jatimnow.com - TNI mengerahkan dua helikopter Caracal milik TNI Angkatan Udara untuk memantau sekaligus mengejar sisa kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) di wilayah Papua.
Operasi yang dipimpin langsung Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III Letjen TNI Lucky Avianto itu menyasar sejumlah kawasan pelosok, termasuk Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah.
Dalam patroli udara tersebut, Lucky didampingi Kepala Staf Kogabwilhan III Marsda TNI Joko Sugeng Sriyanto beserta sejumlah pejabat utama Kogabwilhan III.
Pemantauan dilakukan untuk mengetahui pergerakan kelompok OPM yang diduga bersembunyi di kawasan hutan, perbukitan, hingga lembah.
Intan Jaya menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena sebelumnya masuk kategori zona hitam OPM. Pada 25 September 2026, pasukan Yonif 315 Garuda bersama Tim Taipur Koops Habema terlibat kontak senjata dengan kelompok OPM di wilayah tersebut.
Menurut keterangan Lucky, informasi awal mengenai keberadaan kelompok itu diperoleh dari Badan Intelijen Negara (BIN). Bentrokan tersebut mengakibatkan empat anggota OPM tewas di lokasi kejadian.
Selain memimpin patroli udara, Lucky juga mendatangi sejumlah pos keamanan Satgas TNI Koops Habema yang tersebar di titik-titik kuat pertahanan di Intan Jaya.
Kunjungan itu sekaligus menjadi kesempatan untuk memberikan motivasi dan penghargaan kepada prajurit atas dedikasi serta keberhasilan menjalankan tugas menjaga kedaulatan negara dan melindungi masyarakat.
Baca juga:
Sukses Libas OPM, Pasukan Gurita Sakti Kembali ke Surabaya
Di tengah operasi keamanan, Kogabwilhan III juga menggelar kegiatan sosial bersama warga Distrik Hitapida yang tinggal di sekitar pos-pos TNI.
Berbagai kegiatan dilakukan, mulai dari makan bersama, pelayanan kesehatan dan pengobatan massal gratis, pembagian sembako, hingga pemberian hewan ternak untuk dibudidayakan masyarakat.
Lucky menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari pendekatan persuasif TNI melalui pelayanan masyarakat dan dukungan pembangunan daerah.
Pendekatan itu diharapkan dapat membangun kepercayaan warga sekaligus mendorong pimpinan, anggota, maupun simpatisan OPM untuk meninggalkan kelompoknya dan kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Baca juga:
Operasi Senyap, Marinir Bekuk Pimpinan OPM Matius Aisasior dan Pasukan
Meski mengedepankan pendekatan sosial, Lucky menegaskan TNI tetap akan mengambil tindakan tegas apabila diperlukan. Setiap tindakan, kata dia, harus terukur dan berlandaskan hukum serta ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
"Sejalan dengan upaya persuasif yang senantiasa kami kedepankan dalam menangani OPM, prajurit TNI tidak akan pernah ragu mengambil tindakan tegas dan terukur sesuai hukum, peraturan, dan perundang-undangan yang berlaku serta Rules of Engagement (ROE)," kata Lucky.
Ia menegaskan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama dalam setiap pelaksanaan tugas prajurit di Papua.
"Pasukan akan mengedepankan keselamatan rakyat sebagai hukum tertinggi, Salus Populi Suprema Lex Esto," tutupnya.