Pixel Code jatimnow.com

Triwulan Pertama 2022, Demam Berdarah di Kota Malang Meningkat

Editor : Sofyan Cahyono Reporter : Galih Rakasiwi
Fogging dinilai kurang efektif turunkan DBD.(Foto: Dinkes Kota Malang)
Fogging dinilai kurang efektif turunkan DBD.(Foto: Dinkes Kota Malang)

Malang - Tercatat ada 216 orang di Kota Malang yang terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD) pada triwulan pertama 2022. Bahkan, dua orang meninggal dunia. Angka itu meningkat dibanding triwulan pertama 2021 yang hanya 40 kasus. Rinciannya, Januari ada 164 kasus, Februari 40 kasus, dan Maret 11 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang Husnul Muarif mengatakan, penyebab lonjakan kasus DBD karena adanya perubahan cuaca secara ekstrem.

"Banyak genangan air akibat hujan turun, dan panas. Sehingga nyamuk cepat berkemang biak. Terutama di sekitara rumah. Namun secara karakteristik DBD memiliki siklus tahunan. Jika lonjakan terjadi pada musim hujan di awal tahun, maka penambahan kasusnya akan bisa ditekan pada bulan-bulan selanjutnya," ujar Husnul, Senin (28/3/2022).

Baca juga:
Warga Pacitan Meninggal Diduga DBD, Penjelasan Dinkes Tegas!

Dinas Kesehatan terus menggalakkan sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat demi menekan kasus DBD. Caranya melalui juru pemantau jentik (jumantik) dan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan melibatan 16 puskesmas di Kota Malang.

"Nah, dalam beberapa tahun terakhir hal itu mampu menekan laju penambahan DBD meskipun perlu ada proses cukup panjang. Soalnya kalau menggunakan cara fogging, saya rasa kurang optimal memberantas pangkal penyebab DBD," tegasnya.

Baca juga:
Rekap Kasus DBD di Ponorogo Selama Tahun 2022 Meningkat, Ini Sebabnya

Pasalnya, fogging hanya akan mematikan nyamuk dewasa saja. Padahal pemberantasan harus dilakukan hingga pangkal utamanya.