupsi disertai dentuman keras, gemuruh, serta lontaran lava pijar yang terlihat jelas dari Pos Pantau Pasauran, Serang.

Baca juga:
Nama Pejabat yang Setor ke Bupati Tulungagung hingga Ansor Jatim Sentil PAN

Konferda GMNI Jatim Ricuh, Muncul Dugaan Politik Uang dan Intervensi

Konferensi Daerah (Konferda) DPD Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Timur versi Presidium Risyad Fahlefi di Kabupaten Nganjuk, Minggu (6/9/2026), berlangsung panas dan berujung kericuhan. Forum yang seharusnya menjadi momentum menentukan kepemimpinan dan arah organisasi itu diwarnai aksi kekerasan, dugaan persekusi terhadap peserta, hingga tudingan politik uang dan intervensi dari berbagai pihak.