Pixel Code jatimnow.com

Mengenal Kampung Konveksi Desa Alang-Alang, Berbagai Merk Ternama Dibuat di Sini

Editor : Arina Pramudita Reporter : Syaiful Islam
Warga Desa Alang-Alang sedang menjahit baju di kampung konveksi. (Foto-foto: Syaiful Islam/jatimnow.com)
Warga Desa Alang-Alang sedang menjahit baju di kampung konveksi. (Foto-foto: Syaiful Islam/jatimnow.com)

Bangkalan - Desa Alang-Alang mempunyai 5 dusun, salah satu dusunnya dikenal dengan kampung konveksi. Desa Alang-Alang sendiri terletak di Kecamatan Tragah, Kabupaten Bangkalan, Madura.

Untuk sampai ke kampung konveksi tidak sulit, apalagi dari Kota Surabaya. Sebab kampung konveksi ini tidak jauh dari jembatan Suramadu, tepatnya dari perempatan lampu merah Petapan ke arah timur.

Dari lampu merah petapan membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit untuk sampai di kampung konveksi. Setiba di kampung konveksi, mayoritas pekerjaan warga di sana adalah penjahit, bukan petani.

Mereka ada yang menjahit di rumah masing-masing. Namun ada juga yang menjahit di rumah pengusaha konveksi. Dengan menjahit, perekonomian bisa tertopang. Sebab di setiap harinya selalu ada garapan. Apalagi ketika mendekati bulan puasa, banyak orderan menjahit khususnya baju koko.

Kades Alang-Alang, Fahrur Rozi menyebutkan, dalam satu dusun sandang pangan utama masyarakatnya adalah konveksi atau menjahit. Pekerjaan ini dilakukan selama bertahun-tahun.

"Kampung konveksi ini ada di Dusun Timur Jeret. Ada 150 KK mayoritas memang tidak bertani, tapi melakukan jahit di rumah masing-masing. Hampir setiap rumah punya mesin jahit. Jadi modelnya orang-orang ini mengambil dari juragan, nanti disetor lagi," terang Rozi, Selasa (14/6/2022).

Namun, sambung Rozi, ada juga yang garap sendiri dan punya merk sendiri. Dirinya menghitung ada tiga merk sendiri di sana. Mereka dulu kerja atau rumah produksinya di Surabaya, tapi ketika ada Suramadu pindah di sini.

Selain akses yang lebih cepat dari Surabaya, warga bisa ngumpul dengan keluarga. Bahkan, ia pernah didatangi perwakilan dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) melakukan FGD dengan masyarakat di Timur Jeret.

"Kemudian saya pernah menaruh teman-teman mahasiswa MBKM di sana. Ada banyak rekomendasi yang dikumpulkan. Saya tanya mereka (penjahit) mau di-support dalam bentuk apa, peralatan, modal, pemasaran, itu semuanya ada di tangan kami," paparnya.

Baca juga:
Mas Dhito Dorong Nambaan Jadi Desa Wisata Budaya Usai Pengangkatan Arca Pentul

Berbagai merk ternama seperti Zygot dan Domon dikerjakan warga Desa Alang-Alang, Bangkalan.Berbagai merk ternama seperti Zygot dan Domon dikerjakan warga Desa Alang-Alang, Bangkalan.

Karena saat itu tidak masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM) desa, pihaknya mencoba untuk bantu dengan memploting beberapa anggaran yang bisa mendukung dari dana desa. Ia ingin mem-branding sebuah kampung konveksi di sana.

"Tapi paguyuban mereka belum terbentuk secara penuh, artinya belum ada kegiatan. Nanti ke depan kami berharap terjadi suatu paguyuban, ada pengurus, ada kegiatan yang nanti jadi tren baru atau model baru di Desa Alang-Alang, ada kampung konveksi," jelasnya.

Rozi menambahkan, saat ini mereka banyak garapan menjahit baju-baju tertentu. Namun ketika dua bulan menjelang puasa banyak pesanan baju muslim. Diharapkan kampung konveksi ini terus berkembang dan masyarakatnya bisa lebih sejahtera.

Baca juga:
Gubernur Khofifah Optimistis Desa Mandiri di Jawa Timur Naik 100 Persen di 2022

Sementara itu, salah satu pengusaha konveksi, Fauzen menyatakan dirinya memulai usaha konveksi sejak tahun 1982. Namun dulu bekerja di Surabaya, kemudian pindah ke kampung halamannya.

Loading...

"Saya punya sekitar 40 karyawan, 20 orang bekerja di sini, sedangkan sisanya menjahit di rumah masing-masing. Dalam seminggu bisa menjahit seribu sampai dua ribu baju," terang Fauzen.

Menurut Fauzen, dirinya menjahit bajunya sendiri dengan merk Domon, namun juga ambil jasa jahit dari merk lain seperti Zygot. Sehingga karyawannya menjahit terus, tidak sampai libur lama karena tidak ada garapan.

"Pangsa pasar baju Domon di Jawa Timur dan Lombok. Dulu saya kerja di Domon, lalu keluar karena bangkrut. Kemudian saya beli nama merknya Domon seharga Rp75 juta pada tahun 1983. Alhamdulillah sampai sekarang masih berjalan usaha ini," ucap Fauzen.

Loading...