Pixel Code jatimnow.com

Atasi Sampah Kota Batu, Desa Oro-Oro Ombo Mulai Skema Pilah dari Sumber

Editor : Bramanta   Reporter : Ali Masduki
Desa Oro-Oro Ombo Kota Batu memulai program Zero Waste Cities. Melalui Analisis Sampah (AKSA), 50 rumah tangga belajar memilah sampah organik dan residu. (Foto: Ecoton/jatimnow.com)
Desa Oro-Oro Ombo Kota Batu memulai program Zero Waste Cities. Melalui Analisis Sampah (AKSA), 50 rumah tangga belajar memilah sampah organik dan residu. (Foto: Ecoton/jatimnow.com)

jatimnow.com - Skema pengelolaan sampah di Kota Batu mulai bergeser ke arah yang lebih presisi. Tidak lagi sekadar angkut-buang, sebanyak 50 rumah tangga di RW 05 Desa Oro-Oro Ombo kini menjadi garda depan dalam program Zero Waste Cities.

Warga diajak memilah sampah langsung dari dapur mereka untuk memetakan solusi jangka panjang masalah lingkungan di kota wisata ini.

Langkah awal ini dimulai dengan kegiatan Analisis Sampah (AKSA). Selama delapan hari, relawan dari tiap rumah menyerahkan sampah harian mereka yang sudah terbagi dalam tiga kategori. Yakni organik, daur ulang, dan residu.

Koordinator Program, Titik Setyowati, menjelaskan bahwa pengumpulan data ini krusial sebelum menerapkan sistem yang lebih besar.

"Kami ingin melihat profil sampah warga secara nyata. Sebanyak 50 rumah tangga terlibat memberikan sampah terpilah untuk kami timbang setiap hari sesuai jenisnya," ujar Titik saat ditemui di lokasi, Kamis (12/2/2026).

Menurut Titik, yang juga memimpin TPS3R Jalibar Berseri, metode ini merupakan ruang edukasi tatap muka langsung ke pintu rumah warga.

Jika pemilahan di tingkat rumah tangga sudah berjalan konsisten, beban kerja petugas di tempat pengolahan (TPS3R) akan berkurang drastis.

Salah satu warga, Supriaten (52), mengaku tidak keberatan dengan pola baru ini. Baginya, memilah sampah adalah masalah pembiasaan.

Baca juga:
Dukung Pengelolaan Sampah di Jember, Satib Serahkan Bantuan Kendaraan Roda Tiga

"Sebenarnya tidak sulit, yang penting konsisten. Saya sudah terbiasa memisahkan botol untuk didonasikan agar tidak campur baur dengan kotoran lain," ungkapnya.

Sampah yang terkumpul kemudian dibedah lebih spesifik menjadi 40 kategori. Hal ini dilakukan untuk menemukan jenis sampah apa yang sebenarnya paling banyak dihasilkan oleh masyarakat Oro-Oro Ombo.

Project Manager Zero Waste Cities ECOTON, Tonis Afrianto, menegaskan bahwa kebijakan sampah tidak boleh lahir dari asumsi.

"Membangun sistem itu ada hitungannya. Jika data menunjukkan sampah organik paling mendominasi, maka solusinya adalah membangun rumah kompos atau instalasi biogas di tingkat RT/RW," kata Tonis.

Baca juga:
Wali Kota Kediri Belajar Pengelolaan Sampah di TPA Winongo Madiun

Ia menambahkan, pengelolaan sampah organik di sumber akan mencegah penumpukan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menyambut baik inisiatif ini. Eni Maulidiyah, fungsional bidang persampahan DLH Kota Batu, menyebutkan bahwa pemerintah telah menyiapkan infrastruktur pendukung untuk menyerap sampah organik warga.

"Sepanjang 2025, kami sudah mendirikan 16 titik Rumah Kompos (RuKom) di penjuru kota. Ini adalah komitmen kami untuk menuntaskan masalah sampah dari akarnya. Kami sangat berharap masyarakat semakin disiplin memilah agar rumah kompos ini berfungsi maksimal," jelas Eni.

Nantinya, hasil dari riset AKSA di Desa Oro-Oro Ombo akan menjadi dasar penyusunan rencana induk (Masterplan) pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan untuk Kota Batu.