Pixel Code jatimnow.com

Soto Ringin Budho, Kuliner Legendaris di Pare Kediri Tetap Eksis

Editor : Sofyan Cahyono Reporter : Yanuar Dedy
Dian dan ibunya sedang meracik soto untuk pembeli.(Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Dian dan ibunya sedang meracik soto untuk pembeli.(Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)

Kediri - Bicara soal kuliner khususnya Soto, di Kediri memang cukup beragam. Ada Soto Tamanan di Kelurahan Tamanan, Soto legendaris Podjok dan Pakelan di jantung Kota Kediri. Lalu ada Soto Branggahan yang berjajar di Kecamatan Ngadiluwih.

Tak hanya itu, di Selatan Taman Ringin Budho, Pare, ada pula soto yang tak kalah lezat. Namanya persis dengan taman tersebut, Soto Ringin Budho. Di sana memang terdapat Pohon Beringin besar yang menaungi Arca Ganesha yang menjadi ikon Pare.

Mewarisi resep sang empunya, Dian Maria generasi ketiga Soto Ringin Budho terus menjaga agar kuliner tetap eksis. Kuliner yang buka pagi dan sore itu tak pernah sepi pengunjung.

Menurut Dian, Soto Ringin Budo dirintis neneknya bernama Suparmi sejak 1956. Lokasi awalnya berada di kios-kios sebelah Pohon Beringin besar itu.

“Dulu mbah putri (nenek) yang mengawali, sekitar 1956,” kata Dian, Rabu (20/7/2022).

Tampak depan warung Soto Ringi Budho.(Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)Tampak depan warung Soto Ringi Budho.(Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)

Namun karena suatu hal, pada 1990-an warung Suparmi pindah. Warung itu pindah di sekitar Polres Kediri. Sebelum akhirnya kembali ke kawasan tersebut pada 1995. Sejak Suparmi meninggal, pewaris resep adalah ibu kandung Dian yang saat ini masih turut membantunya.

Baca juga:
Javier Roca Tak Hadiri Jumpa Pers, Sinyal Mundur dari Persik Kediri Menguat

Selain resep rahasia keluarga, mereka masih menjaga kekhasan kuliner dengan menggunakan arang hitam sebagai pemasaknya. Ini yang membuat Soto Ringin Budho terasa lebih sedap.

“Semua dipertahankan. Arang ini dulu sejak mbah juga pakai arang,” tambah Dian.

Untuk isian, berbeda dengan Soto Tamanan, Soto Podjok, Soto Pakelan dan Soto Branggahan. Soto Ringin Budho menggunakan daging sapi yang empuk dengan cita rasa kuah yang khas. Di tambah telur asin lebih mantap.

Karena rasa yang enak dan porsi yang tidak terlalu banyak, umumnya pelanggan yang datang selalu tambah lebih dari satu porsi. Berbeda dengan Soto Lamongan, sejak dulu warung ini memang menggunakan mangkuk berukuran sedang.

Baca juga:
Mas Dhito Kembangkan Nanas PK-1 Mulai Pembenihan hingga Pengembangan Kawasan

Sehari, Dian mengaku bisa menghabiskan 8 kilogram daging sapi dan 8 kilogram beras. Tak hanya warga lokal, penikmat Soto Ringin Budho juga datang dari luar daerah.

“Kalau Lebaran atau momen liburan gitu yang datang dari jauh-jauh, Jakarta atau mana gitu,” terangnya.

Untuk harga, per porsi soto Rp15.000. Kalau tambah telur asin menjadi Rp18.500. Warung ini buka pagi hingga siang hari. Kemudian berlanjut pada sore hingga malam.