Pixel Codejatimnow.com

Siswa SD di Surabaya Dukung Persaudaraan Bonek-Aremania Pascatragedi Kanjuruhan

Editor : Zaki Zubaidi  Reporter : Farizal Tito
Puluhan siswa Sekolah Inovatif SD Muhammadiyah 7 Jagir, Surabaya menggambar mural. (Foto: Fahrizal Tito/jatimnow.com)
Puluhan siswa Sekolah Inovatif SD Muhammadiyah 7 Jagir, Surabaya menggambar mural. (Foto: Fahrizal Tito/jatimnow.com)

jatimnow.com - Puluhan siswa Sekolah Inovatif SD Muhammadiyah 7 Jagir, Surabaya menggambar mural berisi dukungan, semangat bangkit serta membangun persaudaraan pascatragedi Kanjuruhan Malang.

Mereka menggambar bersama Komunitas Mural Surabaya di sekitar lokasi sekolahnya tentang tragedi 1 Oktober 2022 yang menyisahkan duka mendalam untuk Indonesia itu.

Wali Kelas 5 SD Muhammadiyah 7 Jagir, Surabaya Ainur Rohmawati menjelaskan, melalui mural tersebut sebagai bentuk empati atas nama kemanusiaan.

"Di sini anak-anak lagi kelas kolaborasi mural bersama Komunitas Mural Surabaya. Ini menggambarkan persatuan sepak bola, agar persatuan sepak bola di Indonesia, terutama Aremania dan (Bonek) Persebaya bersatu menjadi persaudaraan," ujar Ainur, Sabtu (8/10/2022) siang.

"Kita mengadakan mural ini sebagai bentuk duka cita agar supporter bisa bersatu lagi. Selain itu kami berharap, lewat pembuatan mural ini, para siswa bisa tertanam rasa cinta damai sejak dini dan jeli menyikapi peristiwa yang sedang terjadi," imbuhnya.

Baca juga:
Bonek Sambut Bantuan Ambulan dari Polda Jatim, Bisa Bantu Masyarakat Lebih Luas

Sementara itu, mentor dari Komunitas Mural Surabaya, Uri menjelaskan, kegiatan ini sebagai simbolis sekaligus momentum untuk mengajarkan siswa bahwa menyikapi sesuatu hal dengan kegiatan positif.

"Pihak panitia selaku guru-guru ingin menanamkan bagaimana sih cinta damai itu sejak dini. Karena nanti murid-murid di sini yang akan menggantikan pemain-pemain Persebaya di masa yang akan datang," ungkapnya.

Baca juga:
Oknum Bonek Bersajam yang Diamankan di Kediri Kini Ditetapkan Tersangka

Ia menambahkan, bahwa rivalitas ataupun fanatisme itu memang diperbolehkan dalam sebuah pertandingan olahraga. Dan selebihnya, semua adalah manusia biasa yang harus cinta perdamaian.

"Anak-anak juga menyikapi berita viral dimana-mana dengan positif, itu yang utama. Jadi tidak ada fanatisme yang negatif, anak-anak akan mengerti seperti inilah kondisi sepak bola Indonesia," ucap dia.