Opini

Politik Jiwa Besar


Dimas Oky Nugroho

Namanya Khofifah. Kerap dipanggil Mbak Khof, 53 tahun, adalah sosok pemimpin yang tangguh. Alumni FISIP Unair ini adalah perempuan pertama yang berhasil menjadi Ketua Cabang PMII. Pernah menjadi wakil rakyat termuda di DPR, menteri di era Presiden Gus Dur, dan Ketua PP Muslimat NU.

Terakhir Khofifah adalah Menteri Sosial di era Presiden Jokowi. Menurut perhitungan cepat lembaga survei, Khofifah berhasil memenangkan Pilgub Jatim 2018. Jika resmi dinyatakan menang olej KPU dan dilantik presiden, Khofifah Indar Parawansa adalah perempuan pertama, warga nahdliyin pertama, yang menjadi Gubernur Jawa Timur.

Perjuangan Khofifah tidaklah mudah. Kalah dua kali dalam pilgub melawan Soekarwo-Ipul tapi karir politik terus menanjak dan berwibawa. Teringat saat-saat menentukan pilihan apakah tetap berada di Kabinet Kerja atau mundur untuk maju sebagai calon gubernur, Khofifah mengingat pesan ulama untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Jatim, sekaligus menjalankan pesan Gus Dur, ikut menata kembali Nahdlatul Ulama.

KKhofifah adalah konsistensi, daya tahan, ketabahan sekaligus kelembutan dan progresivitas. Ketika berpidato menyambut hasil hitung cepat ia pun ia tidak menunjukkan rasa jumawa. Ia menginginkan kebersamaan.

Namanya Emil Elestianto Dardak. Emil adalah anak muda, Bupati Kabupaten Trenggalek Jawa Timur, berusia 34 tahun. Doktor bidang ekonomi pembangunan di usia 22 tahun dari Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang. Emil adalah sosok yang cerdas. Masuk ke dunia politik adalah sesuatu yang sama sekali baru dalam hidupnya.

Sebelumnya ia menjabat sebagai Chief Business Development and Communication-Executive Vice President di PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia. Terpilih sebagai bupati pada pilkada serentak 2015, Emil telah membuat sejumlah gebrakan di daerah bagian Selatan Jawa Timur tersebut.

Namanya sempat kontroversial karena sebagai bupati yang diusung oleh PDIP, ia harus pamit dengan Megawati Sukarnoputri untuk maju sebagai calon Wagub Jatim berpasangan dengan Khofifah yang bukan didukung oleh partai tersebut. Emil yang saya kenal adalah sosok yang tenang dan fokus ingin membangun masyarakat. Terkenang saat di tengah malam kami kebetulan tak sengaja sedang berada di Kota Malang untuk sebuah acara yang berbeda.

Situasi politik saat itu masih diliput ketidakpastian namun namanya sudah santer dibicarakan. Sempat nervous oleh situasi politik yang berkembang, kami berjanji bertemu, Emil sholat istikaroh. Malam itu kami putuskan ke Blitar, berziarah ke Makam Bung Karno. Doa dan ikhtiar Emil adalah doa dan ikhtiarnya anak muda Indonesia, sebuah harapan yang ingin bangsa yang kita cintai ini segar, bersih, unggul, maju, kuat dan makmur. Emil adalah semangat yang menyala. Emil adalah harapan.

Namanya Soekarwo, dipanggil Pakde Karwo. Ia adalah Gubernur Jatim dua periode dan Ketua DPD Partai Demokrat. Soekarwo, 68 tahun, adalah seorang birokrat-teknokrat senior. Saya melihatnya juga sebagai sosok intelektual yang berdedikasi dengan ekonomi kerakyatan.

Ia adalah mantan Ketua Umum Alumni GMNI se-Indonesia. Doktor di bidang sosiologi hukum Undip ini baru saja meluncurkan buku berjudul 'Berkaca Dari Kegagalan Liberalisasi Ekonomi'. Soekarwo saat ini juga menjadi Ketua Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI).

Soekarwo memenangkan pilkada Gubernur Jatim selama dua kali dengan bertarung melawan rival yang sama, Khofifah. Dua kali ia menang, dua kali kontroversi. Kemenangan yang 'berdarah-darah' menurut teman jurnalis saya. Namun saat Pilgub 2018 ini publik mengenangnya dengan dukungannya yang konsisten terhadap sosok Khofifah.

Saat saya tanya mengapa dukung Mbak Khof? Pakde Karwo ingin mendorong tradisi rekonsiliasi, inovasi dan keguyuban dalam berpolitik. Politik harus dilakukan secara inklusif sebagaimana semangat Pancasila yang sesungguhnya, serta harus dengan kejelasan nafas keberpihakan terhadap ekonomi rakyat.

Bagi Pakde Karwo, politik adalah pengabdian. Ia berharap pembangunan Jawa Timur akan semakin baik, berlanjut peningkatannya, serta stabil di bawah kepemimpinan Khofifah-Emil. Pakde Karwo adalah simbol pelayanan birokrasi, kekuatan pada ketelatenan dan governance, tata kelola.

Tak heran ia baru saja diganjar oleh PBB dengan penghargaan sebagai finalis dalam United Nations of Public Service Awards (UNPSA) 2018.

Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Sukarno. Saya tidak begitu dekat dengan dua sosok hebat ini. Saya hanya mendengar dari sahabat atau memperhatikan kiprah mereka dari media. Gus Ipul, begitu akrabnya dipanggil, adalah sosok yang hangat dan siapapun yang mengenalnya menyebutnya sebagai figur yang menyenangkan.

Percakapan dengannya selalu mampu memancing tawa dan simpati. Ia adalah petahana, Wakil Gubernur Jatim di era Pakde Karwo. Mantan Ketua GP Ansor, pernah tergabung dalam HMI Universitas Nasional dan pernah pula berkiprah di PDI Perjuangan dan PKB.

Gus Ipul adalah salah satu cicitnya pendiri NU, KH Bisri Syamsuri. Ia pernah menjadi menteri di era Presiden SBY. Mbak Puti adalah cucu Bung Karno. Ayahnya adalah Guntur Sukarnoputra, abang tertua Megawati Sukarnoputri.

Puti juga dikenal sosok yang ramah, berkarakter dan cerdas. Sebelum maju sebagai cawagub dalam Pilgub Jatim 2018, Puti adalah anggota DPR RI. Saya memuji Puti karena semangat dan ketulusan perjuangannya. Saya memuji Gus Ipul karena jiwa besarnya saat menerima kekalahan hasil hitung cepat.

Gus Ipul adalah simbol egaliter dan keceriaan, sedangkan Puti adalah simbol keteduhan sekaligus kekuatan.

Joko Widodo, populer sebagai Jokowi. Mantan walikota, lalu gubernur, dan kemudian terpilih sebagai presiden ketujuh RI. Kita semua mengenalnya sebagai sosok yang merakyat, produktif, sekaligus tegas dan tangguh.

Jokowi dalam Pilgub Jatim harus memposisikan dirinya netral meskipun dua kandidat yang bertarung dalam pilgub adalah termasuk dalam lingkaran terdekatnya sebagai presiden dan sahabat secara pribadi. Khofifah adalah mantan menteri di kabinetnya.

Gus Ipul didukung oleh PKB dan PDI Perjuangan yang merupakan partai pengusungnya dalam Pilpres 2014. Kedua kandidat, baik Mbak Khof maupun Gus Ipul, adalah sama-sama berikhtiar akan memenangkan Jokowi pada Pilpres 2019 kelak.

Politik adalah seni bersilaturahmi. Satu musuh kebanyakan, seribu teman kedikitan. Jokowi adalah simbol perekat dan kecerdasan silaturahmi. Melalui Pilgub Jatim, Jokowi menunjukkan kenegarawanannya merangkul berbagai komponen politik di Indonesia secara bijak dan cerdas.

Secara tidak langsung, melalui kemenangan Khofifah yang juga didukung oleh Partai Demokrat pimpinan SBY, ia ingin menyatakan bahwa dalam politik maka tujuan sesungguhnya adalah semangat kerja bersama, kemaslahatan rakyat dan rekonsiliasi.

Malam itu dari arah rumah Mbak Khof di Jemursari, Surabaya, sambil berjalan keluar menuju jalan raya, masih terdengar lamat-lamat nyanyian para relawan yang bergembira. Wis wayahe ... wis wayahe. Sudah waktunya politik dikembalikan pada semangatnya yang mulia dan utama.

Jawa Timur 2018 telah mengajarkan kita bahwa politik adalah jiwa besar. Keangkuhan politik dan eksklusifisme hanya akan membawa jalan buntu.


Penulis: Dimas Oky Nugroho, political junkie, pecinta Surabaya menetap di Jakarta

Tinggalkan Komentar

jatimnow.com menyajikan pemberitaan di daerah Jawa Timur dan sekitarnya, menyajikan berita yang dikemas dengan apik tanpa mengabaikan nilai-nilai jurnalisme.

Jalan Jimerto No. 17a Surabaya

Call:  (031) 99248116

Email: jatimnow@gmail.com

Newsletter