Pixel Codejatimnow.com

Ponorogo Masuk Musim Pancaroba, Waspada Krisis Air hingga Kebakaran

Editor : Edwin Fajerial  Reporter : Mita Kusuma
Ponorogo
Ponorogo

jatimnow.com - Kondisi udara di Ponorogo sangat menyengat dalam seminggu terakhir.

Maklum saja, suhu udara di luar ruangan siang hari jika dicek dengan termometer mencapai 35 derajat Celcius.

Panas tersebut dirasakan mulai pukul 11.00 WIB sampai 15.00 WIB. Namun, malam akan berubah menjadi dingin sekali.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo, Setyo Budiono menjelaskan perubahan suhu tersebut pertanda memasuki musim pancaroba.

"Kalau kami menyebutnya pancaroba," katanya kepada jatimnow.com, Senin (24/9/2018).

Ia mengaku, hal itu sesuai dengan perkiraan cuaca yang dibagikan oleh Badan Metrologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kepada BPBD.

Dalam prakiraan itu, musim kemarau akan berlangsung hingga akhir September.

"Itu cuma prediksi. Bisa mbleset ya. Tapi dari perubahan cuaca itu diperkirakan curah hujan turun di awal Oktober dengan intensitas rendah," ujarnya

Baca juga:
Ini Penyebab LPG 3 Kg Susah Didapat di Ponorogo

Budi mengatakan, perubahan suhu panas yang menyengat tersebut disertai angin yang bertiup cukup kencang pada malam harinya.

Ia membeberkan kemarau tahun ini terjadi lebih panjang dibanding tahun sebelumnya.

"Rawan krisis air bersih, rawan kebakaran, dan tentunya juga untuk kesehatan,’’ lanjut Budi

Sementara, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sapto Djatmiko, mengatakan, meningkatnya suhu udara yang disebabkan polusi udara dari kendaraan bermotor masih dalam ambang normal.

Baca juga:
Warga Ponorogo Sambat Susah Cari LPG 3 Kg, Harga Juga Naik

Ia menyebut polusi asap yang bersumber dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berpengaruh cukup besar terhadap meningkatkan suhu udara.

"Sekarang musim kemarau panjang, faktor alam dapat menjadi penyebab kebakaran hutan. Polusi asap yang disebabkan dari situ lebih cepat meningkatkan suhu udara," imbuhnya.

Pihaknya berharap warga turut serta menanam pohon di area pekarangan rumah dan persawahan. Hal itu dapat membantu mengurangi suhu udara panas yang menyengat.

"Paling tidak minimal satu rumah satu pohon. Kalau tidak memiliki pekarangan? Teknik hidroponik solusinya,’’ ungkapnya.