Noviana, Mantan Pengamen Jalanan Peraih Wisudawan Terbaik FH Unair

Editor: Sandhi Nurhartanto / Reporter: Farizal Tito

Noviana menjadi wisudawan terbaik FH Unair

jatimnow.com - Lahir dari keluarga miskin tidak membuat Noviana berkecil hati. Sejak masih duduk di taman kanak-kanak (TK), ia mengamen.

Kini Noviana berhasil lulus kuliah cum laude dan menjadi wisudawan terbaik S1, Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga (Unair) setelah mendapat bantuan mantan Wali Kota Surabaya, Bambang DH (BDH).

Sebelum matahari menyengatkan panasnya, setiap hari Noviana kecil mengikuti dua kakaknya berjalan ke perempatan Ngagel Jaya. Di pinggir jalan yang tidak jauh dari rumahnya ini, tiga saudara tersebut mengamen hingga sore hari.

Pilihan mengamen bermula ketika kedua orangtua Noviana sakit keras. Saat itu, dua kakaknya mencoba untuk mengadu nasib di jalanan.

Upaya ini kemudian diikuti oleh saudara-saudarinya yang lain. Larangan orangtua mereka tidak mampu membendung tekad Noviana beserta seluruh saudaranya dalam membantu perekonomian keluarga.

"Akhirnya, bapak memperbolehkan kami mengamen dengan catatan sekolah tetap yang utama. Jangan dijadikan sumber penghasilan hingga dewasa. Bahkan, ibu dan bapak setia mengawasi kami saat mengamen. Selain itu, mereka juga sangat disiplin terkait pendidikan. Di sela-sela mengamen kami tetap mengerjakan tugas," kata Noviana setelah di wisuda bersama 3635 wisudawan lain di gedung ACC Unair, Jumat (6/9).

Berbagai risiko di jalanan pun sudah dicecapnya. Termasuk diciduk oleh Satpol PP Kota Surabaya karena tertangkap mengamen di perempatan jalan.

"Takut tentu saja. Saat itu saya 'dicakup' Satpol PP," ujar Noviana yang pernah meraih emas di cabang olahraga panahan saat SMP ini.

Siapa sangka, kejadian tersebut malah membawanya ke jalan menuju kesuksesannya saat ini. Diceritakan Novi, saat dikumpulkan bersama anak jalanan, pengemis dan gelandangan dia didatangi oleh sosok yang kemudian mau memberikan beasiswa sekolah hingga lulus saat ini.

"Awalnya saya tidak tahu siapa orang itu. Saat menemui saya dia minta saya untuk berhenti ngamen. Kala itu saya masih duduk di bangku kelas 5 SD," ujar gadis yang mengenyam pendidikan menengah pertama di SMPN 23 Surabaya ini.

Bila gadis sepantarannya merasa takut, Novi memberanikan diri untuk berbicara dengan orang tersebut. Dia berjanji tidak ngamen lagi dengan syarat dia bisa sekolah terus sesuai cita-cita dan ayahnya bisa bekerja lagi.

Bambang DH pun mengabulkan permintaan Novi, bahkan membantu sang ayah agar bisa bekerja lagi. Pasalnya, setelah jatuh saat menarik becak, penglihatan sang ayah diakui menurun. Jadi untuk bekerja jadi tukang becak lagi tidak mungkin.

Jejak manis pun mulai dirajut oleh Novi, hingga dia berhasil masuk jalur undangan di FH Unair. Selama kuliah, Noviana berusaha untuk tidak merepotkan keluarganya.

Berbagai upaya dia lakukan guna memenuhi kebutuhan perkuliahan, seperti berdagang barang, menjadi pelatih olahraga panah di salah satu klub memanah Surabaya, sampai menjajal magang di Unit Konsultasi dan Bantuan Hukum (UKBH) FH UNAIR demi menambah pengalaman.

"Saya juga pernah mengikuti pelatihan paralegal di Surabaya Children Crisis Center (SCCC). Yakni, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang ditujukan bagi anak yang berhadapan dengan hukum," kata alumnus SMAN 9 Surabaya itu.

Saat berada di semester lima, Noviana menerima beasiswa perusahaan Chaeron Pokphand Indonesia yang menunjang pendidikannya hingga akhir perkuliahan.

Skripsi berjudul Pengadaan Barang atau Jasa Pada Badan Layanan Umum mengantarkan Noviana meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebesar 3,94. Kini, putri pasangan Sutrisno dan Karyatiningsih itu tengah melanjutkan karirnya disebuah kantor advokat.

"Ke depan, saya ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang magister lalu mendaftar sebagai hakim. Tips bagi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan adalah restu orangtua, konsisten, berkomitmen serta manajemen waktu. Nikmati setiap proses yang dilalui agar tidak merasa berat dan jangan lupa selalu berbagi," tukasnya.

Rektor Unair, Prof Mohammad Nasih berharap agar setelah menyelesaikan studi para wisudawan dapat menuai keberhasilan dan kesuksesan di bidang ilmu masing-masing.

"Untuk berhasil diperlukan effort yang luar biasa, kerja keras, dan kontribusi dari semua pihak. Kondisi yang kita hadapi saat ini telah mengalami banyak perubahan, itu menjadi tantangan bagi kita semua," katanya.

Selain itu, Nasih menyebutkan, ada tiga kunci keberhasilan dalam hidup. Yaitu, memikirkan peran setelah lulus, mengadopsi identitas baru, dan menciptakan inovasi baru. Serta, menjadi sosok yang kontributif dan memberi nilai-nilai bagi kehidupan orang lain.

"Identitas baru saudara adalah menjadi pelopor, menjadi leader. Jangan hanya menjadi follower. Unair tidak pernah menghasilkan pecundang-pecundang tapi melahirkan pemenang," tandasnya.


jatimnow.com menyajikan pemberitaan di daerah Jawa Timur dan sekitarnya, menyajikan berita yang dikemas dengan apik tanpa mengabaikan nilai-nilai jurnalisme.

Jalan Jimerto No. 17a Surabaya

Call:  (031) 99248116

Email: jatimnow@gmail.com

Newsletter