jatimnow.com

Sederet Upaya Pemkab Ponorogo Antisipasi Banjir hingga Longsor

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Mita Kusuma
Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni 🔍
Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni

jatimnow.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo sudah melakukan pemetaan titik-titik wilayah yang berpotensi atau rawan terjadi bencana hidrometeorologi, bencana akibat angin kencang dan hujan.

"Ada 57 titik rawan bencana hidrometeorologi di Ponorogo. Semua sudah kita petakan, kita antisipasi untuk meminimalisir bencana," kata Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, Kamis (2/12/2020).

Bupati Ipong menjelaskan, meski titik-titik yang sudah dipetakan sangat rawan, tetapi dari catatan pemkab, bencana yang terjadi tidak masuk dalam kategori membahayakan.

Loading...

"Seperti longsor di Banaran, itu kan sekali terjadi. Yang lumayan dampaknya adalah banjir. Karena meskipun tidak ada korban jiwa, tapi korban harta tercatat banyak sekali," ungkapnya.

Menurut Bupati Ipong, Pemkab Ponorogo sudah melakukan pengerukan sungai, pemasangan alat Early Warning System (EWS) maupun persiapan personel BPBD untuk mengantisipasi terjadinya bencana banjir maupun longsor.

"EWS kami cek kembali, agar bisa berfungsi seperti sedia kala. Karena memang perlu untuk peringatan dini," tambahnya.

Sementata untuk pendanaan, Bupati Ipong menyebut bahwa dana on call untuk tahun 2019 dengan besaran Rp 5 miliar.

Sebelumnya, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi di Jawa Timur. Keputusan itu ditetapkan melalui SK No. 188/650/KPTS/013/2019 tertanggal 16 Desember 2019.

Waktu siaga darurat ditetapkan selama 150 hari sejak ditandatangani dan berlaku untuk 37 Kabupaten/Kota. Beberapa di antaranya adalah Kabupaten Ngawi, Pacitan, Madiun, Ponorogo, Magetan, Trenggalek, Blitar, Nganjuk, Bojonegoro, Tuban dan Mojokerto.