Pixel Code jatimnow.com

36 Anak Nakes Covid-19 di Ponorogo Masuk SMP Negeri

Editor : Sandhi Nurhartanto   Reporter : Mita Kusuma
PPDB SMP di Ponorogo
PPDB SMP di Ponorogo

jatimnow.com - Sebanyak 36 anak tenaga kesehatan (nakes) yang bekerja di rumah sakit rujukan Covid-19 mendapat fasilitas khusus dalam PPDB tingkat SMP negeri di Ponorogo.

34 anak menjadi calon siswa di SMPN 1, 2, 3, 4, 5, 6 dan SMP Jetis yang merupakan sekolah favorit di Kota Ponorogo. Sedangkan 2 anak lainnya mendaftar di MTS dan SMP pinggiran.

Baca juga: Ponorogo Beri Kuota Khusus Masuk SD/SMP Negeri bagi Anak Tenaga Medis

Kabid Pembinaan SMP Kabupaten Ponorogo, Dindik Soiran mengatakan pihaknya menyiapkan 88 pagu untuk anak nakes yang ingin sekolah di SMP negeri.

"Pagu yang kami siapkan 88. Namun yang mendaftar dari jalur nakes ada 36 anak saat PPDB tingkat SMP tahun ajaran 2020/2021," katanya, Selasa (23/6/2020).

Baca juga:
Tak Penuhi Pagu, PPDB SDN di Ponorogo Jalur Offline Dibuka

Selain di sekolah yang telah direkomendasi, anak nakes juga bebas memilih sekolah mana saja se-Ponorogo. Pada sekolah yang direkomendasi, pagunya lima persen di masing-masing sekolah.

‘’Contohnya di SMPN 1 Ponorogo. Pagu di SMPN 1 ada 288. Lima persen dari itu ada 14 kursi yang khusus untuk anak nakes,’’ terangnya.

Jika anak nakes tidak ingin mendaftar di tujuh sekolah rekomendasi tersebut, maka bisa bebas memilih di sekolah mana saja yang diinginkan. Termasuk sekolah di bawah naungan kementerian agama (kemenag).

Baca juga:
Ratusan Orangtua Siswa Protes Pelaksanaan PPDB SMP Negeri di Surabaya

‘’Syarat utamanya menyertakan surat keterangan dari dinas kesehatan yang menyatakan sebagai putra putri nakes Covid-19,’’ sebut Soiran.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo memberikan jalur khusus bagi anak tenaga medis mulai dari dokter hingga sopir ambulans dari rumah sakit rujukan Covid-19 untuk memilih sekolah negeri tingkat SD dan SMP.

Mencari Pemimpin Millenial untuk Surabaya
Jatim Memilih, Politik

Mencari Pemimpin Millenial untuk Surabaya

"Millenial perlu ruang, dan pengetahuan politik. Mereka butuh sosialisasi sehingga bisa memilih pemimpin yang tepat," ucap mantan Ketua PSI Surabaya, Erick Komala.