Pixel Code jatimnow.com

Sempat Diragukan, Lilik Budi Sukses Budidaya Kopi di Bojonegoro

Editor : Zaki Zubaidi Reporter : Misbahul Munir
Pemilik lahan Lilik Budi Witoyo saat memperlihatkan kopi hasil budidayanya. (Foto-foto: Misbahul Munir/jatimnow.com)
Pemilik lahan Lilik Budi Witoyo saat memperlihatkan kopi hasil budidayanya. (Foto-foto: Misbahul Munir/jatimnow.com)

Bojonegoro - Lilik Budi Witoyo warga Desa Tlogohaji, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro berhasil mengembangkan dan budidaya tanaman kopi.

“Awal 2018 saya mengolah lahan untuk ditanami kopi. Berangkat dari rasa penasaran sekaligus riset untuk mengembangkan kopi di Bojonegoro, yang bisa dibilang tak bisa ditanami kopi, karena faktor cuaca dan kondisi tanah yang berbeda dengan habitat alaminya," ujar Budi dalam kegiatan seduh kopi pertama dan diskusi budidaya kopi bersama sejumlah kelompok tani dari berbagai daerah, Sabtu (10/9/2022).

Budi mengungkapkan di awal sempat diragukan oleh sejumlah pihak. Namun hal itu dibuktikan dengan tanaman kopi yang ia lakukan dapat tumbuh hingga kini dapat dipanen. Saat ini terdapat 150 pohon kopi yang ditanam yang terdiri dari empat varietas yaitu Robusta, Arabika, Liberika dan Ekselsa.

Menurutnya untuk satu pohon kopi dapat menghasilkan kurang lebih 1 Kg kopi, Sedangkan, jika sudah maksimal bisa mencapai 3 Kg biji kopi untuk satu pohon.

"Kuncinya yakni pada pengolahan tanah bisa dengan menggunakan media tanam sekam, dan memperbanyak usur hara. Kemudian mencukupi kebutuhan air, ditambah tanaman peneduh untuk mensiasati kondisi cuaca panas di Bojonegoro," bebernya.

Budi mengatakan, berdasarkan data Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) sejak empat tahun terakhir konsumsi kopi di Indonesia naik tajam hingga 50%. Sedangkan, dalam urutan dunia, Indonesia berada di urutan keempat sebagai penikmat kopi terbanyak.

“Kopi itu bukan lagi termasuk kebutuhan sekunder, melainkan saat ini menjadi kebutuhan primer (pokok) bagi setiap orang. Sehingga budidaya kopi merupakan peluang besar untuk peningkatan ekonomi,” imbuh Budi.

Baca juga:
Petugas Lapas Gelar Razia Dadakan untuk Antisipasi Masuknya Barang Terlarang

Sementara itu, Ngadi pengelola kebun kopi menambahkan, kelebihan menanam tanaman jangka panjang seperti kopi ini, yakni ditanam hanya sekali tapi bisa dipanen berkali-kali.

“Sedangkan untuk kelemahannya yakni, diawal penanaman 1 sampai 2 tahun butuh penanganan yang cukup intensif untuk memastikan tanaman tumbuh normal,” jelas Ngadi kepada sejumlah petani

Untuk biaya perawatan lanjut Ngadi, lebih murah, penggunaan pupuk pun jauh lebih irit serta mudah didapat.

Baca juga:
Pelajar Diperiksa Polisi karena Diduga Ibu Pembuang Bayi di Bawah Pohon Kelor

"Selain bernilai ekonomis, dengan menanam kopi sekaligus konservasi alam sebab tanaman kopi tidak bisa jauh dari tanaman peneduh, serta karakter tanaman kopi lebih mudah untuk menyerap air, dan akarnya bisa mencegah dari longsor, sehingga alam tetap lestari dan terhindar dari bencana," pungkasnya

Gayung pun bersambut, Imam salah satu petani asal Kecamatan Temanyang mengaku tertarik untuk ikut ambil bagian dalam mengembangkan budidaya kopi di lahan miliknya.

"Ini menarik untuk dicoba melihat prospek kedepan sepertinya tanaman kopi ini bagus," tandasnya.