Pixel Code jatimnow.com

Cerita Perajin Burung Garuda yang Sepi Pembeli Sejak Pandemi

Editor : Sofyan Cahyono Reporter : Elok Aprianto
Ichwan Irwantono (70) perajin burung Garuda asal Desa Bandung, Kecamatan Diwek, Jombang.(Foto: Elok Aprianto)
Ichwan Irwantono (70) perajin burung Garuda asal Desa Bandung, Kecamatan Diwek, Jombang.(Foto: Elok Aprianto)

jatimnow.com - Ichwan Irwantono (70) asal Desa Bandung, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, tetap eksis memproduksi kerajinan berbentuk burung Garuda. Meski usaha yang digeluti sejak puluhan tahun itu sepi lantaran pandemi Covid-19.

Saat ditemui di kediamannya, Ichwan mengaku sejak pandemi merebak di Indonesia hingga sekarang penjualan kerajinan burung Garuda turun drastis. Namun produksi tetap dilakukan.

"Lumayan lah daripada tidak ada pemasukan sama sekali," ungkapnya, Sabtu (1/10/2022).

Dikatakan Ichwan, pesanan kerajinan burung Garuda kini sepi jika dibandingkan dengan sebelum pandemi.

"Memang berkurang drastis. Dari yang biasanya 100 sampai 200 Garuda per bulan, sekarang hanya tinggal 10 hingga 15 pesanan setiap bulan. Berkurang lebih dari 90 persen," terangnya.

Meski orderan sepi, Ichwan tetap bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

"Setiap bulan juga dapat kiriman dari anak, tapi tidak enak kalau tidak pegang uang sendiri. Jadi meskipun kecil usaha pembuatan Garuda ini, tetap saya lakukan sampai sekarang," katanya.

Dikatakan Ichwan, Covid-19 masih ada hingga kini karena status pandemi belum dicabut pemerintah. Meski begitu, perekonomian sudah mulai pulih. Tapi hal itu tidak membuat orderan kerajinan burung Garuda ramai.

"Saya lebih banyak memasok ke Jakarta dan Jogjakarta. Memang dari sananya sedang sepi, sampai sekarang, karena mereka pesan cukup lewat telepon," ucapnya.

Sebelumnya setiap musim Pemilu Presiden atau momen HUT RI, biasanya kerajinan Garuda laris manis penjualannya.

"Karena kan ganti semua. Foto presiden, Garuda, itu biasanya satu paket. Jadi paling ramai ya setelah Pemilu," ujarnya.

Ichwan mengaku menekuni pembuatan kerajinan burung Garuda sejak 1992. Usaha ini memang bukan penghasilan utama. Ia pun enggan menutup usaha kerajinan burung Garuda meskipun kini sedang sepi.

Baca juga:
Pondasi Diduga Situs Peninggalan Majapahit Ditemukan di Jombang

"Ya ingat perjuangannya mulai dari cari pelanggan hingga tertipu cek palsu dinilai Rp1,2 juta saat harga Garuda masih Rp5.000, banyak kenangannya lah," paparnya.

Saat ditanya berbahan apa kerajinan burung Garuda buatannya, Ichwan mengaku karyanya berbahan baku kayu randu yang dibeli di sekitar Diwek.

"Kayu Randu lembaran. Kemudian diukir menggunakan jasa orang lain. Kalau tidak di Pare ya di Puri Mojokerto," jelasnya.

Selanjutnya jika sudah berbentuk Garuda, kemudian dijemur selama kurang lebih dua minggu.

"Karena kayu randu yang diukir masih basah, setelah itu baru dilakukan pengecatan dan ditambah dengan pernak-pernik termasuk tulisan Bhinneka Tunggal Ika. Lambang-lambang Pancasila dan dicat," tegasnya.

Ichwan membuat lambang dan tulisan menggunakan kayu triplek. Sedangkan istri bertugas untuk mengecat bagian-bagian kecil.

Baca juga:
Meneguk Segelas Kopi Sembari Menunggu Matahari Tenggelam di Tepi Sungai Brantas

"Setelah semua diwarnai, kemudian ditempel menggunakan lem kayu," sambungnya.

Garuda buatan Ichwan ukurannya cukup beragam. Paling laris adalah ukuran umum, yaitu 40 sentimeter. Tapi ada juga yang 50 sentimeter, 80 sentimeter hingga satu meter.

"Harganya beragam mulai Rp110.000 hingga Rp1,5 juta untuk ukuran paling besar. Ini baru naik Rp10.000 sebelumnya Rp100.000, karena sebuah kebutuhan naik bahan baku juga naik," ucapnya.

Saat ditanya dari mana rata-rata pelanggan burung Garuda buatannya, Ichwan menyebut pembeli setianya berasal dari Jakarta. Ada pula pelanggan dari Yogyakarta.

"Kalau mengirim pesanan Garuda menggunakan jasa ekspedisi. Sementara di Jombang, ya hanya memasok di beberapa toko. Itupun juga sekarang sangat sepi, paling ambil setahun sekali," pungkasnya.