Pixel Code jatimnow.com

Pasutri di Jombang Mampu Jual Anyaman Bambu Hingga Malaysia dan Singapura

Editor : Sofyan Cahyono Reporter : Elok Aprianto
Besek hasil karya pasutri asal Dusun Kepuhrejo, Desa Grogol, Diwek, Jomang.(Foto: Elok Aprianto)
Besek hasil karya pasutri asal Dusun Kepuhrejo, Desa Grogol, Diwek, Jomang.(Foto: Elok Aprianto)

Jombang - Aris Susanto (38) dan Etikawati (36) mampu mengumpulkan rupiah dari bambu yang disulap menjadi beraneka ragam kerajinan. Mereka merupakan pasangan suami-istri (pasutri) asal Dusun Kepuhrejo, Desa Grogol, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.

Awalnya, Aris dan Etikawati membuat anyaman bambu menjadi besek. Selanjutnya mengembangkan ide kreatifnya mengubah anyaman bambu menjadi kerajinan tangan bernilai jual tinggi.

Saat ditemui di rumahnya, Aris dan Etikawati tampak menumpuk kerajinan anyaman bambu di ruang tamu dan depan rumah. Mulai dari hampers, rantang besek, boks tumpeng, bakul nasi kecil dan kerajinan lainnya.

Tampak juga seorang pekerja sedang menata dan memasang tali pada hasil kerajinan anyaman bambu. Sementara di belakang rumahnya digunakan untuk produksi. Di situ ada beberapa laki-laki yang sedang bekerja menyusun kerangka rantang di teras belakang. Kemudian halaman rumah bagian depan, digunakan untuk menjemur beberapa kerajinan sebelum diproses finishing.

Besek hasil karya pasutri asal Dusun Kepuhrejo, Desa Grogol, Diwek, Jomang.(Foto: Elok Aprianto)Besek hasil karya pasutri asal Dusun Kepuhrejo, Desa Grogol, Diwek, Jomang.(Foto: Elok Aprianto)

Arif menjelaskan, ide usahanya muncul setelah diberhentikan dari pekerjaannya di salah satu pabrik olahan kayu di Jombang.

"Sudah sejak 2019, setelah saya keluar dari pabrik terus belajar otodidak sampai akhirnya keterusan sampai sekarang," ungkapnya, Selasa (13/9/2022).

Proses pembuatan kerajinan dilakukan secara manual tanpa menggunakan mesin. Mulai dari mendatangkan bambu hingga pemotongan, juga dilakukan manual.

"Pemotongan di sini, tapi mulai di irat atau ditipiskan dan penganyaman biasanya ada sendiri. Beberapa membawa ke rumahnya sendiri-sendiri untuk dikerjakan," katanya.

Baca juga:
Pria Asal Mojokerto Ini Menghasilkan Cuan dari Enceng Gondok

Usai dikerjakan oleh pekerja yang merupakan tetangganya, anyaman bambu kembali disetorkan ntuk dilakukan proses perakitan. Anyaman bambu dibentuk sesuai pesanan. Mulai besek biasa hingga besek kekinian seperti hampers dan rantang bambu.

"Untuk perakitan seluruhnya di sini. Jadi pembuatan kerangka sampai menyusun dan membentuk anyamannya di sini, saya sendiri yang mengerjakan dibantu beberapa karyawan," tegasnya.

Setelah selesai dibentuk, kerajinan dijemur sebelum difinishing dan dihias dengan asesoris tambahan. Asesoris inilah yang membuat produk buatan Arif bernilai lebih dan menampilkan kesan eksklusif.

"Semuanya dibuat premium. Sasaran pasar kami memang kuliner atau katering, sehingga bentuknya harus bagus dan bersih karena rata-rata yang pesan juga kalangan menengah atas," bebernya.

Baca juga:
Pilihan Pembaca: Truk Tanpa Sopir, Pelaku Tabrak Lari, Ukir Kotak Musik

Ia menjual produknya dengan harga cukup terjangkau. Untuk besek wadah nasi, biasa dijual mulai Rp2.500 untuk kualitas biasa hingga Rp7.000 untuk kualitas deluxe. Sedangkan rantang bambu dibanderol mulai Rp15 ribu hingga Rp50 ribu untuk kualitas paling bagus.

"Paling mahal biasanya boks tumpeng karena ukurannya besar, ya. Pernah sampai ada yang harga Rp180 ribu, itu ukuran 1,5 meter x 2 meter,"ujarnya.

Untuk pemasaran biasa dilakukan Etikawati. Menurut Etika, produknya sudah merambah pasar hampir seluruh Indonesia.

"Mulai Aceh sampai Papua, sudah. Di beberapa kota besar kami juga punya reseller, yang paling jauh sampai Malaysia dan Singapura," pungkasnya.