Pixel Code jatimnow.com

Wow! 4 Pantai di Tulungagung Ditetapkan Jadi Kawasan Ekosistem Esensial

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Bramanta Pamungkas
Pantai Sanggar Tulungagung (Foto: Instagram @aristantodeni)
Pantai Sanggar Tulungagung (Foto: Instagram @aristantodeni)

jatimnow.com - Empat pantai di Tulungagung ditetapkan sebagai Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) oleh Gubernur Jawa Timur.

Penetapan ini dilakukan untuk menjaga ekosistem penyu di pantai tersebut. Keempat pantai ini adalah Pantai Sanggar, Ngalur, Patok Gebang dan Jung Pakis. Kawasan yang disebut Galur Pakis ini semuanya terletak di Desa Jengglungharjo, Kecamatan Tanggunggunung.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tulungagung, Makrus Manan mengatakan, pada akhir Tahun 2022 lalu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa telah mengeluarkan SK KEE untuk empat pantai tersebut.

Usulan KEE tersebut sudah diajukan sejak Tahun 2020 lalu. Namun surat keputusannya baru turun akhir Tahun 2022. Kawasan Galur Pakis ini kerap dijadikan tempat penyu mendarat dan bertelur.

"Dengan ditetapkan sebagai KEE Galur Pakis, diharapkan bisa menjaga ekosistem dan kelestarian penyu di Tulungagung," ujar Makrus, Selasa (3/1/2022).

Sekertaris DLH Tulungagung, Makrus Manan (Foto: Bramanta Pamungkas/jatimnow.com)Sekertaris DLH Tulungagung, Makrus Manan (Foto: Bramanta Pamungkas/jatimnow.com)

Luasan KEE Galur Pakis ini mencapai 260 hektar. Kawasan tersebut meliputi pantai dan hutan. Selain menjaga kelestarian penyu, penetapan KEE ini juga menjaga kelestarian hewan yang berada di hutan. Aneka satwa masih ditemukan di hutan tersebut.

"Kalau di hutan sekitaran wilayah tersebut, juga masih banyak burung-burung serta kijang. Bahkan di pantai itu, masih sering lumba-lumba ditemukan berenang oleh nelayan," tutur Makrus.

Sebelum ditetapkan KEE Galur Pakis, sudah ada kelompok masyarakat yang bergerak dalam konservasi penyu. Mereka sudah melakukan konservasi sejak 2015. Selama ini sejumlah penyu bertelur di Pantai Patok Gebang pada Juli hingga September. Adapun jenis penyu yang sering mendarat adalah penyu hijau.

"Dulu saya pernah mendapatkan laporan ada 20 ekor penyu yang mendarat untuk bertelur di wilayah itu. Hal ini menunjukan bahwa wilayah itu masih alami dan ekosistemnya masih sangat terjaga," pungkasnya.