Pixel Code jatimnow.com

Pria di Jombang Raup Cuan Jutaan Rupiah dari Budi daya Aglaonema

Editor : Rochman Arief Reporter : Elok Aprianto
Abdul Syukur (65) warga Dusun Payaksantren, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro yang membudidayakan tanaman aglonema.(foto: Elok Aprianto/jatimow.com)
Abdul Syukur (65) warga Dusun Payaksantren, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro yang membudidayakan tanaman aglonema.(foto: Elok Aprianto/jatimow.com)

jatimnow.com - Tanaman aglaonema menjadi salah satu bintang di dunia tanaman hias. Banyak warga yang memburunya, karena corak daunnya yang indah dan motifnya yang bervariasi.

Tak hanya itu, tanaman ini sangat ngetrend sejak pandemi covid-19. Hal ini membuat Abdul Syukur (65) warga Dusun Payaksantren, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, membudidayakan tanaman indah ini.

Ditemui di rumahnya ia mengaku sudah lama berkecimpung di dunia tanaman hias. Dan di halaman depan rumah maupun belakang rumahnya penuh dengan berbagai jenis aglaonema. Hasilnya, ia meraup cuan jutaan rupiah.

“Ada sekitar 40 jenis yang saya budidayakan. Mulai jenis yang harganya murah hingga yang mahal,” ujarnya, Selasa (22/11/2022).

Pembudidayakan tanaman ini, awalnya dikarenakan ia hobi berkebun. Namun, karena tanaman aglonema ini sangat menjanjikan dan harganya menggiurkan. Ia tak segan memutuskan fokus menanam tanaman dengan nama lain chinese evergreen ini.

Abdul Syukur menujukkan jenis red anjani yang paling banyak diburu. (foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)Abdul Syukur menujukkan jenis red anjani yang paling banyak diburu. (foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)

“Bunga aglaonema ini sempat booming pada 2020 lalu, saat masih diberlakukan PPKM. Jadi masyarakat lebih banyak aktivitas di rumah dibandingkan diluar. Sehingga banyak memilih untuk menanam aglaonema,” paparnya.

Ia mengaku ada banyak jenis aglonema koleksi yang dikembangkannya, mulai dari harga puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Kebun miliknya ,belum termasuk jenis tanaman hias lain yang memiliki warna dan bentuk beragam.

Ia menyebut, tanaman yang bisa dijadikan bahan budidaya umumnya berumur lebih dari satu tahun. Caranya dengan memotong batang sesuai kebutuhan.

“Cara ini dianggap lebih cepat. Meski sebenarnya ada cara lain, yaitu dengan menunggu tanaman hias bertunas. Tapi cara ini lebih lama,” paparnya.

Bukan tanpa risiko. Teknik cacah potong batang ini ia harus siap jika ada batang yang tidak bisa tumbuh maksimal. Begitu pun ketika sudah bertunas.

“Belum lagi kendala lain yang dihadapi seperti serangan hama tanaman. Kalau hama cabuk masih aman. Nah, yang gawat itu kalau kena jamur, bisa busuk dan mati,” terangnya.

Ia menjelaskan ada dua tempat yang biasanya ia gunakan untuk menampung tanaman hias. Yakni di area display dan area pembudidayaan.

Selama ini ia cukup menggunakan paranet untuk membuat suasana penyimpanan tanaman hias ini adem bagi pengunjung. Lebih dari itu, paranet juga berfungsi untuk memunculkan warna tanaman.

“Sebetulnya untuk melindungi dari sengatan matahari. Nah, kerapatan paranet ini disesuaikan dengan jenis tanaman di bawahnya. Jadi setiap tanaman itu memiliki kebutuhan panas berbeda,” katanya.

Ia mengaku dari berbagai jenis aglonema yang ditanam, jenis red anjamani yang paling diburu, lantaran harganya cukup mahal. Karena mempunyai warna merah mencolok.

“Kalau sehari tidak tentu, yang jelas masih puluhan pot bisa terjual. Omzet bisa mencapai Rp15 juta per bulan,” pungkasnya.