Pixel Codejatimnow.com

Santri Gadungan Jual Kalender Ponpes Bodong: 5 Hari di Kediri, Untung Jutaan

Editor : Zaki Zubaidi  Reporter : Yanuar Dedy
Suasana mediasi di Balai Desa Tugurejo. (Foto : Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Suasana mediasi di Balai Desa Tugurejo. (Foto : Yanuar Dedy/jatimnow.com)

jatimnow.com - Kasus dugaan penipuan oleh santri gadungan yang menjual kalender 2023 pondok pesantren (ponpes) bodong di Desa Tugurejo, Kabupaten Kediri masih terus didalami pihak desa dan kepolisian.

Pagi ini, pengurus Musala Nurul Musthofa, Sragen yang dicatut oleh santri gadungan ini didatangkan ke Balai Desa Tugurejo untuk memperjelas duduk perkara ini.

Sebelumnya, Pemerintah Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri mengamankan delapan orang yang diduga melakukan penipuan dengan modus menjual kalender 2023 atas nama pondok pesantren di Sragen. Satu di antaranya sopir.

Mereka mengenakan sarung dan kopyah layaknya santri pondok pesantren dan menawarkan kalender itu dari rumah ke rumah di Desa Tugurejo.

Saat diamankan, satu di antara mereka yang juga sempat datang ke rumah Kepala Desa Tugurejo, Agung Witanto, memberikan identitas dan keterangan yang berubah-ubah.

Saat dikroscek, Agung memastikan tidak ada pondok pesantren yang dimaksud dalam kalender itu. Hanya benar, ada musala dan ruangan-ruangan kosong.

“Saya bisa pastikan itu bukan pondok karena di sana tidak ada pondok putra-putrinya. Tiga pilar sudah memastikan juga dengan menghubungi langsung ke sana. Yang ada hanya musala dan ruangan-ruangan. Kemarin ditunjukkan juga videonya," kata Agung, Rabu (1/2/2023).

Aksi ini, lanjut Agung sudah dijalankan santri gadungan asal Demak itu di Kediri selama 5 hari. Keuntungannya mencapai jutaan.

Mereka membawa sekitar 1.000 kalender yang dijual dengan harga Rp25.000. Rinciannya, Rp6.000 untuk biaya cetak, Rp19.000 keuntungannya dibagi Rp12.000 untuk penjual dan Rp7.000 untuk koordinator lapangan.

Berdasarkan pemeriksaan awal, 5 hari di Kediri, mereka sudah menjual sekitar 500 kalender. Jika ditotal, keuntungan mereka mencapai Rp9.500.000. Jumlah itu dipotong biaya sewa hotel dan mobil yang dibayarkan dari fee penjual. Kemarin saat diamankan, masih ada tumpukan kalender yang jumlahnya banyak.

Baca juga:
2 WNA Diamankan Imigrasi Blitar Gegara Galang Dana Berkedok Bantuan Palestina

"Mereka menginap di hotel, ada di daerah kota dan menyewa mobil Sigra untuk jualan di Kediri," jelas Agung.

Yang meresahkan, mereka ada unsur pemaksaan setiap menjual kalender ini ke warga. Menurut Agung ada beberapa warga melaporkan soal aksi yang sama. Jika tidak dibeli, mereka meminta amal jariyah.

Lebih jauh, aksi ini sudah dilakukan para santri gadungan tersebut sekitar 3 tahun. Hanya saja pihaknya diduga juga tidak mengetahui soal keberadaan pondok tersebut. Mereka hanya pekerja.

Namun, Agung memastikan memang ada kerja sama antara musala Nurul Musthofa dan pihak penjual kalender. Untuk membantu donasi melalui cara ini. Namun nyatanya, nominal yang diberikan ke pihak musala hanya sedikit.

Mereka juga menambahkan keterangan palsu berupa pondok pesantren putra-putri yang bodong dan foto-foto bangunan lain di dalam kalender.

Baca juga:
Oknum Satpol PP Surabaya Dipecat Gegara Penipuan, Begini Modusnya

“Jadi memang mereka ini pernah ada omongan ke musala yang dimaksud. Tapi dari keterangan pihak sana yang ditasarufkan (diberikan) ke musala hanya sedikit saja, keuntungan besarnya dipakai sendiri," terangnya.

Saat ini pihak desa dan Nurul Musthofa masih berdialog terkait kasus ini.

“Kami mengimbau untuk warga Desa Tugurejo dan umumnya Kabupaten Kediri mohon hati-hati bilamana ada penjual kalender atau meminta bantuan apapun agar cermat. Kalau memang betul-betul monggo silakan. Tapi pastikan dulu,” tandasnya.