Pixel Code jatimnow.com

Melihat Tradisi Serba Jawa di Ponpes Tawangsari Tulungagung

Editor : Narendra Bakrie   Reporter : Bramanta Pamungkas
Para santri Madrasah Diniyah Zumrotus Salamah di Pondok Pesantren Tawangsari, Tulungagung menggunakan pakaian adat Jawa saat belajar
Para santri Madrasah Diniyah Zumrotus Salamah di Pondok Pesantren Tawangsari, Tulungagung menggunakan pakaian adat Jawa saat belajar

jatimnow.com - Madrasah Diniyah Zumrotus Salamah di Pondok Pesantren Tawangsari, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Tulungagung mempunyai tradisi unik. Mereka mewajibkan santrinya untuk mengenakan pakaian adat Jawa, lengkap dengan blangkon.

Pengasuh Madarasah Diniyah Zumrotus Salamah, Abdillah Subkhi menuturkan, penggunaan pakaian adat Jawa itu merupakan upaya pengurus madrasah, agar para santri tidak lupa jati dirinya sebagai masyarakat Jawa.

Abdillah menambahkan, penggunaan pakaian adat Jawa ini sudah dilakukan sejak empat tahun lalu. Para santri diajak untuk mempunyai rasa memiliki dan bangga terhadap kebudayaan serta tradisi masyarakat Jawa.

"Mereka dilibatkan dalam rangka melestarikan tradisi dan budaya, dengan mengenakan pakaian adat ini. Kebijakan ini merupakan bentuk arahan kepada santri untuk menumbuhkan rasa ikut memiliki kebudayaan Jawa," ujar Abdillah, Rabu (23/10/2019).

Baca juga:
Foto: Menjaga Nafas Para Santri, Cek Kesehatan Gratis di Pondok Pesantren

Para Siswa Madrasah Diniyah Zumrotus Salamah di Pondok Pesantren Tawangsari, Tulungagung menggunakan pakaian adat JawaPara Siswa Madrasah Diniyah Zumrotus Salamah di Pondok Pesantren Tawangsari, Tulungagung menggunakan pakaian adat Jawa

Meski bergitu, materi yang diajarkan di madrasah ini, tidak berbeda dengan lainnya. Selain baca tulis Al Quran, sejumlah kitab klasik seperti Taklimut Mutaalim dan Aqidatul Awam, juga diajarkan. Yang membedakan yaitu proses menyamaikan materi, yaitu guru atau ustaz menggunakan bahasa Jawa.
"Percakapan antara santri dan guru juga menggunakan Bahasa Jawa. Mereka dilarang untuk menggunakan bahasa lain. Jadi pengenalan terhadap jati diri mereka, kita ajarkan sejak dini, sehingga saat sudah dewasa, mereka tidak kehilangan jati dirinya sebagai masyarakat Jawa," tambahnya.

Baca juga:
KSP Tinjau CKG di Ponpes Gresik, Skrining Kesehatan Santri Diperkuat

Penggunaan pakaian adat Jawa itu, dirasa oleh santri tidak merepotkan. Meski terlihat sedikit ribet, mereka mengaku nyaman mengenakan pakaian tersebut.

"Selain bisa belajar ilmu agama, kita juga ikut serta melestarikan budaya Jawa," ungkap salah satu santri, Muhammad Millahul Barik.

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan
Catatan atas Kasus Viral “Pramugari” Khairun Nisa

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan

Kisah viral tentang seorang perempuan muda yang berpura-pura menjadi pramugari Batik Air justru membuka lapisan persoalan yang jauh lebih dalam