jatimnow.com
Tengah Malam Penuh Misteri: Suara Langgam Jawa hingga Barisan Prajurit

Salah satu penunjuk arah di jalur pendakian Gunung Lawu (Foto: Dok. penulis)

jatimnow.com - Satu jam lebih berjalan, kami tak kunjung menemukan pos 4 dan kurang yakin sudah sampai pos 5 atau belum.

Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 11 malam. Aku menyenggol bahu Teja, sambil berjalan beriringan. Aku tanya apa yang dilihatnya di antara pos 2 dan 3.

Sambil ragu, dia berbisik kalau saat itu dirinya melihat prajurit tua yang wajahnya pucat. Pakaiannya lusuh dan tentunya bukan manusia sungguhan.

Sontak aku terdiam, Teja menunggu responku. Teringat ucapan si Mbok tentang barisan prajurit. Tapi sebisa mungkin aku bersikap tenang, karena yang dilihat kawanku itu hanyalah satu prajurit.

Baca juga:  Perjumpaan dengan Mbok dan Sosok Menyerupai Pocong

Kuhentikan langkah, Teja dan Papang merapat. Aku minta untuk mencari tanah lapang dan segera mendirikan tenda. Di pikiranku, akan semakin banyak hal buruk yang tampak jika memaksakan melanjutkan perjalanan. Aku pun yakin Teja sudah kena mental sejak kejadian tadi.

"Oke, yuk kita cari tempat yang bagus," jawab Papang.

Tak butuh waktu lama, tenda sudah berdiri. Jam digitalku menunjukkan angka 23.42 Wib. Berdasarkan kesepakatan bersama, kami masak yang mudah saja. Tiga bungkus mie instan dengan lauk potongan sosis.

Saat aku memasak, Teja merapikan tas kerir kami dan Papang membersihkan area tenda supaya tidak ada ranting yang bisa membuat rusak cover tenda.

Belum ada yang mengantuk usai makan. Tapi karena suhu semakin rendah dan kabut mulai pekat, masuk tenda dan melindungi diri dalam sleepigbag menjadi pilihan terbaik. Pelan-pelan suara menjadi hening dan aku yakin dua temanku itu pasti sudah tertidur.

Dinginnya suhu Gunung Lawu, semakin mencekik saat suara hewan malam bersahut-sahutan. Hening tapi begitu ngeri. Aku yang memang sering tergoda buang air kecil saat kedinginan, melongok keluar kantong tidur dan mendapati dua temanku masih tertidur.

Jam menunjukkan pukul 02.00 Wib. Aku menyiapkan mental untuk keluar sendiri supaya bisa buang hajat. Belum juga membuka resleting pintu tenda, dari jauh samar-samar aku mendengar suara seperti wanita melantunkan kidung Jawa.

Suaranya semakin dekat, mungkin sekitar 5 meter dari tenda kami dan lebih dekat lagi. Aku merinding sekali, sambil minta ampun kepada Sang Pencipta. Apalagi teringat pesan si Mbok sebelum kami mendaki.

Suara kidung itu menjauh, tapi teror suara aneh tidak mereda. 10 menit kemudian, seperti ada sekumpulan pendaki mendekati tenda kami. Aku tebak jumlahnya bisa sampai 20 orang, saking kerasnya suara langkah di luar sana.

Aku pun kembali berpikiran buruk. Rasanya suara itu bukan dari pendaki, tapi prajurit kerajaan yang berpatroli. Sebab tak hanya suara langkah kaki berisik, juga suara pukulan gong beberapa kali dan suara kuda.

Tubuhku spontan kaku. Kusenggol Papang dari balik sleepingbag, dia tak bergeming. Dan gerombolan itu semakin mendekati pintu tenda. Ingin sekali mengintip, tapi si Mbok berpesan jangan sampai aku keluar tenda.

Nyaliku mendaki ke beberapa gunung, dihajar badai dan pengalaman gila lainnya, semacam tak laku kali ini. Fiks, aku ketakutan. Menahan ingin buang air kecil saat takut bukan hal mudah. Aku meraih lagi kantong tidur, masuk ke dalamnya dan menutup seluruh badan sampai kepala.

Yang semakin membuat ciut, aku mendengar jelas ada yang memukul tenda. Suaranya seperti ada yang menghantam. Imajinasiku ke mana-mana, jangan-jangan mereka mencoba masuk.

Aku memaksa tidak bergerak sebisaku, sampai akhirnya suara kembali hening. Sebisa mungkin aku tidur, supaya lupa jika sedang takut dan kebelet pipis.

Jam 6 pagi, Papang membangunkan aku dengan cara tidak biasa. Aku dipukulnya beberapa kali, dia mengira aku hipotermia. Aku yang bermuka kusut karena ngantuk dan masih menahan pipis, melongok dari kantong tidur.

"Kamu kok bisa tidur?" tanyanya.

Mendengar pertanyaan Papang, aku curiga. Jangan-jangan bukan aku seorang yang mendengar suara langgam Jawa dan suara gedebuk kaki dari puluhan orang. Melihat reaksiku, dia cuma mengangguk pelan. Seakan sudah tahu apa yang hendak kutanyakan.

"Aku harus pipis. Ayo temani aku," ajakku setelah memakai sepatu dan siap mencari semak terdekat.

Sebetulnya, aku sengaja mengajak Papang karena ada yang mau aku tanyakan.

"Aku dengar suara perempuan ngidung. Panggonane (tempatnya) semu. Itu yang aku dengar sekilas tadi malam. Kamu juga kan?" ucapnya sedikit berteriak karena jarak kita yang agak jauh.

Kembalinya dari buang hajat, aku membenarkan apa yang didengar Papang. Aku juga mendengar perempuan bernyanyi langgam Jawa. Hanya suara tanpa lagu. Lalu aku mengingat-ingat dan ternyata kemarin adalah Jumat kliwon, hari dalam pasaran Jawa yang dikenal keramat.

"Kita harus cepat bikin sarapan, berkemas lalu ke puncak. Usahakan hari ini turun tanpa perlu camp lagi," tukasku.

Jam 9 tepat, kami berangkat ke puncak, melewati Sendang Drajat yang tak lain tempat favorit untuk para pendaki mendirikan tenda. Sesampainya di puncak Hargo Dumilah, kami berfoto sebentar, memakan bekal roti sambil berbincang ke sesama pendaki.

Loading...

Kami cerita terpaksa nge-camp di bawah pos 5 karena terlalu larut di perjalanan. Suki, pendaki dari Lamongan yang tek-tok dari Cemoro Sewu pada pukul 04.00 Wib, keheranan. Karena menurut dia, tak ada satu tenda pun berdiri di bawah pos 5 sepanjang dia mendaki ke puncak.

Karena sama-sama pada pendapatnya masing-masing, kami sepakat untuk turun bersama dan menunjukkan di mana lokasi kami mendirikan tenda semalam.

Dua jam perjalanan turun, aku menunjukkan lokasi tenda kami berdiri semalam kepada Suki dan Pipit, temannya. Sekitar 3 meter dari pohon besar tapi sangat terlihat jelas dari jalur pendakian.

"Iya, aku tadi juga lewat sini. Tapi tidak ada tenda kalian. Jam 8 kira-kira kami melintas di sini," tegas Suki.

Aku, Papang dan Teja, sontak saling melihat. Dan aku baru menyadari jika sejak terang, memang belum ada satu pendaki pun yang terlihat oleh kami, selain di Sendang Drajat.

Logikanya, siapapun yang mendaki lewat Cemoro Sewu, pasti melihat kami di bawah pos 5. Tenda kuning mentereng punyaku, tentu bisa dilihat jelas. Apalagi, aku dan Papang memasak di luar tenda jam 6.30 dan memakan sarapan juga di luar tenda. (Bersambung)

 

Penulis adalah wartawan jatimnow.com

Berita Terkait