Pixel Code jatimnow.com

Stop Ingkari Janji! Ini Cara Jitu Ajarkan Konsep Janji pada Anak Usia Dini

Editor : Ali Masduki   Reporter : Ali Masduki
Konsep menjanjikan sesuatu pada anak pada dasarnya merupakan hal yang baik karena dapat membantu anak belajar mengenai kepercayaan dan tanggung jawab. (Foto: Ilustrasi/Gemini Generated Image)
Konsep menjanjikan sesuatu pada anak pada dasarnya merupakan hal yang baik karena dapat membantu anak belajar mengenai kepercayaan dan tanggung jawab. (Foto: Ilustrasi/Gemini Generated Image)

jatimnow.com - Praktik berjanji sering kali digunakan orang tua sebagai solusi cepat untuk menenangkan atau memotivasi anak. Namun, pendidik mengingatkan pentingnya memahami bagaimana anak usia dini memandang konsep janji.

Konsistensi orang tua dalam menepati janji menjadi kunci dalam membangun nilai kepercayaan dan tanggung jawab anak sejak dini.

Pendidik Rumah Main Cikal Lebak Bulus, Zati Dillah Putri, menjelaskan bahwa anak usia dini memiliki cara berpikir yang masih sangat konkret, sehingga mereka belum mampu memaknai alasan di balik perubahan situasi atau penundaan sebuah janji.

"Pada anak usia dini, mulai mengenal konsep 'janji' sebagai ucapan yang berarti sesuatu akan terjadi nanti. Karena pada usia ini, mereka masih berpikir mengenai suatu hal secara 'konkret' belum secara abstrak,” kata Zati Dillah Putri.

Menurut Zati, konsep menjanjikan sesuatu pada anak pada dasarnya merupakan hal yang baik karena dapat membantu anak belajar mengenai kepercayaan dan tanggung jawab.

Namun, ia memberikan peringatan keras mengenai risiko jika janji digunakan secara tidak tepat. Konsep menjanjikan sesuatu pada anak dapat menjadi hal yang baik bila dilakukan secara jujur, konsisten, dan realistis karena membantu anak belajar tentang kepercayaan dan tanggung jawab.

Baca juga:
Tips Baca Buku Seru untuk Anak ala Rumah Main Cikal, Dijamin Ketagihan!

"Namun, jika digunakan berlebihan, tidak ditepati, atau manipulatif, justru dapat merusak kepercayaan dan nilai moral anak,” jelasnya.

Intinya, janji yang tidak ditepati oleh orang tua tidak hanya menimbulkan kekecewaan, tetapi juga merusak fondasi moral dan kepercayaan anak terhadap orang dewasa yang seharusnya menjadi panutan.

Untuk menumbuhkan pemahaman yang benar tentang arti janji, Zati menyarankan agar orang tua dan guru menggunakan metode yang dekat dengan dunia anak, yaitu melalui kegiatan bermain.

Baca juga:
IGABA Surabaya Rayakan Milad ke-28, Dorong Kemandirian dan Generasi Hebat

Ia merekomendasikan dua pendekatan utama. Pertama, bermain peran (Role-playing). Anak dapat bermain peran dengan tema sehari-hari, seperti situasi bertukar mainan, giliran bermain, atau menyelesaikan tugas bersama. Dalam situasi ini, orang dewasa dapat menekankan pentingnya janji atau kesepakatan yang dibuat oleh anak-anak dalam peran tersebut.

Kedua, storytelling (bercerita). Cerita dengan tokoh yang menepati atau mengingkari janji bisa digunakan sebagai contoh nyata. Guru atau orang tua dapat mendorong anak untuk mengidentifikasi perilaku tokoh, menanyakan perasaan tokoh lain yang terpengaruh, dan membahas konsekuensi dari tindakan menepati atau mengingkari janji.

“Untuk menumbuhkan pemahaman anak tentang arti janji, seperti bermain peran. Selain bermain peran, mengajarkan tentang janji dapat dilakukan dengan storytelling," tutup Zati. Ia menegaskan bahwa belajar terbaik pada usia dini adalah melalui interaksi yang menyenangkan dan relevan.