Pixel Code jatimnow.com

Mahasiswa Program RPL Tanggung Biaya Kuliah Sendiri Jika Lulusnya Molor

Editor : Sofyan Cahyono Reporter : Misbahul Munir
Kabid PKD dan TTG Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Bojonegoro Muhammad Imam Affan saat memberikan keterangan.(Foto: Misbahul Munir/jatimnow.com)
Kabid PKD dan TTG Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Bojonegoro Muhammad Imam Affan saat memberikan keterangan.(Foto: Misbahul Munir/jatimnow.com)

jatimnow.com - Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Bojonegoro anggarkan beasiswa kuliah sebesar Rp5,4 juta per semester bagi 1.002 mahasiswa yang mengikuti Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).

Kepala Bidang (Kabid) Pembangunan dan Kerja Sama Desa (PKD) dan Teknologi Tepat Guna (TTG) DPMD Kabupaten Bojonegoro Muhammad Imam Affan menyampaikan, program RPL ditujukan bagi perangkat desa yang belum memiliki ijazah strata satu (S1) dengan model perkuliahan singkat selama 2 tahun. Sementara untuk biaya perkuliahan ditanggung APBD Kabupaten Bojonegoro.

"Separuh SKS sudah tercover dengan portofolio kegiatan di desa. Jadi hanya setengahnya lagi yang harus diselesaikan, sehingga membutuhkan waktu 2 tahun atau 4 semester," ujarnya.

Sebelumnya, pihak DPMD membuka kuota pendaftar sebanyak 1.800 mahasiswa. Namun jumlah itu diprediksi tidak terserap sepenuhnya. Saat ini DPMD Bojonegoro hanya menganggarkan untuk 1.002 mahasiswa. Masing-masing mahasiswa dianggarkan Rp5.400.000 per semester dengan penagihan di akhir tahun atau dua semester.

"Sampai saat ini, kami masih menunggu dari pihak kampus ada berapa mahasiswa aktif dan berapa yang drop out. Sehingga nanti pembayarannya sesuai dengan jumlah mahasiswa," jelasnya.

Sejauh ini tidak terdapat kendala. Hanya saja beberapa mahasiswa mengeluhkan tugas yang banyak. Sementara mereka juga harus menyelesaikan pekerjaan di masing-masing desa.

"Dari evaluasi kemarin, minta kelonggaran dalam tugas. Tapi menggantikan SKS itu tidak mudah. sebagai gantinya melalui tugas-tugas itu, jadi walaupun berat harus tetap dijalani," Jelasnya.

Imam menambahkan, belum ditemukan mahasiswa yang drop out tahun ini. Jadi jumlahnya masih lengkap. Namun untuk tahun depan masih belum bisa diprediksi tetap lengkap atau tidak. Sebab tahun depan sudah mulai pengerjaan tugas akhir.

Baca juga:
Bojonegoro Sabet Lima Penghargaan dari Kemenkes

"Kalau lulusnya molor, biaya kemoloran tambah sendiri. Target kelulusan 4 semester. Kalau mengikuti sistem dengan baik ya sesuai target," tandasnya.

Ditanya lebih lanjut terkait rencana pembukaan kembali kuota RPL, Affan mengaku masih perlu evaluasi. Sebab pelaksanaan program ini adalah pertama Indonesia. Apabila program sukses dan berjalan lancar, memungkinkan untuk kembali dijalankan.

"Kami nanti akan evaluasi dulu. Beberapa kemarin juga ada yang berpotensi ikut, namun terkendala masa jabatan. Juga evaluasi keberhasilan apakah nanti jumlah kelulusan sama dengan jumlah masuk awal. Karena secara anggaran Pemkab Bojonegoro sangat mampu. Akan tetapi tetap kami evaluasi dulu keberhasilanya nanti diakhir tahun," pungkasnya.

Sementara salah satu mahasiswa RPL Desa yang enggan disebutkan namanya mengaku sempat kesulitan dalam memenuhi tugas dari dosen. Pasalnya, ia yang sebelumnya minim pengetahuan dalam mengoprasikan laptop dan berbagai aplikasi selama menjalani perkuliahan jarak jauh.

Baca juga:
14 Proyek Strategis Senilai Rp25 M Pemkab Bojonegoro Gagal Dieksekusi

"Progam ini sangat membantu, ada banyak pengetahuan baru yang di dapat. Jadi memang kuliah itu sangat penting, karena praktik di lapangan tanpa dibekali teori ini bisa rancu," bebernya kepada jatimnow.com saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jumat (30/9/2022).

Mahasiswa progam studi administrasi negara Universitas Negeri Surabaya itu mengaku sempat mengalami kesulitan dalam membagi waktu. Di samping menyelesaikan tugas sebagai perangkat desa, dia juga harus disibukkan dengan tugas rumah tangga. Namun itu tak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar.

"Harapannya semoga semuanya lancar bisa lulus tepat waktu," tutupnya.