Pixel Code jatimnow.com

Kesaksian Pelajar SMA Korban Pengeroyokan di Surabaya

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Zain Ahmad
Ilustrasi/jatimnow.com
Ilustrasi/jatimnow.com

Surabaya - Tiga remaja yang dikeroyok puluhan pemuda yang disebut sebagai alumni SMAN 7 Surabaya, merupakan pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dr Soetomo Surabaya (SMEKDOR).

Para korban saat ini masih dalam tahap pemulihan, akibat luka di sejumlah tubuhnya usai dikeroyok para pelaku. Satu dari tiga korban tersebut kini sedang dirawat intensif di Rumah Sakit Adi Husada Surabaya karena mengalami pendarahan hebat pada hidung dan mulut.

Salah satu korban berinisial D (17), warga Surabaya menceritakan bahwa kasus pengeroyokan itu bermula saat dirinya dan teman-temannya nongkrong di kawasan Pakuwon Trade Center (PTC) sekitar pukul 20.00 WIB, Sabtu (30/7/2022).

Ketika nongkrong, D mengetahui ada kericuhan antara pelajar SMAN 7 Surabaya dengan SMEKDOR yang saat itu sedang bertanding futsal. Tak hanya para pelajar, sejumlah alumni dari kedua sekolah itu turut terlibat.

"Bentrok itu awalnya. Sampai ke luar-luar tempat futsal. Kebetulan saya tahu pas waktu itu. Saya merasa sebagai kakak kelas, kemudian berusaha melerai perkelahian. Dan berhasil. Kemudian saya bilang ke teman-teman SMAN 7, tak suruh bawa adik kelas yang dipukuli ini. Kasihan, saya pisah. Biar nggak bentrok lagi," terang D saat ditemui jatimnow.com, Rabu (3/8/2022).

Setelah kericuhan berhasil diredam, D berpindah tempat ke daerah Gor Pancasila untuk berkoordinasi dengan alumninya. Saat itulah, tiba-tiba ada pelajar yang dari SMAN 7 melintas. Beberapa di antaranya ada yang ia kenal.

Namun tanpa diketahui D, tiba-tiba adek kelasnya langsung mengeroyok sejumlah pelajar dari SMAN 7 itu. D kembali berupaya melerai keributan dan mengamankan korban agar tidak dipukuli. Setelah itu, ia berkoordinasi dengan sahabat semasa kecilnya yang kebetulan bersekolah di SMAN 7.

Dalam koordinasi itu, D lantas mengirimkan video bernada candaan yang merekam sejumlah pelajar SMEKDOR yang sedang ribut di tepi jalan. Video candaan itu rupanya direspon oleh sahabat kecilnya dengan menyebarkan ke grup alumni SMAN 7 Surabaya. Dari situlah para alumni naik pitam dan mencari keberadaan D.

"Awalnya saya tidak tahu kalau video itu disebar. Lalu saya balik jam 10 malam. Setelah itu saya di chat sahabat saya, bilang kalau ada yang nyari saya. Ya nggak apa-apa, saya pikir itu untuk menyelesaikan masalah di GOR Unesa dan GOR Pancasila. Karena saya hanya kirim video keributan ke sahabat saya itu, untuk ngasih tahu. Tapi malah disebar ke alumni-alumni SMAN 7," jelas dia.

Tak lama setelah itu, D lantas dihubungi oleh sejumlah alumni SMAN 7 Surabaya dan mengajak bertemu di sebuah warung kopi (warkop) di sekitar Mal BG Junction Surabaya.

Saat pertemuan itu, D mengajak temannya SL (17). Sementara dari alumni SMAN 7, juga yang datang dua orang. Setelah bertemu dan ngobrol, para alumni tersebut lantas mengajak D dan SL pindah tempat ke Jalan Pringadi.

Karena niatnya ingin menyelesaikan masalah, D dan SL lantas menuruti permintaan kedua alumni SMAN 7 itu. Rupanya, ajakan kedua alumni itu berujung pengeroyokan.

Saat baru tiba di Jalan Pringadi, samping SMAN 9, D dan SL langsung dihajar puluhan alumni SMAN 7 hingga babak belur sampai tersungkur tak berdaya.

Baca juga:
Satpol PP Sesalkan Pengeroyokan Pelajar Surabaya di Kawasan Steril Tawuran

"Saya baru sampai sama teman saya, belum turun motor langsung dipukul sama helm kena wajah saya. Lalu saya dikeroyok ramai-ramai. Sekitar 20 an anak. Sampai mata saya buram nggak bisa lihat. Teman saya juga. Setelah saya sedikit sadar dan bisa melihat lagi, saya dan teman saya diajak muter-muter, terus dikasih minum. Kalau nggak salah ke daerah Tambaksari. Terus di situ saya dan teman saya kembali dipukuli bahkan sampai disulut rokok di leher. Teman saya di tangan. Saya juga diajak duel," beber D.

Menurutnya, pengeroyokan itu berlangsung hingga sekitar pukul 03.00 WIB. Selanjutnya, dengan tubuh yang sudah tidak berdaya, dia dan temannya kembali dibawa berputar-putar, dibonceng dengan motornya kembali ke Jalan BKR samping SMAN 9 Surabaya.

Di tempat itu, D dan SL yang sudah tak berdaya dengan luka di tubuhnya, dipaksa untuk berduel dengan 4 orang dan kembali mengalami pengeroyokan oleh puluhan alumni SMAN 7.

Tak cukup itu, handphone D juga dirampas dan para alumni SMAN 7 menghubungi korban ketiga yakni RZ (17), menggunakan handphone D. Saat itu, RZ sedang tidur di rumah.

RZ yang merupakan anak yatim dan merupakan adik kelas D dan SL, langsung ke lokasi menjemput D. Karena saat handphone D dibajak itu mengatakan bahwa D tidak bawa motor dan minta tolong dijemput.

"Sebenarnya adik kelas saya ini (RZ) tidak tahu apa-apa. Dia dijebak pakai HP saya. Pas datang ya saya bingung, kok dia datang. Nggak lama, pas sampai lokasi, dia langsung dihajar juga. Saya juga dikeroyok juga. Bahkan adik kelas saya ini sudah posisi terlentang di tanah, tak berdaya, terus dilempar paving ke arah kepalanya. Beruntung waktu itu saya lihat sempat ditangkis menggunakan tangan," kenang D.

Usai dihajar bertubi-tubi, D, SL dan RZ lantas dibebaskan oleh para pelaku sekitar pukul 06.00 WIB, di Jalan Kusuma Bangsa. Sebelum pulang, mereka bertiga disuruh untuk cuci muka dan membersihkan lukanya di SPBU jalan itu.

Baca juga:
Kasus Pengeroyokan Pelajar di Surabaya, Polisi Sudah Tangkap 3 Tersangka

Saat itulah RZ menyelamatkan diri. Kemudian oleh para pelaku, dia justru diteriaki maling. Karena takut, RZ akhirnya menyerah dan menuruti semua perkataan para pelaku.

Setelah para korban sudah sampai di rumah, mereka mengadu ke orangtuanya masing-masing. Hingga kemudian orangtau D, melaporkan kasus tersebut ke Polsek Genteng, hingga diarahkan ke Polrestabes Surabaya karena para korban masih anak-anak.

Laporan orangtua korban kemudian diterima di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Surabaya pada 1 Agustus 2022. Kemudian dilakukan penyelidikan hingga saat ini.

Terpisah, paman RZ meminta agar pihak kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut. Mengingat keponakannya saat ini masih terbaring lemas di rumah sakit, akibat pendarahan di hidung dan mulut.

"Saya meminta polisi agar segera menangkap para pelaku. Saya nggak terima. Ini sudah keterlaluan. Keponakan saya nggak tahu apa-apa tapi dihajar seperti maling. Saya minta para pelaku dihukum yang setimpal," tegasnya saat ditemui jatimnow.com di kediamannya.