Opini

E-Voting dan Literasi Teknologi

Editor: Redaksi / Reporter:

Diana AV Sasa

jatimnow.com - Ada kabar yang menggembirakan setelah 184 desa di Kabupaten Magetan, Jawa Timur menggelar pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak pada pekan terakhir November 2019.

Untuk pertama kali menggunakan teknologi electronic voting (e-voting) dalam sistem pilkades, mulai dari proses verifikasi, pencoblosan, hingga perhitungan suara.

Tentu tidak semua desa, tetapi ini praktik yang menarik. Bagaimana praktik teknologi masuk desa bisa lewat pintu apa saja. Salah satunya lewat jalan politik.

Kabar baik dari Magetan adalah pemandangan yang mulus keberterimaan warga desa yang kerap mendapat stigma tidak melek literasi teknologi. Mereka bisa adaptif atas perubahan kebiasaan mereka dalam menyelenggarakan sistem kerja politik seperti pilkades ini.

Percobaan dari sistem Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) itu tentu sudah dicoba di desa-desa lain. Setidaknya, sudah 981 desa di 18 kabupaten di seluruh Indonesia memakai sistem pemilihan berbasis teknologi ini. Dari Riau, Brebes, hingga Bantaeng.

Apa yang hendak saya sampaikan di sini?

Teknologi itu ada untuk memudahkan pekerjaan manusia, bukan merampas sesuatu yang sebelumnya baik. Teknologi memutus mata rantai beberapa tahapan kerja yang membuat manusia bisa melakukan kerja lain.

Bayangkan, jam 3 sore, petugas KPPS sudah mengumumkan hasil hitungan suara dan masyarakat langsung bisa melihat hasilnya.

Watak teknologi memang seperti itu. Memudahkan dan mengefisienkan pekerjaan. Di alam politik, jauh sebelum e-voting, kita sudah bisa menerima apa yang disebut dengan quick count, sebuah sistem perhitungan suara awal untuk mengetahui lebih cepat siapa yang menang dan siapa yang kalah. Masyarakat pun akrab dengan kosa kata quick count itu dalam praktik politik mereka.

Eksperimen menggunakan pengetahuan baru dan teknologi baru dalam politik saya sebut dengan literasi teknologi. Literasi jenis ini adalah kemampuan mengoperasikan teknologi untuk membantu praktik kehidupan sehari-hari.

Kemampuan para pedagang di pasar mengoperasikan kalkulator dan timbangan, misalnya, merupakan praktik literasi teknologi. Lebih tepatnya, teknologi tepat guna.

Di dunia pertanian, sudah banyak desa beralih ke teknologi pengolahan tanah hingga panen dengan menggunakan teknologi terkini yang memungkinkan tenaga petani bisa dihemat untuk kegiatan produktif lainnya. Itu juga adalah bagian dari literasi teknologi.

Literasi teknologi, seturut Maryland Technology Education State Curriculum, kemampuan dalam memakai, memahami, menata, dan menilai inovasi yang melibatkan proses dan ilmu pengetahuan untuk memecahkan soal hidup dan memperluas kemampuan seorang individu. Di literasi jenis ini, ada timbal balik antara pemahaman atas sains, ekologi, dan teknologi.

Termasuk, kemampuan untuk mengevaluasi kerja dan membuat suatu keputusan secara cepat.

Artinya, literasi teknologi bukan sekadar memberikan alat, tools. Ia harus bisa tepat guna dan mengefesienkan pekerjaan. Jika merepotkan, bukan tepat guna namanya, melainkan salah guna. Teknologinya benar, tetapi salah tempat.

Pemakaian telepon seluler berbasis teknologi terbaru bisa jadi malah kontraproduktif, bikin produktivitas terhambat, jika tidak disertai kesadaran untuk apa dan apa saja manfaat alat itu untuk menunjang kemudahan hidup kita.

Misalnya, smartphone bisa menunjang kegiatan belajar dan mengajar siswa dan guru dengan melakukan pembatasan tertentu.

Oleh karena itu, literasi teknologi adalah ikhtiar memperkenalkan teknologi sebagai sahabat yang membuat hidup lebih berarti, produktif, dan kreatif.

Teknologi terkini, dengan ketersediaan infrastruktur listrik dan kabel internet yang sulur-sulurnya sudah sampai merambah ke desa-desa, menjadi bagian tak terelakkan dalam kehidupan masyarakat kita hingga dalam hulu pertamanya: keluarga.

Mustahil kita menolak penetrasi itu. Yang dilakukan adalah proses edukasi bagaimana bijak mempergunakan dan memanfaatkan teknologi hingga alih-alih menjadi monster yang mengalienasikan, melainkan sahabat dalam berproduksi untuk kehidupan lebih baik. Literasi teknologi, dengan demikian, menjadi sesuatu yang urgen.

E-voting adalah salah satu cara kita menilai bagaimana literasi teknologi itu sedang bekerja dalam politik masyarakat desa. Ternyata, lepas dari segala kekurangannya, praktik politik pilkades e-voting merupakan jalan baru dan awal betapa teknologi adalah sahabat warga.

Sebagaimana teknologi awal memasuki rumah-rumah petani di desa, seperti cangkul, alat bajak, sistem irigasi, pengolahan hasil panen, dan seterusnya mengikuti temuan-temuan inovasi terbaru manusia.

 

Penulis: Diana AV Sasa, Pegiat Literasi dan anggota DPRD Jawa Timur dari PDI Perjuangan 2019-2024

Loading...

jatimnow.com menyajikan pemberitaan di daerah Jawa Timur dan sekitarnya, menyajikan berita yang dikemas dengan apik tanpa mengabaikan nilai-nilai jurnalisme.

Jalan Jimerto No. 17a Surabaya

Call:  (031) 99248116

Email: jatimnow@gmail.com

Newsletter