Pixel Code jatimnow.com

Menakar Kekuatan Lucy dan Herlina dalam Perebutan Kursi Ketua Demokrat Surabaya

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Ni'am Kurniawan
Bakal calon ketua Demokrat Surabaya, Lucy Kurniasari dan Herlina Harsono Njoto (Foto: Dok. jatimnow.com)
Bakal calon ketua Demokrat Surabaya, Lucy Kurniasari dan Herlina Harsono Njoto (Foto: Dok. jatimnow.com)

Surabaya - Partai Demokrat Jawa Timur akan segera tancap gas menggelar Musyawarah Cabang (Muscab) yang akan diikuti oleh 17 Dewan Pengurus Cabang (DPC).

Di Surabaya, suara DPC disebut terbelah, lantaran ada dua bakal calon ketua, yaitu Lucy Kurniasari dan Herlina Harsono Njoto.

Kedua kubu nyaring saling klaim telah mengantongi dukungan suara mayoritas. Sang petahana Lucy Kurniasari yang telah menjabat Plt sejak 2019 mengklaim telah mengantongi 29 suara Dewan Pengurus Anak Cabang (DPAC) dan mampu dibuktikan di akta notaris.

Sedangkan dari kubu Herlina, 21 DPAC juga diakui telah menyatakan dukungan kepada wanita yang menjabat anggota DPRD Surabaya tiga periode itu.

Lantas seperti apa kekuatan Lucy dan Herlina dalam perebutan kursi Ketua Partai Demokrat Surabaya itu?

Pengamat Politik dari Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), Umar Sholahudin menilai bahwa kedua srikandi itu sosok yang layak merebutkan kursi Demokrat Surabaya.

"Keduanya kader terbaik partai, kader idiologis partai dan kader teruji. Keduanya 'sukses' secara elektoral dalam setiap pemilu. Punya pengalaman. Internal yg baik, karena itu keduanya sangat layak menahkodai Demokrat Surabaya," jelas Umar kepada jatimnow.com, Kamis (9/6/2022).

Menurut Umar, nilai demokrasi di tubuh Partai Demokrat memang paling ditonjolkan jika dibanding partai-partai lain secara sistem.

Baca juga:
Ketua DPC Kediri Mundur dari Demokrat karena Kecewa Musda Jatim, Lainnya Nyusul?

Sehingga, lanjut Umar, klaim kedua kubu itu harus mampu dimanfaatkan oleh elit Demokrat di atasnya. Agar sistem demokrasi benar-benar mampu diwujudkan, bukan malah keruh dan nyaris terbelah seperti Musda Demokrat Jatim waktu lalu, yang memaksa Bayu Airlangga hengkang dan berlabuh ke partai lain.

"Demokrasi harus mampu membangun sistem suksesi kepemimpinan yang kuat dan terlembaga. Berporos pada sistem. Nah, duel Lucy vs Herlina harus ditempatkan pada sistem suksesi tersebut. Sehingga akan melahirkan nahkoda yang kuat dan berkualitas," jelas Umar.

Di sisi lain, dirinya juga mengapresiasi segala bentuk ciptaan sistem partai berlambang bintang mercy itu yang tampak demokratis karena memberikan ruang yang sangat terbuka bagi para srikandi untuk memimpin. Karena kesehatan parpol bisa dilihat, salah satunya memberi porsi dan ruang yang sama bagi perempuan.

"Secara pribadi saya mengapresiasi kaderisasi kepemimpinan di Demokrat yang mampu melahirkan srikandi-srikandinya tuk jadi nahkoda Demokrat Surabaya. Ruang demokrasi cukup sehat karena memberikan ruang pada kaum perempuan tuk mimpin parpol," ucap Umar.

Baca juga:
Musda Demokrat Jatim, Pengamat: Menggambarkan Kedewasaan Emil-Bayu

Dirinya berpesan, siapapun yang terpilih nanti antara Lucy dan Herlina, harus saling menjunjung nilai yang dijunjung oleh Partai Demokrat. Begitupun pendukung antara dua kubu yang orientasinya membawa kemenangan dalam Pileg, Pemilu dan Pilkada 2024.

Loading...

"Siapapun yang terpilih, harus mampu membawa Demokrat sukses di pemilu dan Pilkada Surabaya 2024," tandasnya.

 

Loading...