jatimnow.com
Cerita Para Kader Gerindra Perjuangkan Nasib Para Nakes di Jatim

Diskusi Kamisan Season 5 Gerindra Jatim digelar secara virtual

jatimnow.com - Kesejahteraan para tenaga kesehatan (nakes) menjadi perhatian khusus DPD Partai Gerindra Jawa Timur. Sebab selama Pandemi Covid-19, banyak nakes meregang nyawa karena terpapar hingga pencairan insentif yang sempat molor.

Diskusi Kamisan Season 5 yang digelar virtual pada Kamis (29/7/2021), Gerindra Jatim melalui kanal YouTubenya mengusung tema 'Kesejahteraan Nakes Sebagai Prioritas'.

Dipandu host dari Wakil Sekretaris Gerindra Jatim Halimur Rosyid, diskusi publik kali ini mengundang sederet tokoh dari dunia kesehatan seperti Owner Rumah Sakit (RS) Sheila Medika yang sekaligus anggota IDI Sidiarjo dr Benjamin Kristianto.

Juga Direkrur Utama Rumah Sakit (RS) Fatma Medika Gresik dr Asluchul Alif serta Wakil ketua Komisi D (Bidang Kesra) DPRD Surabaya Ajeng Wirawati.

Dalam sambutannya, dr Menjamin menyebut, saat ini perhatian publik seolah terkecoh dengan nuansa ketakutan akibat Pandemi Covid-19, hingga lupa dengan pemeran utama penanganan Covid-19 itu sendiri.

Menurutnya, pemerintah dibuat sibuk dengan membuat aturan pembatasan sosial, ditambah masyarakat yang fokus untuk mencari celah memutar aktivitas ekonomi, sehingga lupa dengan peran para nakes.

"Kami para nakes ini memang menjadi tombak dalam peperangan ini. Kita tahu kita tetap harus melayani mereka meski kita tahu penyakit yang dialami bisa menukar kepada kami," tutur Benjamin.

Untuk itu, Benjamin mengaku tengah merintis sebuah aturan bagi kesejahteraan nakes, yang telah ia godog dalam meja Komisi E DPRD Jawa Timur.

"Sebenarnya Gerindra ini sudah menjadi pemula untuk pembuatan raperda melalui Komisi E. Kami memandang nakes ini perlu mendapat perhatian banyak," tegasnya.

Dia juga menjelaskan bahwa banyak dari nakes yang belum menerima insentif hingga saat ini. Salah satu contohnya petugas nakes di tingkat terkecil, seperti bidan hingga para petugas di puskesmas.

"Kami pastikan itu. Karena kami punya rumah sakit, difungsikan untuk itu," jelasnya.

"Nah dari situ, kita menyayangkan jika apresiasi terimakasih, insentif ini tidak dicairkan, terlambat atau apapun bahasanya. Padahal yang mereka pertaruhkan adalah nyawa, yang apabila mereka terkena, mereka tidak bisa membelinya lagi," imbuhnya.

Sementara Ajeng Wirawati juga menyebut, di tubuh DPRD perannya dalam mendorong insentif nakes di Surabaya yang sempat molor.

"Kami memang sempat mendorong kepada dinkes untuk bersurat pada Kemenkes tentang insentif nakes yang ada di Surabaya dari APBN ke APBD dan telah ditelaah lagi dalam refocusing (anggaran) atau PAK," tutur Ajeng.

Wakil ketua Komisi D DPRD Surabaya itu juga meminta agar derajat nakes ini harus mulai diperhatikan. Apalagi maraknya Varian Delta baru-baru ini membuat puluhan nakes di Kota Pahlawan tumbang, sehingga kiprah nakes perlu mendapat apresiasi.

"Kepada Pemkot Surabaya, angkat para tenaga kontrak dan nonmedis yang telah menjadi garda terdepan pelayanan Covid-19, agar meningkatkan martabat tenaga pelayanan Covid-19. Karena tidak hanya apresiasi berupa materi yang diperjuangkan. Tapi juga pengabdiannya kepada masyarakat," tambah Wakil Bendahara Gerindra Jatim itu.

Kepada masyarakat Jatim, khususnya Surabaya, Ajeng juga mengimbau agar tetap menjaga prokes, untuk meringankan beban para nakes.

"Kepada masyarkat luas, laksanakan prokes 5M dan taati aturan PPKM, agar tidak ada nakes yang gugur dalam usahanya di peperangan garda terdepan," harapnya.

Sementara, dr Alif sapaan akrab dr Asluchul Alif juga menyebut jika fakta di lapangan telah membuktikan bahwa fasilitas kesehatan yang dimiliki negara saat ini sangat kurang. Banyaknya nakes yang tumbang, mayoritas disebabkan karena terpapar Covid-19 dari pasien yang mereka tangani.

"Jadi kalau di tempat kami, ruang isolasi itu ada lima ruang. Sedangkan tingkat kesembuhan dengan bertambahnya pasien ini tidak seimbang sehingga petugas nakes yang menjadi korbannya," kata Ketua Gerindra Gresik itu.

Loading...

Satu-satunya cara, lanjut Alif, adalah dengan mengatur traffic RS dengan sistem buka tutup.

"IGD dan ruang isolasi itu full dengan pasien. Kemudian yang di IGD sudah kita naikkan ke ruang isolasi, baru kita masukkan lagi. Oleh karena itu, kalau pelayanan tidak di ruang isolasi, maka para nakes akan sangat mudah terpapar," terangnya.

Alif juga meminta kepada pemerintah untuk secepatnya mengadakan vaksin berjenis Moderna yang disebut-sebut memiliki efikasi hingga 90 persen.

"Dan kami berharap untuk vaksinasi Moderna yang katanya 90 persen efikasinya itu segera menjadi boster kami tenaga kesehatan yang menjadi garda terdepan," tandasnya.

 

Berita Terkait