Pixel Code jatimnow.com

Tinjau Seleksi CPNS Kota Mojokerto, Ning Ita: Tidak Ada Titipan

Editor : Arina Pramudita   Reporter : Achmad Supriyadi
Wali Kota Mojokerto saat meninjau seleksi CPNS.
Wali Kota Mojokerto saat meninjau seleksi CPNS.

jatimnow.com - Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari meninjau pelaksanaan Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) CPNS di Graha Stikes PPNI Bina Sehat.

Jumlah peserta seleksi CPNS tahun ini mencapai 1.878 orang. Sementara formasi yang dibutuhkan Pemkot Mojokerto hanya 108 orang.

Ning Ita memberikan motivasi dan mengingatkan integritas ribuan peserta tes CPNS tahap kedua untuk mengadu kecerdasan diri sendiri.

"Itu sangat kecil, karena banyak yang memperebutkan. Ini adalah kompetensi adu kecerdasan dan keberuntungan, dari orang-orang yang terbaik," kata Ning Ita, Selasa (5/10/2021).

Baca juga:
Pemkot Mojokerto Raih Penghargaan Peduli Ketahanan Pangan 2023, Ning Ita Beri Pesan Begini

Wali kota perempuan pertama di Kota Mojokerto tersebut meminta agar semua peserta percaya diri dengan kemampuan sendiri dan tidak percaya oknum yang menjanjikan bisa meluluskan dalam CPNS karena menggunakan sistem CAT BKN. Sebagai wujud reformasi birokrasi agar bisa mendapatkan ASN yang berintegritas nantinya.

"Ini mengedepankan kejujuran dan kemampuan pribadi. Jangan percaya oknum yang menjanjikan semua bisa dibantu, soalnya semuanya sudah sistem. Tidak ada lagi titipan, murni hasil kerja pribadi," tegasnya.

Baca juga:
Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari: Tidak Makan Beras Tetap Hidup

Sementara, Kepala Kantor Regional II Badan Kepagawaian Nasional (BKN) Heru Purwaka menyebut, ada beberapa peserta yang tidak hadir dengan beberapa alasan serta tidak ada konfirmasi kehadiran.

"Setiap sesi 235 orang, tapi ada yang belum bisa hadir dengan alasan tidak dapat izin dari kantor. Sehingga tidak bisa meninggalkan tempat kerjanya, atau ada hal lain-lain. Otomatis dianggap gugur," pungkasnya.

Mencari Pemimpin Millenial untuk Surabaya
Jatim Memilih, Politik

Mencari Pemimpin Millenial untuk Surabaya

"Millenial perlu ruang, dan pengetahuan politik. Mereka butuh sosialisasi sehingga bisa memilih pemimpin yang tepat," ucap mantan Ketua PSI Surabaya, Erick Komala.