Pixel Code jatimnow.com

Panduan Wisata Sejarah Kota Kediri: Dari Pecinan hingga Robin Hood di Puncak Maskumambang

Editor : Endang Pergiwati   Reporter : Yanuar Dedy
Gereja Merah (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Gereja Merah (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)

jatimnow.com – Tidak banyak orang yang mengetahui Kota Kediri memilki destinasi wisata sejarah yang sangat menarik.

Berikut panduan wisata sejarah di Kota Kediri bila anda ingin menjelajahi spot bersejarah di kota ini. Seperti Klenteng Tjoe Hwie Kiong, sebagai pusat kawasan pecinan, atau juga menengok kuburan Robin Hood Tanah Jawa di puncak perbukitan Maskumambang.

Yang menarik, panduan wisata sejarah di Kota Kediri bisa dijangkau hanya dalam satu hari dengan akses yang mudah.

1. Klenteng Tjoe Hwie Kiong

Klenteng Tjoe Hwie Kiong.(Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)Klenteng Tjoe Hwie Kiong.(Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)

Pertama kalian bisa mengunjungi Klenteng Tjoe Hwie Kiong. Salah satu bangunan dilindungi di kawasan pecinan Kota Kediri. Memiliki sejarah panjang dengan usia yang mencapai 206 tahun.

Meski begitu, ada sejarah yang ‘hilang’ tentang berdirinya klenteng di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Pakelan, Kota Kediri ini, yakni sosok pendirinya. Banjir besar di tahun 1955 yang merendam bangunan klenteng menghilangkan seluruh dokumen termasuk catatan sejarahnya.

Namun, klenteng tetap menarik dengan cerita para sesepuh, yang menyebut bahwa klenteng dibangun oleh seorang perantau dari Tiongkok yang masuk jalur perdagangan Sungai Brantas.

Saat itu dia mendirikan tempat sederhana untuk berdoa dengan meletakkan Dewi Samudra atau Tian Shang Sheng Mu di tempat ia berdoa di sisi Sungai Brantas. Saat ini, sudah ada 17 patung disana.

Yang menarik lagi, persis di depan bangunan utama ada patung besar. Patung Dewi Mak Co yang menghadap Sungai Brantas ini memiliki tinggi sekitar 5 meter dan berat 18 ton.

Dibangun sejak 2013, patung ini diklaim yang paling tinggi di Jawa Timur dengan batu asli dari Cina.

2. Gereja Merah

Gereja Merah ini berada di Bundaran Sekartaji, Kecamatan Mojoroto. Di sana menyimpan Kitab Injil kuno berusia ratusan tahun.

Gereja Merah ini sebenarnya memiliki nama asli Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel. Dari catatan prasasti di sana, Gereja Merah diresmikan pada 21 desember 1904 oleh pendeta Dominus J.A.Broers.

Dominus J.A.Broers adalah pendeta asal Belanda yang diutus pemerintahan Hindia-Belanda mengajarkan agama Protestan di Kota Tahu. Baru pada tahun 1948, gereja ini diserahkan pemerintah Belanda kepada pengurus gereja asli pribumi.

Nama Gereja Merah kemudian digunakan pada sekitar tahun 1996 setelah seorang pendeta kala itu memutuskan merubah warna gereja dari putih gading ke warna merah. Hingga kini warna tersebut dipertahankan sebagai ciri khas gereja yang masuk dalam cagar budaya ini.

Arsitektur gereja merah ini sangat khas dengan gaya era kolonial Belanda. Punya pintu dan jendela yang masih asli terbuat dari kayu jati dan bangunan yang terbuat dari batu bata. Kaca, mimbar, kursi dan lemari di Gereja Merah atau GPIB Immanuel ini juga masih belum mengalami perubahan. Semua masih asli.

3. Jembatan Lama

Baca juga:
Museum di Surabaya Buka Malam Selama 2 Hari, Catat Waktu dan Harga Tiketnya Rek!

Jembatan Lama (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)Jembatan Lama (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)

Yang ikonik dari Kota Tahu, ada Jembatan Lama karya arsitek Sytze Westerbaan Muurling, dengan nama asli Brug Over den Brantas te Kediri yang tahun ini berumur 154 tahun.

Dibangun Belanda sejak Tahun 1855 dan diresmikan serta dibuka untuk umum pada 18 Maret 1869, jembatan yang membelah Sungai Brantas Kota Kediri tersebut lebih tua daripada Jembatan Brooklyn di Amerika Serikat karya insinyur John Augustus Roebling yang berdiri pada Tahun 1883.

4. Goa Selomangleng

Goa Selomangleng merupakan pertapaan Dewi Kilisuci. Dewi Kilisuci, putri dari Mahkota Raja Erlangga yang menolak tahta kerajaan yang diwariskan kepadanya dan lebih menjauhkan diri dari kehidupan dunia dengan bertapa di Goa berbahan batu Andesit itu.

Sebelum memasuki goa yang cukup gelap dengan aroma dupa yang menyengat, ragam relief menarik menyambut di sepanjang dinding Goa. Meski terkesan mistis, namun goa ini cukup eksotik dengan ukiran-ukiran yang menghiasi dinding di tiga ruangannya.

5. Museum Airlangga

Masih di kawasan yang sama, kalian bisa mengunjungi Museum Airlangga. Ada jejak sejarah Kediri yang bisa dilihat di sana dengan adanya berbagai arca batu serta berbagai peninggalan dari zaman kejayaan Mataram Hindu.

Koleksi Museum Airlangga berasal dari penampungan benda cagar budaya di Alun-alun Kediri, jumlahnya mencapai 100 koleksi.

Baca juga:
Sepinya Wisata Kampung Heritage Kayutangan Kota Malang

6. Makam Robin Hood Tanah Jawa

Sebagai penutup, kalian bisa mengunjungi makam Mbah Boncolono, salah satu tokoh legenda di Kota Kediri. Berdasarkan cerita yang berkembang dan diyakini masyarakat, dia selalu mendermakan hartanya yang didapat dari kolonial Belanda untuk diberikan kepada rakyat miskin.

Karena itu masyarakat menyebutnya Maling Gentiri. Versi lain, Mbah Boncolono disebut sebagai Robin Hood dari Tanah Jawa.

Makam Robin Hood Tanah Jawa ini ada di puncak perbukitan Maskumambang, tak jauh dari kawasan Selomangleng, Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto.

Tidak ada yang memberikan keterangan pasti, pada tahun berapa Mbah Boncolono tewas di tangan Belanda. Dalam cerita rakyat, Mbah Boncolono tewas terbunuh dengan kepala terpenggal. Selanjutnya, tubuh dan kepalanya dimakamkan secara terpisah. Sebab, jika tidak, ia dipercaya akan hidup kembali karena kesaktiannya.

Di area perbukitan Maskumambang, adalah bagian tubuhnya, sementara bagian kepalanya dimakamkan di lingkungan Ringin Sirah, belakang Kediri Mall. Selain Mbah Boncolono, di Astana Boncolono ini ada dua makam lain, adalah jasad Tumenggung Mojoroto dan Poncolono.

Tak mudah sampai di pemakaman ini. Meski bukan lagi tanah terjal bebatuan, namun setidaknya tetap butuh perjuangan untuk menaiki 470an anak tangga sebagai jalur satu-satunya. Cukup tegak menanjak dan berkelok.

Suasananya sejuk khas perbukitan, aroma harum semerbak di area makam. Bonusnya, kalian bisa melihat indahnya Kota Kediri dari ketinggian ini.

Selain wisata di atas, wisata sejarah lain juga ada di pusat Kota Kediri. Ada bangunan heritage Bank Indonesia dan makam Mbah Wasil di Jalan Dhoho.

SPTP: Arus Peti Kemas Semester 1 Tahun 2024 Tumbuh 6 Persen
Ekonomi

SPTP: Arus Peti Kemas Semester 1 Tahun 2024 Tumbuh 6 Persen

"Peti kemas internasional tumbuh sekitar 5,76 persen jika dibandingkan dengan semester 1 tahun 2023 dan peti kemas domestik tumbuh sekitar 6 persen jika dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya,” jelas Widyaswendra.