Pixel Code jatimnow.com

Menjaga Eksistensi Kampung Gerabah di Kabupaten Malang

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Rizal Adhi Pratama
Proses pembuatan gerabah di Kampung Getaan, Kabupaten Malang (Foto-foto: Rizal Adhi Pratama/jatimnow.com)
Proses pembuatan gerabah di Kampung Getaan, Kabupaten Malang (Foto-foto: Rizal Adhi Pratama/jatimnow.com)

Malang - Salah satu kampung penghasil gerabah tertua di Kabupaten Malang, berada di Kampung Getaan, Desa/Kecamatan Pagelaran.

Kampung ini sudah eksis sejak 1960-an sebagai penghasil kerajinan gerabah. Lalu pada dekade 2000-an, kampung ini semakin terkenal ke luar daerah. Bahkan saat itu memiliki sekitar 250 pengrajin aktif. Meskipun kini hanya tersisa sekitar 150an saja.

Yang istimewa, saat ini Kampung Getak menjadi kampung penghasil gerabah terbesar di Malang Raya. Sebab beberapa daerah penghasil gerabah di Mbetek, Kota Malang atau di Pakistan, Kabupaten Malang sudah mulai punah.

Untuk mempertahankan eksistensi Kampung Gerabah di sini, dibentuklah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata. Sehingga penghasilan masyarakat tidak hanya dari memproduksi gerabah saja, tapi juga daya tarik wisata edukasi.

"Kita sedikit khawatir dengan regenerasi pengrajin gerabah di sini. Karena generasi pemuda hampir tidak ada yang meneruskan kerajinan ini. Mungkin karena daya jual gerabah yang masih murah," ungkap Perwakilan Pokdarwis Desa Pagelaran, Widayat, Selasa (28/6/2022).

Gerabah hasil kerajinan warga Kampung Getaan, Desa/Kecamatan Pagelaran, Kabupaten MalangGerabah hasil kerajinan warga Kampung Getaan, Desa/Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang

Namun, kini masalah itu sedikit teratasi dengan mulai dipelajarinya gerabah kreasi. Karena di sini, warga hanya terbatas pada gerabah tradisional.

Baca juga:
Mantap! Jumlah Desa Mandiri di Lamongan Lampaui Target

"Ini membuat anak-anak muda di sini mau meneruskan membuat gerabah," paparnya.

Untuk pembentukan desa wisata, Pokdarwis Desa Pagelaran bekerja sama dengan Universitas Negeri Malang dalam membangun sejumlah spot foto.

"Untuk konsep wisatanya nanti dibagi dua, seperti wisatawan lokal yang sekedar melihat-lihat, berfoto atau selfie sampai membeli gerabah untuk souvernir. Kemudian wisatawan dari sekolah-sekolah yang diutamakan adalah edukasi proses pembuatannya," papar Widayat.

Sementara pengrajin senior di sana, Sutrisno mengatakan, mempelajari pembuatan gerabah tidak mudah. Butuh banyak pengalaman untuk bisa ahli.

Baca juga:
Lamongan Optimalkan Peran Pegiat Desa

"Kalau anak-anak belajar membuat gerabah minimal butuh waktu 15 hari, tapi tergantung keinginan anaknya sendiri. Karena membuat gerabah itu dari niat di hatinya sendiri," tegas Sutrisno.

Ia menambahkan, gerabah yang dijual di Kampus Getaan ini bervariasi, tergantung kesulitan yang dihadapi.

"Gerabah yang dijual ada macam-macam, mulai dari kendi, kemaron, cobek, pot hias, guci, sangan sampai gendok. Sementara untuk harga bervariasi tergantung model, dari Rp2 ribu sampai Rp700 ribu," jelasnya.