Pixel Code jatimnow.com

Menikmati Tumis Lobster Air Tawar di Warung Tepi Jalan Kota Pasuruan

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Moch Rois
Menikmati tumis lobster air tawar di tepi Jalan Patiunus, Kota Pasuruan (Foto-foto: Doni for jatimnow.com)
Menikmati tumis lobster air tawar di tepi Jalan Patiunus, Kota Pasuruan (Foto-foto: Doni for jatimnow.com)

jatimnow.com - Siapa sangka, menu tumis lobster air tawar kini bisa dinikmati di warung kecil sederhana di tepi Jalan Patiunus, Kelurahan Krampyangan, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan.

Rudi Eko (50) mengatakan, warung miliknya itu dijaga sendiri bersama istrinya, Umi Kulsum. Warung itu buka setiap hari pada pukul 15.00 WIB dan tutup pukul 22.00 WIB.

"Kami awalnya coba-coba menjual menu baru, yakni tumis lobster air tawar di warung. Ternyata peminatnya lumayan," ujar Rudi sembari sibuk membuka warungnya.

Untuk satu porsi tumis lobster air tawar dilengkapi dengan sepiring nasi panas, dibandrol Rudi dengan harga Rp80 ribu.

"Seporsi itu berisi empat ekor lobster air tawar, panjangnya 15 sentimeter. Untuk diameter dan beratnya saya tidak menimbang, karena langsung saya ambil dari kolam sendiri. Yang jelas, empat ekor itu sudah memuaskan lidah pelanggan lah," tutur dia.

Menikmati tumis lobster air tawar di tepi Jalan Patiunus, Kota PasuruanMenikmati tumis lobster air tawar di tepi Jalan Patiunus, Kota Pasuruan

Untuk ragam minuman yang disediakan cukum umum, mulai es jeruk atau jeruk panas dengan harga Rp5 ribu dan es teh atau teh hangat seharga Rp4 ribu.

"Menu makanan utama yang kami jual sebenarnya adalah lalapan belut sawah goreng dengan sambel terasi. Harganya seporsi Rp15 ribu," tambahnya.

Rudi menceritakan bahwa usaha warung makannya ini baru dirintis Tahun 2021, saat Pandemi Covid-19 melanda. Sebelum menggeluti usaha kuliner, dia sudah puluhan tahun menjalankan bisnis handy craft.

Berbagai kerajinan berbahan dasar kayu, seperti sepeda kayu, miniatur kapal dan karya seni lain, lahir dari tangan dinginnya.

"Empat unit miniatur kapal saya pernah dibeli orang Australia. Satu unitnya harganya jutaan. Kalau karya seni yang dijual di Bali dan kota-kota lainnya banyak. Saya lupa," kenangnya.

Setelah masa jayanya menekuni usaha handy craft, usaha Rudi terpukul akibat Pandemi Covid-19, hingga guling tikar.

Menikmati tumis lobster air tawar di tepi Jalan Patiunus, Kota PasuruanMenikmati tumis lobster air tawar di tepi Jalan Patiunus, Kota Pasuruan

Saat awal pandemi Tahun 2020 lalu itu, banyak penyekatan akses mobilitas membuat usahanya saat itu mandek. Hingga akhirnya para karyawan yang bekerja di bengkel handy crafnya dirumahkan semua.

"Setelah saya lupakan, saya menyambung hidup dari uang tabungan. Akhirnya saya coba beternak lobster air tawar. Setelah berkembang, saya bingung jual ke mana. Akhirnya Tahun 2021, karena tabungan habis, saya memutuskan membuka warung lalapan belut di bengkel handy craft saya," tuturnya.

Setelah warung lalapan belut sawahnya laku dan banyak peminatnya, Rudi pun coba menjajakan menu lobster air tawar.

"Dulu, lobster saya sampai 5000 ekor. Karena habis saya makan sendiri bersama keluarga, sekarang tinggal ratusan. Karena sekarang laku, lobster ini saya kembangkan lagi," tandasnya.