Pixel Code jatimnow.com

IPM Surabaya Tertinggi di Jatim, Respons Pemkot Begini

Editor : Rochman Arief Reporter : Ni'am Kurniawan
Program padat karya yang digagas Pemkot Surabaya diharapkan bisa memperbaiki IPM kota. (foto: Diskominfo Pemkot Surabaya for jatimnow.com)
Program padat karya yang digagas Pemkot Surabaya diharapkan bisa memperbaiki IPM kota. (foto: Diskominfo Pemkot Surabaya for jatimnow.com)

jatimnow.com - Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi tidak merasa bangga meski Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tertinggi di Jawa Timur dengan angka 82,74. Menurutnya, masih banyak persoalan di Surabaya yang harus segera diselesaikan.

“Sebenarnya IPM itu penilaian. Buat saya, masih harus diperbaiki lebih baik lagi. Karena IPM juga dilihat dari lamanya satu orang menempuh jalur pendidikan,” kata Eri, Senin (21/11/2022).

Eri menyadari, meski IPM Surabaya tertinggi di Jatim, masih ada persoalan dalam dunia pendidikan. Ia mencontohkan, adanya pelajar SMA sederajat yang terkendala biaya sekolah.

“Sampai hari ini, adik-adik kita, anak-anak kita yang SMA, masih ada yang tidak bisa ikut ujian karena tidak bisa bayar SPP. SMP juga ada yang belum bisa ambil ijazahnya. Ini yang harus kita kebut (tuntaskan),” ujar dia.

Ke depan, Eri berkomitmen, persoalan pendidikan ini dapat diselesaikan. Dengan demikian, ia berharap IPM Surabaya lebih tinggi dari 82,74. Untuk hal tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya pun membutuhkan keterlibatan semua elemen.

Baca juga:
Struktur Ekonomi Jatim Sanggup Tekan Angka Pengangguran

“Di situlah pemerintah tidak bisa berdiri sendiri. Karena ketika semua elemen ini bergerak, maka kita tahu kekurangan-kekurangan dan kelemahan kita,” imbuhnya.

Data yang dirilis BPS Jatim pada 15 November lalu mencatat IPM Kota Surabaya 82,74. Angka ini lebih baik dari tahun 2021 yang tercatat menjadi 82,31. 

Baca juga:
Pulihnya Sektor Perdagangan Tekan Pengangguran di Jatim

Nilai IPM tersebut menunjukkan bahwa kualitas pembangunan manusia di Kota Surabaya berada pada kelompok status kategori Sangat Tinggi (IPM ≥ 80). 

Berdasar catatan BPS Jatim, variabel IPM bukan semata-mata pendidikan. Tapi dibentuk berdasarkan tiga dimensi dasar yang meliputi umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, serta standar layak hidup