Pixel Codejatimnow.com

Potret Kerukunan Antar-Perguruan Silat di Banyuwangi, Bagi Takjil dan Dongkrak Ekonomi

Editor : Rochman Arief  Reporter : Eko Purwanto
Pesilat dari berbagai latar perguruan membagikan menu buka puasa di Jalan Simpang Tiga, Desa Kebaman, Kecamatan Srono, Banyuwangi. (foto: Eko Purwanto/jatimnow.com)
Pesilat dari berbagai latar perguruan membagikan menu buka puasa di Jalan Simpang Tiga, Desa Kebaman, Kecamatan Srono, Banyuwangi. (foto: Eko Purwanto/jatimnow.com)

jatimnow.com - Perguruan silat di Jawa Timur kerap menjadi sorotan dalam beberapa tahun terakhir. Sebab kisruh antarperguruan kerap menimbulkan perselisihan dan tak jarang membawa korban.

Momen bulan Ramadan di Banyuwangi menjadi pembeda. Terdapat delapan perguruan silat kondang turun ke jalan. Kedelapan perguruan itu terlihat membagikan menu berbuka atau takjil di Jalan Simpang Tiga Srono, Kecamatan Srono.

Delapan perguruan itu terdiri atas Pagar Nusa, PSHW, PSHT, IKSPI Kera Sakti, Tapak Suci, Pamur, Persinas ASAD dan Persaudaraan Rasa Tunggal, terlihat membagikan takjil Sabtu (15/4/2023). Berdasar informasi, kedelapan perguruan itu merogoh kocek masing-masing untuk dibelikan konsumsi menu takjil.

"Kita kumpulkan iuran dari kantong pribadi. Setelah iuranya terkumpul, dibelikan takjil di para pedagang sekitar lokasi," ujar Koordinator Paguyuban Kampung Pesilat Srono, Rizki Alfian Restiawan.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini tidak sekadar merajut harmonisasi antarperguruan. Bagi takjil antarperguruan ini diharapkan menggenjot perekonomian, karena menu takjil berasal dari UMKM lokal.

Paguyuban Kampung Pesilat Srono ingin memberi kesan sosial bagi warga. (foto: Eko Purwanto/jatimnow.com)Paguyuban Kampung Pesilat Srono ingin memberi kesan sosial bagi warga. (foto: Eko Purwanto/jatimnow.com)

Di samping itu, kata Alfian, turut menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa pencak silat tidak melulu identik dengan bela diri, namun juga sosial kemasyarakatan.

"Kalau dulu mungkin pesilat dikenal sebagai sosok yang menakutkan. Kami berusaha hadir saat dibutuhkan masyarakat," ujarnya.

Baca juga:
Pelatih Silat di Tulungagung Divonis Ringan, Jauh dari Tuntutan

Ditambahkan olehnya, bersama seluruh anggota di dalam Paguyuban Kampung Pesilat Srono, sepakat untuk membangun pencak silat cinta damai. Hal yang paling mendasar adalah menciptakan kerukunan, keguyuban, tanpa ada gesekan antaranggota perguruan silat.

Keberadaan sejumlah pesilat yang bagi-bagi takjil di tepi jalan itu sempat mengagetkan pengguna jalan.

Tak sedikit warga yang mengira anggota pesilat dari berbagai latar belakang perguruan itu akan adu kekuatan. Namun ketika mendekat sejumlah pesilat menenteng menu takjil, kemudian membagikan kepada pengguna jalan.

Terdapa delapan perguruan silat membagikan takjil bersama di Kecematan Srono, Banyuwangi. (foto: Eko Purwanto/jatimnow.com)Terdapa delapan perguruan silat membagikan takjil bersama di Kecematan Srono, Banyuwangi. (foto: Eko Purwanto/jatimnow.com)

Baca juga:
Atlet Denny Aprisani Soroti Aksi Pengeroyokan Oknum Pesilat di Tuban

"Sempat kaget. Saya kira mau ada apa (adu kekuatan), ternyata bawa takjil. Mendekatlah saya biar kebagian," ungkap Prianto (30), pengguna jalan yang melintas saat ditanya jatimnow.com.

Rasa kaget juga menghinggapi Rianti (23) pengguna jalan lain. Sempa dikiranya para pesilat itu akan atraksi di pinggir jalan. Perasaannya sama dengan Rianto yang menduga akan ada tawuran antaranggota perguruan silat.

Sebagai informasi, Paguyuban Kampung Pesilat Srono merupakan wadah perkumpulan untuk perguruan silat di Kecamatan Srono, Banyuwangi.

Dalam paguyuban itu terdapat delapan anggota perguruan silat. Mereka dibina Forum Pimpinan Kecamatan, yang terdiri atas kapolsek, danramil dan Camat Srono.