Pixel Code jatimnow.com

Semburan Gas di Pekanbaru Rusakkan Bangunan Ponpes

Editor : REPUBLIKA.co.id   Reporter : REPUBLIKA.co.id
Lokasi semburan lumpur dan abu di kawasan Pondok Pesantren Al-Ihsan, Kota Pekanbaru, Riau (Foto-foto: Antara/FB Anggoro via Republika)
Lokasi semburan lumpur dan abu di kawasan Pondok Pesantren Al-Ihsan, Kota Pekanbaru, Riau (Foto-foto: Antara/FB Anggoro via Republika)

jatimnow.com - Semburan gas bumi di Kecamatan Tenaya Raya, Kota Pekanbaru, Riau, selama dua hari terakhir, belum juga berhenti.

Bahkan, semburan tampak makin parah dan merusak fasilitas Pondok Pesantren Al-Ihsan di daerah tersebut. Areal kompleks Pondok Pesantren Al-Ihsan kini diselimuti lumpur, pasir, dan abu berwarna kelabu.

Bangunan utama seperti asrama santri, ruang guru, kantin, ruang kelas, dan aula rusak berat karena gumpalan lumpur yang mengeras terlontar dari sumur menghujam atap hingga berlubang. Tanah di sekitarnya juga penuh dengan lumpur yang lengket.

"Kira-kira setelah shalat Isya pada Kamis malam, semburan semakin parah berupa gumpalan tanah besar-besar, seperti terjadi hujan batu suaranya sangat ribut. Karenanya gedung-gedung sampai rusak seperti ini," kata seorang guru Ponpes Al-Ihsan Khairudin Damanik, Jumat (5/2).

Insiden semburan gas berawal ketika pengelola Ponpes Al-Ihsan mempekerjakan penggali sumur untuk mencari sumber air di kompleks tersebut.

Kecamatan Tenayan Raya merupakan daerah yang sulit mendapatkan sumber air dari sumur artesis, sehingga masyarakat di sana harus mengebor tanah hingga puluhan bahkan lebih dari 100 meter.

"Saat proses penggalian mencapai sekitar 119 meter pada Kamis (4/2) sekitar pukul 14.00 Wib, tiba-tiba dari lubang sumur menyembur keluar gas hingga ketinggian 15 meter," ujarnya.

Puluhan santri Pondok Pesantren Al-Ihsan Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, telah diungsikan akibat semburan gas bumi tersebut.

Khairudin mengatakan, awalnya semburan hanya berupa gas dan abu, namun pada malam hari juga terlontar berupa material keras yang menghancurkan bangunan Ponpes.

"Semburan itu berlangsung sampai hampir tengah malam. Setelah itu mereda, dan pada Jumat subuh keluar pasir hitam dan paginya semburan gas telah bercampur lumpur," katanya.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Riau Indra Agus Lukman mengatakan, pihaknya masih memantau kondisi karena tidak bisa begitu saja langsung menutup semburan gas yang masih cukup kuat.

Baca juga:
Warga Pemekasan Ngebor Sumur Keluar Air Bercampur Gas, Awas Bahaya Jangan Mendekat!

"Yang kita lakukan saat ini adalah mitigasi, yakni santri dan masyarakat di sekitar sini dipindahkan dan melarang warga lainnya untuk mendekat," katanya.

Dia mengatakan, untuk upaya penanggulangan insiden semburan gas akan dilakukan oleh tim terpadu yang terdiri dari pemerintah daerah, SKK Migas Sumbagut, dan perusahaan gas EMP Bentul Ltd.

Sementara itu, Act Area Manager EMP Bentu Ltd. Zulfan mengatakan, semburan gas itu tidak ada hubungannya dengan fasilitas dan sumur Gas EMP Bentu.

Titik semburan gas berjarak 180 meter dari pipa gas EMP Bentu, dan berjarak satu kilometer dari sumur gas EMP Bentu. Pengeboran terakhir pada tahun 2004, dan produksinya berakhir pada 2013.

"Berhubung lokasi tersebut tidak jauh dari EMP Bentu, maka pihak EMP Bentu sudah berkoordinasi dengan ESDM Provinsi Riau untuk membantu dengan melakukan tindakan," katanya.

Petugas EMP Bentu di lokasi tersebut, lanjutnya, membantu mengukur konsentrasi Lower Explosive Limit (LEL) dan H2S di lokasi semburan.

Baca juga:
Sumur Tua Pertamina di Indramayu Semburkan Gas dan Api Setinggi 5 Meter

"Gas tersebut berpotensi terbakar jika terpicu dan juga beracun," katanya.

Pihaknya telah menginstruksikan kepada pengelola Pondok Pesantren Al-Ihsan agar mengisolasi area semburan dan melarang siapapun mendekat, dan pihak EMP Bentu telah memasang barikade dan memonitor LEL dan H2S secara periodik per enam jam.

 

Lihat Artikel Asli

DisclaimerBerita ini merupakan kerja sama jatimnow.com dengan Republika.co.id. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Republika.co.id