Pixel Codejatimnow.com

Kiat Pengrajin Kayu Kota Batu Bertahan Digempur Produk Plastik Impor

Editor : Zaki Zubaidi  Reporter : Achmad Titan
Pengrajin kayu di Kota Batu. (Foto: Galih Rakasiwi/jatimnow.com)
Pengrajin kayu di Kota Batu. (Foto: Galih Rakasiwi/jatimnow.com)

jatimnow.com - Jumlah UMKM pengrajin kayu di Kota Batu menyisahkan hanya 35 usaha saja. Mereka juga terpusat di Dusun Rejoso, Desa Junrejo. Setiap tahun jumlah pengrajin terus merosot.

Koordinator UMKM setempat, Sukirno (55) mengatakan, sekitar tahun 2010 lalu, jumlah UMKM di wilayahnya mencapai 90 usaha. Menurutnya, jumlah usaha yang terus menurun hampir setiap tahun disebabkan beberapa hal.

"Mulai tahun 1960, masyarakat sini sudah membuat peralatan dapur seperti cobek, entong, talenan dan lainnya. Tapi yang bertahan, mereka yang bisa beradaptasi dengan pasar, artinya ini terkait inovasi," katanya, Sabtu (25/2/2023).

Seperti usaha kriya kayu miliknya yang tidak hanya memproduksi peralatan dapur saja. Tetapi, usahanya yang sudah berdiri sejak 1997 itu juga menerima pesanan sesuai kebutuhan konsumen.

"Kemajuan teknologi, banyak barang-barang impor masuk, seperti dari Tiongkok, itu peralatan dapur bisa berganti dari kayu ke plastik, dan jumlahnya banyak, murah. Kalau kita bertahan di alat dapur, pasarnya sudah kalah, maka harus berinovasi," katanya.

Baca juga:
5 Desa Wisata di Kota Batu Masuk 500 Besar ADWI 2024

Kini, usahanya rata-rata bisa mengerjakan 500 produk kriya kayu dalam waktu seminggu. Hasil produk inovasinya seperti kotak tisu, kotak perhiasan, tempat piring, tempat pisau, tempat pajangan produk, asbak dan lainnya.

Harganya mulai dari puluhan hingga ratusan ribu rupiah. Saat ini, Sukirno memiliki 25 pegawai yang membantu usahanya itu.

"Pesanan itu biasanya dari pengusaha, perhotelan, ada yang dari Jawa Timur, Jakarta, Bali, ini ada yang lagi pesan tempat untuk display produk dari Tiongkok," katanya.

Baca juga:
Pemkot Batu Kebut Renovasi Stadion Gelora Brantas, Siapkan Rp328 Juta

Lebih lanjut, saat ini selain sektor kriya, di Dusun Rejoso juga terdapat sekitar 50 persen dari usaha yang ada bergerak dalam olahan makanan dan minuman. Selain itu, di wilayah tersebut juga menjadi wisata edukasi kriya.

"Sebulan ada saja yang datang, tiga sampai empat kali, yang datang rombongan biasanya," tutupnya.