Pixel Codejatimnow.com

Melihat Tradisi Clorotan di Jombang, Dilakukan Jelang Musim Tanam Padi

Editor : Rochman Arief  Reporter : Elok Aprianto
Kue clorot yang wajib ada saat tradisi clorotan diadakan jelang musim tanam padi di Desa/Kecamatan Bareng, Jombang. (foto: ELok Aprianto/jatimnow.com)
Kue clorot yang wajib ada saat tradisi clorotan diadakan jelang musim tanam padi di Desa/Kecamatan Bareng, Jombang. (foto: ELok Aprianto/jatimnow.com)

jatimnow.com - Warga di Dusun Banjarsari, Desa/Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang memiliki budaya yang sangat tinggi jelang musim tanam padi. Salah satunya adalah tradisi clorotan. Memang tradisi ini sedikit kurang didengar warga di luar Jombang. Yuk kita ketahui.

Clorotan merupakan kegiatan yang diadakan setiap musim tanam padi tiba. Tradisi ini dilakukan di makam dusun setempat, yakani dengan memanjatkan doa di makam para leluhur.

Selain itu, warga yang memanjatkan doa diwajibkan membawa tumpeng, yang dipenuhi dengan jajanan atau penganan tradisional.

Beberapa makanan tradisional itu wajib ada di dalam tumpeng seperti kue pasung, clorot, apem, hingga jajanan brondong dan jajanan pasar lainnya.

Lewi (71) salah satu tokoh masyarakat setempat menjelaskan, tradisi clorotan adalah tradisi turun temurun dari nenek moyang. Tradisi ini digelar setiap tahun ketika memasuki musim tanam padi.

Tradisi clorotan yang diadakan di makam Dusun Banjarsari, Desa Bareng, Kecamatan Bareng Jombang. (Elok APrianto/jatimnow.com)Tradisi clorotan yang diadakan di makam Dusun Banjarsari, Desa Bareng, Kecamatan Bareng Jombang. (Elok APrianto/jatimnow.com)

Dalam tradisi itu, warga menggelar doa bersama yang dipimpin seorang sesepuh. Selain itu, sebagai bentuk rasa syukur, warga memang diharuskan membawa aneka kue dalam sebuah tumpeng.

"Setelah memanjatkan doa dalam bahasa Jawa, kue yang dibawa ditukar sesama warga, untuk dibawa pulang. Yang paling khas, adalah kue clorot," katanya, Sabtu (11/2/2023).

Ia menjelaskan kue clorot ini memiliki tekstur putih lembut dan terbuat dari tepung beras yang dibungkus janur. Kemudian ada kue pasung yang juga terbuat dari tepung beras berisi gula jawa yang dibungkus dari daun nangka muda.

Baca juga:
Budaya Jimpitan Sapu Jagad di Gedangan Sidoarjo, 30 Persen untuk Kebencanaan

"Ada juga brondong jajan pasar yang terbuat dari jagung. Tiga jajanan itu adalah gambaran dari bencana, misalnya kue clorot adalah simbol dari kilat, brondong adalah simbol dari guntur dan kue pasung simbol pembelenggu agar bencana-bencana tidak mengenai warga," paparnya.

Ia menyebut, tradisi clorotan ini dilakukan sejak zaman dahulu. Bahkan diturunkan dari generasi ke generasi selanjutnya.

Dusun Banjarsari, Desa/Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang menunjukkan cara mengonsumsi kue clorot. (foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)Dusun Banjarsari, Desa/Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang menunjukkan cara mengonsumsi kue clorot. (foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)

"Tradisi ini sudah ada sejak saya masih sekolah SR atau tahun 1951, tradisi ini sudah ada," ujarnya.

Baca juga:
Tentang Hari Raya Kuningan dan Nyepi, Ini Kata Yuk Cilik Budaya Sidoarjo 2024

Ia mengatakan, tradisi ini rutin digelar setiap tahun dengan tujuan untuk memohon berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan harapan petani yang hendak menanam padi diberikan keselamatan dan keberkahan.

"Karena kalau di sawah itu kan banyak petir, guntur dan bledek. Harapan kami diberikan keselamatan dan hasil panen yang melimpah," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dusun Banjarsari, Siswanto (42) mengatakan tradisi clorotan ini dilakukan secara rutin setiap tahun. Ia menjelaskan warganya mayoritas memiliki mata pencaharian sebagai petani.

"Tradisini kami harapkan agar panen bisa melimpah, dan dijauhkan dari bencana. Untuk itu, kami mengadakan tradisi clorotan setiap tahun," pungkasnya.