Pixel Codejatimnow.com

Soal Santri Diikat dan Dibanting, Ponpes Lamongan: Motifnya Bercanda

Editor : Endang Pergiwati  Reporter : Adyad Ammy Iffansah
Pengurus Ponpes Matoliul Anwar, Desa Sungelebak, Kecamatan Karanggeneng, Lamongan. (Foto : Adyad Ammy Iffansah/jatimnow.com)
Pengurus Ponpes Matoliul Anwar, Desa Sungelebak, Kecamatan Karanggeneng, Lamongan. (Foto : Adyad Ammy Iffansah/jatimnow.com)

jatimnow.com - Pihak Pondok Pesantren (Ponpes) Matoliul Anwar buka suara terkait dugaan penganiayaan yang menimpa santrinya AKA (13).

Salah satu pengurus ponpes, Abdduloh Faqih menyebut bila menurut hasil pendalaman pihak pondok terkait dugaan penganiayaan ialah murni tidak ada unsur kesengajaan.

"Kalau saya melihat motifnya apa. Setelah kejadian itu santri yang bersangkutan sudah dipanggil dan tidak ada unsur ingin menganiaya, dan bermula candaan," ujar Gus Faqih yang juga Kepala Asrama pria dan program Tahfidz, Ponpes Matoliul Anwar, Minggu (12/5/2025).

Dijelaskan Gus Faqih, bila saat kejadian Minggu (5/5/2024) pukul 21.00 WIB ketika itu dilakukan rutinan setor hafalan dan sambil menunggu waktu urut setoran, ketiga teman korban itu kemudian berniat bercanda dengan mengikat tangan dan kaki korban.

"Waktu itu korban rebahan terus 3 orang temannya ingin memindahkan dengan niat bercanda, namun korban seketika berontak dan 3 temannya yang mengangkat korban tak bisa menjaga tubuh korban dan akhirnya terjatuh dengan kepala membentur lantai," ujar Gus Faqih.

Faqih melanjutkan, bahwa dari awal niat, membanting dan melempar itu tidak ada. Bahkan, beber Faqih, berita yang mengabarkan korban pingsan itu tidak benar.

Baca juga:
Santri di Lamongan Diikat Lalu Dibanting Sampai Pingsan

"Korban tidak pingsan, bahkan setelah itu korban masih berjalan dari lantai 4 kamar Tahfidz menuju unit kesehatan pondok. Setelah itu korban juga baik-baik saja," lanjutnya.

Adapun asrama yang ditempati korban dan 3 rekannya itu adalah tempat khusus Tahfid Al-Quran, tempat khusus itu memiliki pengawasan ketat berfasilitas eksekutif.

"Pondok itu, santri-santrinya suka bercanda. Padahal di kamar khusus Tahfidz sudah ada pengawasnya bahkan ada 2 Ustadz," bebernya.

Baca juga:
Tersangka Penganiayaan Santri di Bangkalan Bertambah, Polisi Tahan 11 Pelaku

Hingga saat ini, pihak Ponpes mencoba menyelesaikan persoalan ini dengan jalan kekeluargaan, namun tetap menghormati segala proses hukum.

"Sesepuh minta kekeluargaan tapi pihak keluarga korban maunya proses hukum, maka kami bersedia mematuhi dan menghormati proses yang ada. Beberapa kali sudah ada pertemuan," paparnya.