Pixel Code jatimnow.com

Cerita Anak Tukang Bangunan Peroleh Beasiswa Jalur Hafidz di UMSurabaya

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Farizal Tito
Bunayya Latifah (kanan) peraih beasiswa Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Surabaya jalur menghafal Al-Quran saat berfoto dengan keluarganya (Foto: Dat for jatimnow.com)
Bunayya Latifah (kanan) peraih beasiswa Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Surabaya jalur menghafal Al-Quran saat berfoto dengan keluarganya (Foto: Dat for jatimnow.com)

Surabaya - Bunayya Latifah, mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya Program Studi Farmasi mendapat banyak berkah dan kemudahan hidup berkat menghafal Al-Quran 30 juz.

Putri pasangan Marzuki (52) yang bekerja sebagai tukang bangunan dan Nur Afifah (42) sebagai pedagang sayur keliling tersebut berhasil memperoleh beasiswa pendidikan secara penuh di UMSurabaya melalui jalur beasiswa tahfidz.

Perempuan asal Tuban yang biasa dipanggil Naya itu menceritakan perjalanan hidupnya. Sejak SD hingga SMP ia tak memiliki cita-cita menjadi seorang hafidzah. Bahkan untuk mengaji Al-Quran saja makhorijul hurufnya berantakan semua.

"Dari kecil hingga SMP saya sekolah negeri jadi untuk pengetahuan agama saya sangat kurang. Kalau orang Jawa bilang ngaji saya waktu itu plegak plegok (kurang lancar)," ungkap Naya.

Bahkan setelah lulus dari SMP, saat diminta untuk sekolah di pondok oleh orangtuanya, Naya beberapa kali menolak. Karena dia membayangkan jika pondok pesantren itu menakutkan, banyak tekanan dan tidak memiliki kebebasan.

Namun ketika ibunya memberinya motivasi bahwa pembelajaran di pondok tidak akan pernah ditemukan di bangku sekolah, sehingga hati Naya tergerak untuk berangkat mondok.

"Kalau kamu tidak bisa mengaji, nanti kalau bapak ibu meninggal siapa yang akan mendoakan? Perkataan ibu yang ini membuat saya akhirnya tergerak untuk sekolah di pondok," ungkap Naya.

Rupanya setelah satu tahun mondok di Pesantren Modern Jatirogo, Naya belum menemukan kenyamanan. Di tahun pertama itu ia harus beradaptasi dengan lingkungan. Selain itu, dia harus jauh dari orangtua, pembelajaran sulit diterima karena penggunaan bahasa serta ekstrakulikuler hafal Al-Quran yang menjadi ekstrakulikuler wajib.

"Tahun pertama akademik saya hancur, hafalan juga pas-pasan. Waktu itu rasanya ingin menyerah dan pulang saja ke rumah. Namun kalau ingat kerja keras orangtua agar saya bisa bersekolah rasanya tak pantas mengeluh," kenangnya.

Di kelas 2, ia mulai menata niat dan mengejar yang menurutnya tertinggal. Ada satu kalimat pamungkas yang membuat diriya bersemangat. Kalimat itu datang dari salah satu gurunya.

Baca juga:
Lulus Doktor dengan Predikat Cumlaude, Nadya Hasilkan Puluhan Jurnal Ilmiah

Menurut gurunya, seorang Hafiz menghafal Al-Quran 30 Juz bisa menyelamatkan anggota keluarga atau orang yang disayanginya dari siksaan api neraka di akhirat kelak.

Setelah tiga tahun lulus dari sekolah ia mengantongi hafalan 4 juz. Setelah kembali pulang ke rumah ia belum berkesempatan melanjutkan kuliah, tapi orangtuanya juga tak mengizinkannya bekerja. Akhirnya ia melanjutkan mondok di tempat yang berbeda selama 2 tahun sehingga ia mengantongi hafalan 30 juz hingga saat ini.

Prepare, Perform and Perfect (3P) Menjadi Kuncinya.

Naya kembali menceritakan, untuk mencapai sesuatu yang diinginkan ia menerapkan 3P, yakni prepare, perform and perfect. Artinya ketika seseorang ingin mendapatkan sesuatu yang sempurna, makai ia harus mempersiapkan dengan sebaik-baiknya dengan matang dan penuh keyakinan.

Misal untuk mempertahankan hafalan tetap terjaga dan tidak hilang, ia harus menyetorkan setoran hafalan 3 kali sehari sekitar 2 halaman sampai 3 halaman.

Baca juga:
Kisah Cak Asad, dari Tukang Ojek, Kini Pimpin 8 Perusahaan hingga Jadi Politisi

Ia bersyukur kebiasaan itu sudah menjadi aktivitasnya setiap hari dan tidak menjadi sebuah beban. Menurutnya, tips mudah menghafal adalah menguatkan niat iringi dengan semangat dan tidak boleh ada paksaan dalam diri. Pikiran tetap tenang.

Ia berharap ketika sudah menjadi mahasiswa ia akan berusaha istiqomah untuk menjaga hafalannya. Ia juga berharap dipertemukan dengan guru tahfidz di Surabaya yang membantunya menyetorkan hafalan.

"Beasiswa ini sangat berguna bagi saya dan membuat orangtua saya bangga. Selain memberikan fasilitas untuk penghafal Al-Quran, namun juga mendidik penerimanya agar memiliki karakter pemimpin yang berlandaskan Al Quran," pungkasnya.