Pixel Codejatimnow.com

Mengapa Harga Bitcoin Stagnan?

Editor : Zaki Zubaidi  
Ilustrasi/jatimnow.com
Ilustrasi/jatimnow.com

jatimnow.com - Beberapa waktu terakhir harga Bitcoin tampak seperti berada dalam keadaan diam. Namun, sebenarnya ada petanda menarik yang mengisyaratkan perubahan besar dalam perjalanannya.

Pada hari Rabu (16/8/2023), harga Bitcoin (BTC) menurun di bawah angka US$ 29.300. Jika dilihat dalam beberapa minggu terakhir, Bitcoin sepertinya terjebak dalam wilayah pergerakan yang sangat terbatas.

Secara umum, pasar tampaknya tak bergerak, dengan harga BTC bergerak di kisaran antara US$ 28.500 hingga US$ 30.000 sejak 24 Juli.

Menurut Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, ketenangan ini dalam pergerakan harga Bitcoin sejalan dengan penurunan volatilitas tahunan yang teramati dalam transaksi perdagangan. Rata-rata volatilitas tahunan Bitcoin dalam kurun waktu 30 hari, terlihat menurun ke titik terendah dalam tujuh tahun terakhir.

"Glassnode melihat pada tanggal 14 Agustus, angkanya mencapai 48,51%, ini merupakan angka terendah dari nilai volatilitas Bitcoin. Sementara itu, volume perdagangan Bitcoin dalam 30 hari terakhir juga menurun ke titik terendahnya sejak Januari 2023 hanya mencapai US$ 16,7 miliar," jelas Fyqieh.

Sentimen Bitcoin

Fyqieh menjelaskan harga Bitcoin yang sideways, ditambah dengan penurunan volume perdagangan, sebenarnya mencerminkan adanya ketidakpastian jangka pendek di antara para pelaku pasar, baik investor dan trader.

Dengan kata lain, banyak investor Bitcoin merasa ragu-ragu mengenai arah perjalanan aset kripto ini. Tentu saja, ada banyak faktor pasar yang perlu mereka pertimbangkan.

"Salah satu faktor yang berdampak adalah harapan terkait persetujuan ETF Bitcoin di Amerika Serikat. Antisipasi mengenai hal ini sebenarnya telah membantu menjaga harga Bitcoin tetap di atas level pendukung, yaitu US$ 28.500, sejak bulan Juli. Di sisi lain, kekhawatiran bahwa The Fed akan terus meningkatkan suku bunga dalam waktu dekat juga telah mengalihkan minat investor ke arah dolar AS," ujarnya.

Baca juga:
Sinyal Kuat Bitcoin Bersiap Meroket ke Rp1,22 Miliar di Juni, Benarkah?

Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur nilai dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, sebenarnya sudah pulih sebesar 3,5% dari level terendahnya pada bulan Juli. Ini terjadi sejalan dengan penurunan harga Bitcoin dari puncak lokalnya di kisaran US$ 31.800.

Arah Pergerakan Bitcoin

Secara teknis, Bitcoin tampaknya siap untuk melakukan pergerakan yang signifikan dalam beberapa minggu mendatang. Pergerakan ini bisa berarti melewati batas tertentu atau bahkan penurunan besar-besaran.

Fyqieh memperkirakan bahwa Bitcoin kemungkinan akan mengalami retest penurunan hingga kisaran level US$ 28.900 atau sekitar Rp 442 juta. Salah satu indikator baru yang mengisyaratkan potensi pergerakan besar ini adalah Bollinger Bands Bitcoin.

Bollinger Bands merupakan alat analisis teknikal yang digunakan untuk memprediksi tren suatu pasar. Ketika Bollinger Bands menyempit, ini sering diikuti oleh peningkatan volatilitas yang kuat.

Baca juga:
Thailand Setujui ETF Bitcoin Spot Pertama, Peluang Besar bagi Indonesia

"Hal ini bisa membuat Bitcoin keluar dari kisaran harga antara US$ 29.000 hingga US$ 30.000. Mungkin kita akan menguji kisaran US$ 28.700 hingga US$ 29.000. Jika level dasar telah tercapai, seharusnya harga bisa bertahan. Meskipun begitu, perlu dicatat bahwa Bollinger Bands bukanlah alat untuk memprediksi tren, dan tidak bisa mengindikasikan arah pergerakan Bitcoin secara pasti," jelas Fyqieh.

Secara jangka pendek, tampak bahwa Bitcoin akan mengalami sideways hingga builan September mendatang. Dari sanalah, menjalankan strategi dollar-cost averaging (DCA) yang tepat untuk memperoleh potensi keuntungan dalam jangka panjang bisa menjadi pilihan yang bijak.

Metode dollar-cost averaging melibatkan pembelian Bitcoin dalam jumlah tetap secara berkala, tanpa memperhatikan fluktuasi harian harga. Dengan melakukan ini, dapat mengurangi dampak volatilitas pasar terhadap investasi.

"Ingatlah bahwa pasar kripto sangatlah dinamis dan bisa sangat tidak stabil. Oleh karena itu, selalu pertimbangkan tingkat risiko yang siap tanggung sebelum berinvestasi. Jika memiliki tujuan jangka panjang dan bersedia untuk menghadapi fluktuasi pasar, maka strategi DCA bisa menjadi alat yang bermanfaat dalam membangun portofolio Bitcoin Anda seiring waktu," tutup Fyqieh.