Pixel Code jatimnow.com

Wow! Mahasiswa UHW Perbanas Surabaya Ciptakan Lampu Anti Insomnia

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Farizal Tito
Mahasiswa UHW Perbanas Surabaya memamerkan lampu anti insomnia ciptaannya (Foto: UHW Perbanas Surabaya)
Mahasiswa UHW Perbanas Surabaya memamerkan lampu anti insomnia ciptaannya (Foto: UHW Perbanas Surabaya)

Surabaya - Empat Mahasiswa Universitas Hayam Wuruk (UHW) Perbanas Surabaya berhasil menciptakan lampu anti insomnia. Lampu yang berfungsi 3-in-1 itu juga dapat meningkatkan kualitas tidur seseorang.

Lampu yang dinamai Lantern ini menyuguhkan perpaduan antara lampu tidur, aroma terapi dan hiasan kamar. LANTERN dapat memberikan rasa nyaman dan tenang sepanjang malam.

Keempat mahasiswa itu adalah Astika Puspitasari (S1 Manajemen), Lutfiyatul Inayah (D3 Perbankan dan Keuangan), Dewi Rosanti (D3 Perbankan dan Keuangan) dan Krisnanda Dwi Cahyo (D3 Perbankan dan Keuangan).

Ketua kelompok pembuat lampu Lantern, Lutfiyatul Inayah menjelaskan, saat digunakan, lampu yang terbuat dari jar kaca ini bisa memberikan suasana berbeda saat menikmati keindahan kamar dengan unsur siluet dari pancaran cahayanya.

"Kenapa kita pilih lampu tidur ini berbahan dasar jar kaca, yakni untuk memunculkan inovasi siluet yang dilengkapi aroma terapi untuk merelaksasikan pikiran ketika pengguna mencium wanginya," ujar Lutfiyatul melalui siaran tertulis, Minggu (11/9/2022).

Sedangkan proses penciptaan lampu tidur 3 in 1 ini berangkat dari sebuah riset. Di situ, keempat mahasiswa tersebut menemukan bahwa tingkat stres dan kecemasan rang di Indonesia meningkat di Tahun 2022.

Baca juga:
Mahasiswa Universitas Ciputra Ciptakan Codesk, Meja Kerja yang Mudah Diangkut

"Hal itu mengganggu kualitas tidur di malam hari. Lalu kami menyebar link survei melalui kuisioner Google form terkait kualitas tidur masyarakat," jelas Mahasiswi Program D3 Perbankan dan Keuangan itu.

Dia menjelaskan, dari hasil riset ditemukan rata-rata kualitas tidur masyarakat tergolong cukup buruk, yaitu berdurasi di bawah 5 jam. Padahal normalnya, rata-rata manusia tidur per harinya 7,5 jam.

"Sedangkan pada lampu itu juga terdapat barcode spotify yang dapat di-scan berisi playlist lagu, podcast afirmasi, meditasi, seperti meditasi overthingking, cara tidur nyenyak dan bagaimana cara mengatasi kesulitan tidur itu sendiri," bebernya.

Baca juga:
SIG Kukuhkan Posisi Penyedia Solusi Bahan Bangunan Terbesar Regional

Sementara Astika Puspitasari mengaku tidak menemui banyak kesulitan dalam proses pembuatan lampu tidur yang dikerjakan sejak Juli 2022 tersebut. Bahkan, lampu tidur karyanya itu kini sudah laku sebanyak 21 pcs.

"Kalau proses pembuatan, kendalanya ada pada proses pengecatan. Karena menunggu keringnya lama. Secara umum pembuatannya cukup mudah, tapi ada kesulitan tertentu. Untuk lakunya sudah 21 pcs. Semua dijual lewat platform digital hingga pemesanan langsung," terangnya.