Pixel Code jatimnow.com

Update Semeru: Status Awas, Masyarakat Diminta Patuhi Radius Aman

Editor : Ali Masduki   Reporter : Ali Masduki
Pemerintah Provinsi Jawa Timur bergerak cepat melakukan upaya penanganan darurat pasca erupsi Gunung Semeru terutama di wilayah Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. (Foto/Tangkapan Layar IG@khofifah.ip)
Pemerintah Provinsi Jawa Timur bergerak cepat melakukan upaya penanganan darurat pasca erupsi Gunung Semeru terutama di wilayah Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. (Foto/Tangkapan Layar [email protected])

jatimnow.com - Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Jawa Timur masih tinggi. Erupsi yang terjadi sejak 19 November 2025 lalu terus menunjukkan peningkatan, dengan awan panas guguran mencapai 13,8 km ke arah Besuk Kobokan.

Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Geologi Kementerian ESDM (Nomor 151/GL.03/BGL/2025), status Gunung Semeru tetap pada Level IV (Awas). Hal ini dikarenakan aktivitas kegempaan yang masih tinggi, dengan amplitudo maksimum 47 mm dan durasi gempa mencapai 4 jam.

"Status Awas ini masih berlaku hingga saat ini. Kami mengimbau masyarakat untuk terus waspada dan mematuhi semua rekomendasi yang telah dikeluarkan," ujar Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, melalui siaran tertulis, Senin (24/11).

Dari hasil pemantauan visual pada 23-24 November 2025, terlihat asap kawah berwarna putih dengan ketinggian 500-1000 meter. Selain itu, tercatat 14 kali letusan dengan asap putih kelabu setinggi 300-700 meter ke arah tenggara.

Baca juga:
Menakar Nyali, Menepis Hoaks: Seni Bertahan Hidup di Negeri Cincin Api

Data kegempaan juga menunjukkan peningkatan aktivitas, dengan 224 gempa letusan, 18 gempa guguran, dan 22 gempa hembusan. Yang lebih mengkhawatirkan, getaran lahar terekam dua kali, menandakan potensi aliran lahar di Besuk Kobokan.

Lana Saria kembali menegaskan rekomendasi zona bahaya. Masyarakat dilarang beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 20 km dari puncak.

Baca juga:
Para Penjaga Cincin Api: 9 Jantung Bumi yang Tak Pernah Tidur

"Radius 8 km dari kawah/puncak juga sangat berbahaya karena rawan lontaran batu pijar. Selain itu, masyarakat harus menghindari aktivitas di tepi sungai (sempadan sungai) sepanjang Besuk Kobokan dalam radius 500 meter," tegasnya.

Badan Geologi terus mengimbau masyarakat untuk update Semeru dengan memantau informasi resmi dari website dan media sosial Badan Geologi, serta aplikasi Magma Indonesia.