Pixel Code jatimnow.com

Cari MSAT di Jombang, Polisi Geledah Ruang Tersembunyi, Amankan 320 Simpatisan

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Elok Aprianto
Salah satu simpatisan MSAT saat diamankan polisi di Jombang (Foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)
Salah satu simpatisan MSAT saat diamankan polisi di Jombang (Foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)

Jombang - Polisi terus mencari keberadaan MSAT DPO pancabulan santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Shiddiqqiyah, Losari, Ploso, Jombang, Kamis (7/7/2022). Berbagai upaya dilakukan mereka.

"Di dalam banyak simpatisan. Kita amankan 320 orang (simpatisan) ke Polres Jombang, 20 di antaranya anak-anak. Ini masih kita pilah-pilah. Karena ada yang dari Malang, Banyuwangi, Semarang, Yogyakarta bahkan Lampung," terang Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Dirmanto di lokasi.

Menurut Dirmanto, mereka diamankan karena mencoba menghalang-halangi upaya polisi dalam mencari dan menangkap MSAT. Padahal sudah jelas dalam undang-undang, siapapun yang menghalangi, bisa dipidana.

"Pasal 19 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2022, menghalang-halangi upaya penyidikan terhadap kasus kekerasan seksual, ancaman hukumannya 5 tahun," jelasnya.

Selain itu, lanjut Dirmanto, pihaknya juga meminta keluarga MSAT agar kooperatif.

Baca juga:
Identitas Mayat Dalam Selang Air yang Ditemukan Warga Jombang Terungkap

"Kami mengimbau pada keluarga MSAT kooperatif membantu kami. Kami sudah humanis dalam menangani kasus ini," tambahnya.

Selain berkoordinasi dengan keluarga, polisi juga terus melakukan upaya pencarian di seluruh bagian ponpes seluas sekitar 5 hektar tersebut.

"Kami fokus di Ploso. Banyak ruangan kosong dan tersembunyi. Kami masih berproses di dalam," tandas Dirmanto.

Baca juga:
Kisah Masjid Mbah Buyut Sona Jombang Berada di Tengah Galian C

MSAT merupakan anak dari KH M Mochtar, pimpinan ponpes tersebut. Dia ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pencabulan terhadap santriwati asal Jawa Tengah yang mondok di ponpes itu.

Karena selalu mangkir dari panggilan sebagai tersangka, MSAT akhirnya ditetapkan sebagai DPO. Kasus dugaan pencabulan itu mencuat sejak 2019. Dalam perjalannya, MSAT kemudian ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik di Polda Jatim pada Tahun 2020.