Pixel Code jatimnow.com

Nikmatnya Nasi Gulung, Kuliner Khas Kawasan Tambang Minyak Tua di Bojonegoro

Editor : Arina Pramudita Reporter : Misbahul Munir
Nasi gulung khas Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, kawasan tambang minyak di Kabupaten Bojonegoro. (Foto-foto: Misbahul Munir/jatimnow.com)
Nasi gulung khas Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, kawasan tambang minyak di Kabupaten Bojonegoro. (Foto-foto: Misbahul Munir/jatimnow.com)

Bojonegoro - Di kawasan tambang minyak tua Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, terdapat kuliner unik penggoyang lidah siapa saja yang mencicipinya. Namanya Nasi Gulung.

Kuliner ini semakin hits seiring dengan gencarnya promosi kuliner tradisional khas Bojonegoro.

Sesuai namanya, nasi gulung adalah nasi liwet yang digulung dengan daun pisang kemudian diikat rapat dan dimasak kembali hingga matang. Cara memasak ini membuat nasi liwet semakin punel dan harum.

Sebagai pelengkapnya, kudapan ini biasa disajikan dengan sambal teri, rica-rica, sambal jeroan ayam atau oseng ikan laut. Sensasi pedas nan gurih, membuat penikmatnya selalu balik lagi.

Heni, penjual nasi gulung menyebut, menu ini dulunya merupakan bekal bagi para pekerja tambang minyak pada masa pemerintah kolonial Belanda.

Lokasi tambang minyak yang jauh dari pemukiman warga, ditambah minimnya moda transportasi saat itu, membuat istri para pekerja tambang menyiapkan perbekalan untuk di perjalanan dan saat bekerja.

"Dulu disebutnya sego bontot (nasi bekal) untuk pekerja tambang minyak Belanda," jelas Heni, Minggu (7/8/2022).

Nasi liwet yang dimasak dengan digulung daun pisang, buatan Heni.Nasi liwet yang dimasak dengan digulung daun pisang, buatan Heni.

Metode memasak dua kali menggunakan daun pisang, lanjut Heni, agar nasinya awet dan ringkas untuk dibawa sebagai bekal.

Baca juga:
Mencicipi Sate Taichan, Masakan asal Jepang yang Digandrungi Milenial Jombang

"Nasi liwet yang sudah matang yang digulung dan dimasak lagi ini, bisa awet selama 2 hari," ungkapnya.

"Daun pembungkusnya ini biasanya dari pohon pisang raja, pisang gepok dan pisang susu. Kalau pake daun pisang lain biasanya pas matang itu ada rasa sepat (getir) dan warnanya kurang bagus, jadi kurang cocok," tambahnya.

Setiap hari, ia bisa memasak kiloangram beras untuk membuat nasi gulung. Soal omzet, Heni mengaku bersyukur karena sajian buatannya kini bisa menjadi ladang rizki agar dapur terus mengepul.

"Pokoknya Alhamdulillah, mas. Kadang pagi mau berangkat ada tetangga yang beli dan para pekerja tambang juga, kadang juga ada pesanan dari Bojonegoro kalau pas ada acara," jelasnya.

Baca juga:
Sajian Khas Sambal Ale yang Bisa Bikin Ketagihan

Warung nasi gulung, kuliner khas Kecamatan Kedewan, Bojonegoro.Warung nasi gulung, kuliner khas Kecamatan Kedewan, Bojonegoro.

Tak jarang, wanita cantik ini juga menerima pesanan dalam jumlah besar untuk hajatan atau acara lainnya. Heni juga bisa melayani pembelian di luar Kecamatan Kedewan.

Untuk seporsi nasi gulung lengkap dengan sambal, Heni mematok harga yang sangat terjangkau, yakni Rp6 ribu saja.

"Tergantung jumlahnya, untuk harganya tetap sama Rp6 ribu, cuma nambah untuk biaya ongkos kirimnya (jika pemesanan di luar Kecamatan Kedewan)," pungkasnya.