Bripka Febri, Polisi Penyelamat Pendeta asal Korsel itu Kuasai 4 Bahasa Asing

Bripka Febri (kiri) mengawal proses evakuasi Pendeta Kim dari Juanda menuju Korsel

jatimnow.com - Bripka Febri Rijal Syaifudin, anggota Unit Intelkam Polsek Jambangan, Polrestabes Surabaya mendapat penghargaan dari Badan Kepolisian Nasional Korea Selatan (Korsel).

Penghargaan itu diterima Febri setelah berjuang menyelamatkan nyawa seorang pendeta asal Negeri Gingseng bernama Kim yang sedang terpapar Covid-19 varian terbaru pada 18 Juli 2021.

Kasus Covid-19 di Indonesia yang sedang tinggi-tingginya membuat pendeta KIM kesulitan mendapatkan rumah sakit. Hingga endingnya pendeta KIM bisa sehat kembali setelah mendapat pertolongan dari Febri.

Sehari-hari, Febri berdinas sebagai anggota Unit Intelkam Polsek Jambangan. Di sela tugasnya, dia juga rajin mengurus keluarga.

"Keseharian ya sama sebenarnya. Dinas, urus keluarga. Di Polsek Jambangan itu mulai dinas Tahun 2019 akhir. Selebihnya ya membaca dan berteman," tutur Febri saat ditemui jatimnow.com, Kamis (14/10/2021).

Baca juga:  Kisah Bripka Febri, Polisi Surabaya Penyelamat Nyawa Pendeta asal Korsel

Febri mengawali karirnya menjadi anggota Polri melalui pendaftaran Bintara gelombang satu pada Tahun 2006.

"Jadi gini awalnya, bapak saya (almarhum) itu sopir taksi. Adik saya satu, cewek. SMA saya dulu di SMA 1 Sidoarjo. Kelas 2 SMA ayah meninggal. Di situ saya mulai kerja selesai pulang sekolah," ujarnya.

"Kemudian saya merantau ke Bondowoso, kerja di sana dan disuruh ibu coba daftar polisi. Dan waktu itu daftar di Polres Besuki (Situbondo). Jadi waktu itu saya juga sertakan prestasi saya, yakni beladiri. Beberapa kali menang juara satu, dapat emas hingga perak," jelas dia.

Setelah masuk Koprs Bhayangkara, Febri ditempatkan di Unit Tangkal. Lalu bertugas di IT Center Polres Surabaya Selatan yang sekarang menjadi Markas Polsek Dukuh Pakis.

Setelah berdiri Polrestabes Surabaya, yang dulu Polwiltabes Surabaya, dia pindah tugas ke Polsek Tegalsari. Di sana ia ditempatkan di Unit Patroli.

"Nah, di situ kemudian saya sekolah sbasa, Bahasa Jepang itu tadi. Dan kembali ke Surabaya dan ditunjuk ke Unit Pengawasan Orang Asing (POA) itu," terangnya.

"Jadi sebenarnya itu, di Tahun 2011 saya Alhamdulillah dapat Adimakayasa di Sbasa, jadi siswa terbaik di Jawa Timur. Sbasa itu nasional, perwakilan dari masing-masing polda. Saat itu jadi siswa terbaik, berbahasa Jepang waktu itu. Kemudian dapat apresiasi dari Pak Kapolrestabes Surabaya, waktu itu Pak Iqbal. Kemudian ditariklah ke Unit POA itu," tambahnya.

Dari bahasa-bahasa yang dikuasai itu, polisi kelahiran 1987 di Sukodono, Sidoarjo itu mengaku yang cukup lancar yakni Bahasa Inggris dan Jepang. Selebihnya, masih dalam proses belajar.

"Ada empat bahasa. Inggris, Jepang, Perancis dan juga Korea. Yang nggak buruk banget itu Inggris dan Jepang, bukan dibilang mahir ya," tutur dia.

Ditanya sejak kapan mulai belajar berbagai bahasa tersebut, Febri mengaku itu dilakukan secara berkala.

"Kalau Bahasa Inggris tentunya kan ya sejak kita masih sekolah. Sejak SMP itu mulai belajar Bahasa Inggris. Kalau Bahasa Jepang itu mulai sejak Tahun 2011. Jadi waktu saya S1 skripsi, kemudian ada tugas mewakili Polda Jatim untuk sekolah di Sbasa Lemdik Polri," jelasnya.

"Kalau Bahasa Perancis saya ketika Tahun 2013. Itu kan juga merupakan LO dari beberapa negara. Mulai dari Jepang, Perancis, Inggris. Dan kebetulan istri saya tinggal di Perancis itu selama lima tahun. Dia sekolah dan ngajar di Perancis. Jadi saya sedikit banyak dapat ilmu dari istri," sambungnya.

Sedangkan untuk alasan utama Febri belajar berbagai bahasa itu, menurutnya karena suka membaca. Katanya, membaca merupakan jendela dunia.

"Jadi kalau kita bisa memahami bahasa, kita akan punya empati lebih dalam. Wawasan kita akan lebih luas. Itu indah sekali kalau kita bisa memahami itu," ungkap dia.

Untuk pengalaman bertugas di Unit pengawasan orang asing (POA), Febri mengaku punya banyak pengalaman. Mulai dari mengungkap kasus-kasus besar hingga pengamanan VIP.

"Dari 2011 sampai 2019, banyak banget untuk pengalaman. Misalnya di pengamanan VIP. Kami pernah mengawal langsung Ketua MPR Cina. Kemudian kami juga pernah mengungkap sindikat penipuan online di beberapa negara, yang tersangkanya lebih dari 500 orang," sebutnya.

"Kemudian mengungkap kasus money laundry antarnegara. Trafficking antarnegara. Kemudian pemalsuan dokumen. Terus ada kasusnya di Asrama Kalasan, di situ ada orang asingnya dari Australia. Terus kemudian bantu ungkap orang hilang di Kediri, yang kita temukan di Malaysia. Di sana disuruh jualan jaga kedai itu. Selama 12 tahun baru ketemu," lanjut Febri.

Yang menarik, kata Febri, yakni ada salah satu orang dari Belanda yang dulunya orang Indonesia, tapi sudah lupa Bahasa Indonesia dan Jawa.

"Beliau seorang perempuan usianya 67 tahun, yang lost contact dengan keluarganya. Saya bantu carikan akhirnya ketemu di Lamongan. Ketika bertemu keluarga, saya sampai terharu, bahkan menangis, meski beliau tidak bisa Bahasa Indonesia maupun Jawa. Tapi hatinya menangis bisa bertemu keluarganya," ujarnya.

"Karena sudah puluhan tahun tidak pernah pulang ke Indonesia dan dikira sudah meninggal. Itu yang bikin hati saya tidak bisa berkata-kata lagi. Untuk kedinasan ya mungkin pengamanan tamu atau kunjungan dari luar," tambahnya.

Mengapa tertarik di dunia intelijen dan keamanan? Febri mengatakan bukan tertarik. Tapi ia punya prinsip, yaitu biarkan yang kamu sukai itu jadi sesuatu yang kamu lakukan. Jadi, ia mencintai apa yang dia lakukan.

Loading...

"Tapi memang dari awal masuk polisi, tertarik ke Intelkam. Mengapa? Karena saya suka banyak pengalaman. Karena Intelkam kan keseluruhan. Mungkin lebih tepatnya ada kelengaan tersendiri, karena banyak wawasan dan pengalaman," jelasnya.

Untuk tugas maupun keperluan keluarga ke negara lain, Febri mengaku paling jauh ke negara Perancis, Australia hingga Amerika.

Dari banyak pengalaman dan juga prestasi tersebut, Febri mengaku ingin meningkatkan karirnya dengan sekolah perwira polisi.

"Ini sudah yang ketiga kali daftar. Mudah-mudahan dikasih kemudahan, lancar diterima. Minta dukungan dan doanya," tutur polisi yang sebentar lagi menjadi seorang ayah itu.

Lantas jika nanti sudah menjadi perwira, apakah tetap mencintai dunia Intelkam? Febri tak menampiknya. Namun menurutnya, sebagai abdi negara, dia harus siap ditugaskan di mana saja.

"Yang pasti ketulusan. Jadi ditempatkan di manapun saya siap. Jadi saya akan bekerja semaksimal mungkin dinas di manapun," pungkasnya.

Bripka Febri mengawal proses evakuasi Pendeta Kim asal Korsel ke rumah sakit di SidoarjoBripka Febri mengawal proses evakuasi Pendeta Kim asal Korsel ke rumah sakit di Sidoarjo

Berita Terkait