jatimnow.com

Siswi SD Meninggal Usai Sepekan Divaksin, Begini Analisa RSUD Jombang

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Achmad Supriyadi
Marwatun, ibu NSG (Foto: Achmad Supriyadi/jatimnow.com) 🔍
Marwatun, ibu NSG (Foto: Achmad Supriyadi/jatimnow.com)

Jombang - Direktur RSUD Jombang dr Pudji Umbaran menduga bahwa siswa SD yang meninggal usai sepekan divaksin Sinovac mengalami kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI).

"Kalau kita merujuk pada waktu vaksin sampai kejadian anak ini sakit, menurut tim ahli kami, dalam rentang waktu vaksin. Sehingga kalau dalam rentang itu, bisa dimungkinkan dugaan KIPI. Namun harus dianalisis lebih dalam apakah related dengan vaksinnya atau karena kondisi lain," terang dr Pudji saat dihubungi, Minggu (2/1/2022).

Dia menambahkan, KIPI bisa terjadi dalam kurun waktu 30 hari usai vaksinasi. Sementara siswi SD bernama NSG (Naura Sabrina Galiyah, 9 tahun) itu, menjalani vaksinasi tahap pertama pada Rabu (22/12/2021) di sekolahnya.

Loading...

Baca juga:  Lagi, Siswi SD di Jombang Meninggal Usai Sepekan Divaksin

Siswi kelas IV itu mulai sakit dua hari setelah vaksinasi atau Jumat (24/12/2021). NSG sakit sepulang dari sekolah. Saat itu ia menderita panas tinggi, muntah-muntah dan muncul ruam-ruam merah di sekujur tubuhnya.

"Apakah itu KIPI atau tidak, apakah ada hubungannya dengan vaksin atau tidak, butuh analisis lebih dalam lagi," terang Pudji.

NSG sudah menjalani skrining sebelum divaksin. Ia dinyatakan sehat, serta tidak mempunyai riwayat penyakit dan alergi. Sehingga bocah asal Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang itu bisa disuntik vaksin Sinovac dosis pertama.

Dua hari setelah divaksinasi, Jumat (24/12/2021), NSG mulai sakit. Orangtuanya membawanya berobat ke beberapa tempat sejak Sabtu (25/12/2021) pagi. Mulai ke bidan terdekat, orang pintar, Puskesmas Mojowarno hingga ke RSUD Jombang.

Bungsu dari empat bersaudara, putri pasangan Joko (46) dan Marwatun (42) itu opname tiga hari di RSUD Jombang. NSG menghembuskan nafas terakhir pada Jumat (31/12/2021) sekitar pukul 05.00 WIB di rumah sakit pelat merah itu.

"Kami serahkan ke dokter spesialis anak untuk komunikasi dengan Komda KIPI, baik di Jatim maupun nasional. Penentuannya seperti apa, nanti oleh Komda KIPI," pungkas Pudji.