Tulungagung - Ratusan nelayan tradisional di Pantai Sine, Desa Kalibatur, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, menggelar upacara adat labuh laut. Upacara ini digelar setahun sekali, setiap Hari Jumat Kliwon atau Pon Bulan Selo dalam sistem kalender Jawa. Mereka menggelar upacara tersebut sebagai bentuk syukur atas hasil tangkapan ikan di laut selama ini.
Ritual tradisi ini diawali dengan kenduri bersama. Para nelayan dan warga setempat berdoa bersama dengan ragam sesaji yang sudah disiapkan. Setelah itu mereka mengarak sesajen dan harip-harip atau sembonyo.
Harip-harip ini merupakan boneka ikan yang terbuat dari tepung dan kacang hitam. Masyarakat kemudian membentuk adonan tepung ini menyerupai ikan lengkap dengan mata. Setelah prosesi arak-arakan, mereka lalu melarung sesaji ke laut dan melemparkan harip-harip di sepanjang pantai sambil meneriakkan ragam ikan laut yang biasa mereka tangkap.
Baca juga: Atraksi Ritual Budaya Banyuwangi Bakal Sambut Wisatawan di Libur Lebaran
Baca juga: Bupati Tulungagung Boyongan ke Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bangsa
Jaiman, Ketua Panitia Labuh Laut menerangkan, tradisi ini sudah dilakukan oleh nelayan sejak zaman dulu. Selama prosesi Labuh Laut berlangsung, nelayan diimbau tidak melakukan aktivitas melaut. Mereka diminta untuk fokus mengikuti upacara adat tersebut.
"Tradisi Labuh Laut adalah momentum yang tepat sebagai ungkapan rasa syukur dan terimakasih atas hasil tangkapan ikan nelayan selama ini," ujarnya, Jumat (3/6/2022).
Baca juga: Grebeg Gunungan di Sidoarjo Disusupi Copet, 40 Warga Kehilangan HP dan Dompet
Pelemparan harip-harip ke laut juga mempunyai makna tersendiri. Setiap melempar ke laut, nelayan menyebut beberapa jenis ikan seperti layur dan tongkol. Mereka berharap tangkapan ikan akan bertambah setiap melaut. Selain melakukan ritual tersebut, mereka juga menggelar Wayang Krucil di tepi pantai.
"Ke depannya kita berharap upacara adat Labuh Laut ini bisa menjadi destinasi wistawan," pungkasnya.