Pixel Code jatimnow.com

Kisah Maling dan Ilmu Sirep yang Membuatnya Bertobat

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Irul Hamdani
Ilustrasi seorang pria sedang menulis cerita/jatimnow.com
Ilustrasi seorang pria sedang menulis cerita/jatimnow.com

jatimnow.com - Di tengah masyarakat sering bersliweran cerita soal ilmu sirep, ilmu yang mampu membuat siapapun tertidur pulas. Sayangnya, ilmu sirep ini selalu dikaitkan dengan peristiwa pencurian atau aksi kejahatan lainnya.

Lantas benarkah ilmu sirep memang dipakai para pencuri untuk memuluskan aksinya?

Sebut saja namanya Keling. Laki-laki yang tinggal di salah satu desa tepian hutan di Banyuwangi Selatan itu sebelumnya adalah seorang maling yang licin. Itu karena dia mengaku memiliki ilmu sirep.

"Saya diajari seseorang. Saya tidak minta waktu itu. Karena penasaran akhirnya saya mau," ucap Keling memulai ceritanya kepada jatimnow.com, di penghujung Agustus 2020.

Pria berperawakan kurus itu menyebut bahwa ilmu sirep yang dimilikinya sangat mudah dipelajari. Menurutnya, siapapun pasti bisa menguasai. Modalnya yaitu keyakinan yang kuat dan dibutuhkan nyali serta disiplin yang tinggi.

"Karena pada prakteknya, ilmu sirep akan berfungsi di waktu yang tepat dan berani menanggung risiko magisnya," ungkapnya.

Dia menyebutkan, acap kali selesai menggunakan ilmu sirepnya untuk beraksi, ada semacam tebusan yang diminta ilmu sirep itu sendiri. Paling sering Keling harus rela tidak tidur untuk beberapa hari ke depan.

"Tidak bisa tidur sampai beberapa hari, saya juga tidak tahu kenapa seperti itu. Kesehatan badan yang terganggu," ungkapnya lagi sambil tertawa kecil.

Ilmu sirep juga bisa membius hewan, seperti anjing, kambing, sapi dan hewan lainnya. Dari kondisi terjaga lalu mendadak terbius dalam waktu singkat.

"Dulu, jika lokasi yang akan saya masuki ada anjing penjaga, maka otomatis anjingnya dulu kena sirep," jelas pria berkulit hitam ini.

Pernah, lanjut Keling, saat pertama kali menggunakan ilmu sirep, dia menyasar sebuah perkantoran yang di halaman depannya berkeliaran tiga ekor anjing dan sejumlah orang penjaga.

"Saya ingat betul pertama kali menggunakan sirep di sebuah kantor. Anjing-anjing yang semula menggonggong keras tiba-tiba tertidur setalah saya sirep," kenangnya.

Kata Keling, hal yang sama juga terjadi pada dua orang penjaga yang berada di pos keamanan. Para penjaga yang semula terlihat duduk menonton televisi, ternyata sudah tidur dalam posisi duduk di kursi masing-masing.

"Saya lantas bebas masuk ke dalam, tapi hanya memeriksa memastikan jika ilmu sirep berhasil saya kuasai. Karena memang mau ngetes ilmu saja," kenangnya lagi pada cerita yang sudah puluhan tahun berlalu.

Lambat laun Keling sadar jika dia sebenarnya tidak menguasai ilmu sirep. Namun dikuasai oleh ilmu sirep. Sebab ilmu sirep telah membuatnya menabrak moral dan hukum yang merugikan orang lain. Dia pun bertobat dan tak pernah lagi mencuri.

"Ilmu apapun jika membuat kita tidak baik kepada orang lain maka sebetulnya kita yang kalah," cetusnya yang seolah menyesali masa lalunya.

Semenjak itu, Keling enggan untuk menggunakan ilmu sirepnya atau bahkan mewariskan ilmu itu kepada orang lain. Dan bahkan berhenti melakukan pencurian meski situasi ekonomi sedang sulit.

"Awalnya sulit untuk tidak mencuri, tapi saya bisa meninggalkannya. Lah saya pikir mencuri juga tidak membuat saya kaya," pungkasnya.