Pixel Code jatimnow.com

Novita Hardini Berharap Tim Pendamping Keluarga Jadi Pioner Pencegahan Stunting

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Bramanta Pamungkas
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Trenggalek, Novita Hardini Mochammad saat mengisi pelatihan (Foto: Dok. Humas Pemkab Trenggalek)
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Trenggalek, Novita Hardini Mochammad saat mengisi pelatihan (Foto: Dok. Humas Pemkab Trenggalek)

Trenggalek - Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Trenggalek, Novita Hardini Mochammad memberikan pelatihan kepada Tim Pendamping Keluarga di Kecamatan Munjungan, Senin (4/7/2022).

Para pendamping ini diharapkan mampu menjadi pioner pencegahan stunting di Bumi Menaksopal. Juga dapat mengawal dan memberikan edukasi kepada remaja, ibu hamil maupun keluarga muda membina keluarga yang sehat dan sejahtera.

Tahun ini, Pemkab Trenggalek berikhtiar bisa menekan prevalensi stunting hingga 14%. Stunting memang patut dicegah, lantaran gagal tumbuh kembang anak berpengaruh pada kesehatan dan kecerdasan anak.

"Selain itu, bayi stunting cenderung terjangkit penyakit degeneratif seperti jantung, hipertensi maupun diabetes pada batas usia tertentu. Tentunya bila tidak dicegah, maka akan menyumbangkan angka kemiskinan baru," ujar Novita.

Novita berharap, Tim Pendamping Keluarga dapat melakukan deteksi dini potensi stunting di lingkungan sekitarnya. Menurutnya, saat ini Pokja IV PKK tengah menggalakkan pendampingan bagi bayi stunting, salah satunya di Kecamatan Munjungan.

"Pendamping keluarga ini bertugas mengomunikasikan upaya pencegahan bayi stunting. Sehingga dengan pelatihan ini, pendamping diharapkan bisa mengenali sejak dini potensi-potensi stunting," tutur istri Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin itu.

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Trenggalek, Novita Hardini Mochammad saat mengisi pelatihanKetua Tim Penggerak PKK Kabupaten Trenggalek, Novita Hardini Mochammad saat mengisi pelatihan

Baca juga:
Paskibraka Sukses Jalankan Tugas, Mas Ipin Janjikan Beasiswa

Novita menambahkan, kehamilan di bawah 21 tahun cenderung beresiko stunting. Untuk itu, perkawinan anak perlu dicegah. Dia menyarankan warga menikah di usia matang, untuk menghindari risiko-risiko negatif. Hal ini dibutuhkan peran serta pendamping dalam melakukan edukasi kepada para remaja.

Kehamilan di usia 40 tahun juga perlu perhatian khusus, karena rentan risiko. Remaja perempuan yang cenderung anemia saat remaja, perlu juga ada edukasi yang tepat, sehingga pendampingan keluarga perlu dilakukan untuk kalangan remaja.

Selain pentingnya menjaga kesehatan dan menjalankan pola hidup sehat, edukasi seks di luar pernikahan juga perlu diperhatikan. Karena rasa penasaran ingin coba-coba akhirnya menyesal ke depannya.

"Harapan saya ini bisa menguatkan masing-masing tim pendamping keluarga. Mendapatkan tugas sebagai pendamping keluarga itu pastinya tidaklah mudah. Pengutan ini hatapannya bisa menjadi pondasi yang kuat bagi mereka ketika bertugas dalam pendampingan," tambahnya.

Baca juga:
Pemkab Trenggalek Bedah Rumah Warga di Hari Kemerdekaan

Sementara Plt. Camat Munjungan, Yusuf Widarso berharap peran Tim Pendamping Keluarga dalam upaya pencegahan stunting di daerahnya. Apalagi tekad Kabupaten Trenggalek bisa menekan angka stunting 14%.

Yusuf sangat menyadari bahwa tugas pendampingan ini sangat berat. Namun dirinya yakin para pendamping mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

"Saya yakin anda mampu. Semoga ini menjadi amal kebaikan bagi para pendamping," pungkasnya.